Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Muhammad Ichsan

http://ichsannotes.blogspot.com/

Patriotisme Cinta Bangsa dalam Lagu-lagu Perjuangan

REP | 07 August 2012 | 06:58 Dibaca: 1816   Komentar: 3   0

Bagi bangsa Indonesia, bulan Agustus begitu sakral. Keramatnya bulan ini tentu berhubungan dengan suatu peristiwa bersejarah yang penting, yakni peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dimana-mana tampak berkibar umbul-umbul dua warna. Berbagai ukuran bendera merah putih, mulai dari yang besar dan berbahan kain terpasang di tiang menjulang, sampai yang kecil terbuat dari plastik berderetan dipasang dalam tali yang terentang dari ujung ke ujung. Kendaraan bermotor pun tak ketinggalan, juga dihiasi bendera dwi warna pula. Jalanan, gapura dan gedung-gedung perkantoran berdandan meriah menebarkan ruh patriotisme.

Beralih pada saat pelaksanaan upacara peringatan yang kita ikuti baik secara langsung mau pun sekadar menyaksikannya dari layar kaca televisi, kita merasakan aliran semangat kebangsaan. Bahkan, keharuan juga terasa ketika kita merenungi betapa besarnya pengorbanan para pahlawan demi mencapai kemerdekaan yang sedang kita peringati. Kemudian berganti dengan rasa bangga, manakala kita seperti disadarkan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan menyatakan dengan berani kedaulatan mutlak melalui serangkaian perjuangan hidup-mati, bukan merdeka karena pemberian yang didasarkan atas rasa belas kasihan kaum penjajah. Begitulah kesan yang kita rasakan mengenai nuansa patriotik pada bulan Agustus saat memperingati hari kemerdekaan.

Selain itu, selama momen peringatan kemerdekaan tersebut, kita kerapkali mendengar lagu-lagu perjuangan yang penuh pancaran semangat cinta tanah air. Ambillah sebagai contoh lagu Hari Merdeka dan Syukur hasil gubahan komponis Husein Mutahar. Lagu-lagu ini sering dibawakan oleh kelompok aubade setelah upacara pokok peringatan selesai. Lalu,  bersambung lagi dinyanyikan bersama lagu-lagu karya komponis besar lainnya, seperti Indonesia Pusaka gubahan Ismail Marzuki. Diteruskan berganti-gantian sederetan lagu perjuangan lainnya pun turut digemakan.

Saat mendengarkan sebuah lagu perjuangan, adakah Anda tertarik menyelidiki bagaimana lagu tersebut mampu mengobarkan semangat cinta tanah air? Bagaimana bisa Anda sampai tersentuh oleh romantisnya perjuangan demi keutuhan negara dan bangsa yang terkandung dalam lantunan nada pujian dan patriotik sebuah lagu perjuangan? Baiklah mari kita cermati lagu-lagu perjuangan tersebut, kita selidiki lirik-liriknya guna menemukan peristiwa dan pesan tersirat yang terkandung, juga melihat latar belakang historis apa saja yang tengah dimuatnya sehingga bisa membuat kita hanyut dalam perasaan patriotik. Simak lirik lagu perjuangan berikut ini:

Hari Merdeka

Karya HUSEIN MUTAHAR

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Parafrasa Bebas:

Hari Merdeka

Sudah saatnya kini kita semua bersuka-cita. Wahai, semua anak bangsa Indonesia.. Sambutlah masa gemilang ini. Tiada lagi penindasan dan penjajahan karena hari ini pada tanggal tujuh belas Agustus tahun empat lima, sebagai bangsa yang besar kita berani menyatakan dengan gagah berani : itulah hari kemerdekaan kita! Inilah puncak perjuangan kita. Titik kemenangan tertinggi karena ridho dari Ilahi, merahmati kita semua dengan hari merdeka bagi nusa dan bangsa. Inilah hari lahirnya bangsa Indonesia, bangsa besar yang berjuang dengan segenap jiwa dan raga membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan yang sebelumnya dialami. Mari pekikkan dengan lantang: merdeka!

Mari serukan tekad kita: sekali merdeka tetap merdeka! Itu berarti kita semua telah mengucapkan janji bahwa Indonesia akan selalu kita bela selama hayat masih dikandung badan. Kita tetap setia dan kita harus tetap sedia untuk mempertahankan Indonesia dari segala ancaman yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia, mengembalikan cengkeram kuku penjajahan dalam bentuk apa pun menghunjam Bumi Pertiwi. Kita tetap setia dan kita harus tetap sedia berkorban jiwa-raga demi membela negara kita.

Rasakanlah dalam lagu ”Hari Merdeka” suatu semangat patriotik dan keteguhan sikap, ketetapan hati untuk membaktikan diri demi nusa dan bangsa. Hayatilah betapa kuat dan teguh hati para pahlawan yang mengantarkan kita semua pada alam kemerdekaan saat ini. Pesan yang tersirat dalam lagu perjuangan ini adalah kewajiban kita semua sebagai anak bangsa Indonesia untuk mencintai tanah air, mempertahankan kedaulatan negara, dan juga mensuyukuri rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita dengan kemerdekaan yang telah kita perjuangkan bersama. Tentu saja ini semua membutuhkan tekad yang mesti diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata ─ kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan dan membela negara kita.

Sekarang mari kita simak lagu perjuangan berikutnya. Lagu ini tercipta juga berasal dari tangan dingin komponis besar Husein Mutahar. Kali ini agak bernada romantis dan relijius karena mengungkapkan rasa syukur yang dalam atas berkat dan rahmat Tuhan kepada kita bangsa Indonesia, yakni ”Tanah Air Indonesia.” Lagu pujian kepada tanah air (ode) ini berjudul ”Syukur”.

Syukur

Karya HUSEIN MUTAHAR

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karunia-Mu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadirat-Mu, Tuhan

Parafrasa Bebas:

Syukur

Tuhan, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin menghaturkan terima kasihku kepada-Mu. Tiada karunia yang terbesar selain daripada pemberian-Mu ini: Indonesia tumpah darahku. Aku percaya dari yakinku yang teguh. Dengan segenap jiwa-ragaku, aku menerima dalam hatiku ikhlasku yang penuh bahwa aku lahir untuk menjaga tanah air pusaka. Tuhan, selamanya bumi Indonesia yang telah merdeka ini adalah negara dan bangsa besar yang selalu kucinta.

Wahai, Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah rasa syukur yang aku sembahkan kehadirat-Mu atas karunia terbesar ini: Tanah Air Pusaka, Indonesia Tumpah Darahku yang senantiasa kucinta. Terima kasih, Tuhan.

”Syukur” bisa juga dikatakan sebagai senandung puja-puji atau do’a bersama, mengekspresikan rasa terima kasih bangsa Indonesia yang tulus atas karunia Tuhan memberikan tanah air Indonesia. Kalau kita cermati tujuan dari lagu ”Syukur” tersebut diciptakan, sepertinya ode ini dimaksudkan sebagai pengakuan secara kolektif rakyat Indonesia bahwa hanya disebabkan atas kebesaran Tuhan dan kemurahan hati-Nya saja, bangsa Indonesia diberikan bumi pertiwi ini. Maka, ucapan syukur yang disembahkan kehadirat-Nya mesti senantiasa dilakukan semua anak bangsa Indonesia. Wah, terasa sekali nuansa relijius dan romansa cinta tanah air dalam lagu ini, bukan? Apalagi ketika kita telah memahami pesan implisitnya. Selanjutnya, mari kita simak dan cermati salah satu karya dari komponis Ismail Marzuki, ”Indonesia Pusaka”.

Indonesia Pusaka

Karya ISMAIL MARZUKI

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Reff :

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Parafrasa Bebas:

Indonesia Pusaka

Sungguh dengan hati yang hadir, mari serukan, kawan: ”Indonesia tanah air kita, tempat hidup beta dan kawan selamanya. Kawan, ingatlah, ini tanah tumpah darah kita yang kawan dan beta mesti cinta dengan segenap jiwa dan raga.”

Kawan, mari bersama-sama kita berjanji: ”Indonesia ini adalah tanah pusaka yang mana beta dan kawan mesti sama-sama jaga.”

Kawan, mari jangan lupa ini amanat dari pendiri bangsa kita: ”Eksistensi negara dan bangsa Indonesia akan abadi nan jaya karena kita yang selalu menjaga, siap mengorbankan segala yang kita punya.”

Sungguh dengan rasa bangga, mari serukan, kawan: ”Kejayaan Indonesia sudah gemilang sejak dulu kala. Kawan, berbanggalah kita akan kebesaran Indonesia yang tetap dipuja-puja bangsa.”

Kawan, katakan dengan kebesaran jiwa: ”Di sana, di tanah Indonesia tempat kita, beta dan kawan lahir.”

Katakan juga, kawan: ”Hanya di tanah pusaka Indonesia beta dan kawan dibuai, dibesarkan bunda sampai menjadi anak bangsa yang berguna. Maka, sudah menjadi janji teguh kita pula ketika kelak beta dan kawan telah menuju usia senja, mencari naungan tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata, beta dan kawan akan senantiasa mencintai Indonesia.”

Lagu pujian kepada tanah air karya komponis Ismail Marzuki ini jelas sekali mengekspresikan perasaan cinta tanah air (romansa nasionalisme). Baris demi baris lirik lagu tersebut menggambarkan dengan terang ”suatu pengakuan yang bangga” karena telah menjadi anak bangsa Indonesia ─ Indonesia tanah air beta. Kemudian, rasa bangga kian membesar ketika memahami bahwa secara historis Indonesia telah harum semerbak nama besarnya. Dalam konteks ini, sang komponis mengajak kita semua bercermin pada sejarah. Sejarah dunia mencatat yang kerajaan-kerajaan besar di Indonesia seperti Majapahit yang memiliki pengaruh dan wilayah kekuasaan luas, pernah bermain menentukan dinamika arah kehidupan masyarakat dunia. Komponis Ismail Marzuki mengartikulasikannya secara perlambangan sebagai: ”Pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa.” Selanjutnya, beliau pun kemudian ingin mengamanatkan  kepada kita agar tetap bangga sebagai anak bangsa Indonesia, yakni dengan berkomitmen menumbuhkan semangat dan jiwa nasionalis: ”Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata.”

Nah, kita telah sedikit memahami betapa semangat cinta tanah air begitu dalam terungkap dalam contoh lagu-lagu perjuangan buah karya para komponis besar tadi. Tentu saja masih banyak lagu-lagu patriotik lainnya yang juga mengekspresikan hal yang sama. Namun, yang terpenting untuk kita renungi dari ekspresi patriotisme yang terungkap dalam semua lagu perjuangan adalah pesan yang ingin disampaikannya. Sebagai anak bangsa besar Indonesia, sudahkah kita teguh dalam keyakinan untuk ”tetap setia dan sedia” membela negara kita? Seberapa kuatkah persatuan yang kita galang demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini? Apakah kita sudah bersyukur atas karunia Tuhan yang telah memerdekakan Indonesia? Apakah kita bersyukur atas pemberian-Nya kepada kita? Apakah telah kita jaga dengan semestinya tanah pusaka Indonesia yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa oleh para pahlawan, didirikan dengan susah payah oleh bapak pendiri bangsa? Apa benar sikap dan tindakan kita masih menyalakan semangat cinta tanah air Indonesia? Apakah dengan kesungguhan hati kita menyatakan bahwa Indonesia adalah tanah air beta?

Mari bersama kita jadikan Agustus dengan hari ketujuh-belasnya yang sakral ini sebagai momentum refleksi pembenahan sikap agar kecintaan kita terhadap tanah air benar-benar tulus dan murni adanya. Mari kuatkan persatuan dan singkirkan perbedaan hingga kita hanya menjadi ”satu tubuh”, yakni bangsa besar Indonesia. Sebab, sebagai ”tubuh yang berpadu utuh” kita hanya punya satu keinginan suci: menjaga eksistensi negara dan bangsa agar selalu abadi nan jaya sepanjang masa.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Ketika Guru Masih Bermental Plagiat, Apa …

Muhammad | | 17 September 2014 | 14:58

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 6 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 11 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Warga Cidolog Ciamis “Duga” …

Asep Rizal | 8 jam lalu

RUU Kelautan Masuk Pembahasan Tingkat I …

Bicara Laut | 8 jam lalu

Ternyata Kebiasaan Bohong Dapat Dicegah …

Rahmah Hayati | 8 jam lalu

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Peri Terasi …

Dewi Ari Ari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: