Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Manfaat Minta Maaf

REP | 03 August 2012 | 10:16 Dibaca: 533   Komentar: 12   3

Maafkan aku!
Sekitar 5th lalu, ketika pertama kali aku menginjakkan Hongkong, aku merasa terasing. Aku tidak paham adat istiadat disini, kebiasaannya,aturan-aturannya, dan aku tidak bisa langsung berkomunikasi dengan majikan ku. Dia hanya menggunakan isyarat untuk berbicara padaku. Dan membuat kita sering terjadi salah maksut.Aku sama sekali belum pernah punya pengalaman kerja. Majikan jengkel? Pasti. Majikan marah? Hampir setiap hari. Dan kalimat sakti yang selalu aku dengungkan adalah “toi em ci(minta maaf/sorry)”. Hebatnya, setiap kali ku ucapkan permintaan maaf kemarahan majikan ku sedikit reda. ” maafkan aku, lain kali tak akan ku ulangi lagi, aku akan bersungguh-sungguh belajar”. Kalimat seperti ini menjadi andalan ku.
Terkadang dia salah paham dan aku yang jadi sasaran. Marah lagi. Dan aku, tak perduli aku salah atau benar segera ku ucapkkan minta maaf. Pokoknya entah salah atau benar ucapan permintaan maaf dapat meluluhkan hati majikan.Majikan juga langsung diam. Memang untuk mendiamkan majikan tidak cukup hanya kata maaf, tapi juga disertai dengan usaha kita untuk kerja lebih baik. Dan ternyata setelah hampir setahun aku kerja dimajikan ini, aku bisa paham apa yang diinginkan majikan. Majikan jadi jinak dan tidak marah marah lagi. Setelah finis 2th aku memutuskan pindah majikan, karna majikan yang ini pekerjaannya terlalu banyak, membersihkan 2rumah, masak untuk 7orang setiap hari, dan tambahan cuci mobil.
Setelah itu ku mencari majikan baru di agent, dan alhamdulilah tak butuh waktu lama langsung ada majikan yang mengambilku. Memasuki majikan baru aku lumayan percaya diri dengan pengalaman ku 2th kerja dimajikan terdahulu. Apa lagi majikan yang ini aku tidak begitu banyak pekerjaan. Hanya mengasuh nenek yang masih sehat dan anaknya,membersihkan rumah, dan memasak.
Tapi ternyata aku salah, disini tidak sama dengan majikan dulu. Masakannya, cara menata rumahnya, semuanya berbeda. Aku juga tidak dipercaya memegang kunci rumah. Aku seperti raenkarnasi belajar dari awal lagi. Lagi-lagi apa yang ku kerjakan selalu salah. Semuanya serba salah, menata rumah salah, masakan ku salah, tidak ada yang sesuai dengan apa yang diharapkan majikan. Dan lagi-lagi kalimat sakti yang ku ucapkan adalah”maafkan aku, lain kali tak akan ku ulangi lagi, aku akan bersungguh-sungguh belajar”. Tak peduli aku salah atau benar aku selalu meminta maaf terlebih dahulu. Memang kalimat sakti ku sangat manjur. Tidak perlu merasa benar karna aku sadar keadaan ku, kalaupun aku jelaskan dia juga tak akan percaya padaku, cukup dengan meminta maaf majikan tahu kalau kita mengerti salah dan mau mengakui. Disamping itu aku terus belajar mencari tahu apa yang di harapkan dan diinginkan oleh majikan ku. Dan setelah hampir setahun kunci rumah diberikan padaku. Majikan mulai mempercayai ku.
Memang kita tidak perlu memaksa orang untuk langsung mempercayai kita. Cukup dengan kerja, biar mereka yang menilainya. Akhirnya kontrak 2th telah finis, dan majikan masih mau mengambil ku pun juga dengan aku. Dan sampai sekarang masih bekerja disini.

Ucapan maaf memang bisa membawa pengaruh sangat besar. Dengan ucapan maaf orang yang marah bisa turun amarahnya. Ucapan maaf juga tidak sulit untuk di ucapkan. Cukup dengan merasa bersalah ucapan maaf akan lancar keluar dari bibir kita. Tapi terkadang karna gengsi tinggi ucapan maaf jadi sulit untuk diucapkan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 7 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 15 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: