Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Fayakhun

Fayakhun Andriadi, Anggota Komisi I DPR RI 2009 - 2014. Pengusaha properti dan IT. Lahir selengkapnya

Surat Terbuka untuk Gubernur DKI Jakarta

REP | 01 August 2012 | 17:44 Dibaca: 193   Komentar: 3   5

Yth Gubernur DKI Jakarta, Bpk Fauzi Bowo.

Dalam berbagai kesempatan wawancara di media dan tatap muka dengan warga Jakarta, atau bahkan melalui papan-papan reklame yang bertebaran di wilayah Jakarta, dalam ribuan spanduk, hingga stiker yang memuat foto Anda, Anda melontarkan kalimat ‘serahkan pada ahlinya’, jargon yang menyasar kepada kepiawaian Anda dalam menyelesaikan tumpukan persoalan yang melilit Jakarta. Untuk itulah surat ini saya alamatkan.

Pak Gubernur, sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa di tahun 2007 menjelang Perhelatan akbar pesta demokrasi Pemilukada Jakarta, saya ikut mendukung Anda. Tentu saja sebagai warga Jakarta yang merasakan betul hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta, saya tak asal dalam menentukan pilihan. Bagi saya, Kota Jakarta harus dipimpin oleh orang yang betul-betul ahli, sekelas Ali Sadikin atau pun Bang Yos.

Saya ingat betul, Anda pernah berjanji akan menyelesaikan permasalahan di Jakarta, terutama kemacetan, banjir dan kemiskinan. Untuk mengatasi kemacetan tersebut, Anda bilang akan terus mengembangkan konsep transportasi makro seperti busway dan monorail. Merevisi Perda ketertiban umum dan Perda lainnya agar lebih berpihak kepada warga miskin. Sementara untuk banjir, Anda juga sempat mengatakan,“serahkan saja pada ahlinya”.

Dari sisi kompetensi akademik, gelar Doktor-Ingenieur dari Universitas Teknologi Kaiserlautern yang Anda sandang ini memang tampak menjanjikan. Pun demikian dari sisi penampilan, Kesan ‘gagah’ yang saya dapati dari Patung Elang Bondol yang mencengkram Salak Condet di perbatasan Jakarta-Bekasi seakan melekat pada Anda.

Sebagai warga Jakarta yang memimpikan sosok pemimpin yang gagah, berani dan mampu melakukan perubahan, pada 2007 itu saya betul-betul menyandarkan pengharapan akan DKI yang lebih baik dan modern pada anda. Hanya saja, dalam perjalanannya, lamat-lamat kesan itu semakin sirna. Saya tak mendapati sosok Anda yang aktif, kompeten dan tentu saja ahli dalam mengurusi kota Jakarta. Entah kenapa, kesan yang saya dapat dari sosok Anda saat ini malah sebaliknya. Apa yang dapat kita saksikan dari wajah DKI Jakarta sama sekali jauh dari apa yang dijanjikan. Bahkan boleh dikatakan, kondisi jakarta saat ini jauh lebih buruk dan semrawut dibanding sebelum anda jadi Gubernur.

Pak Gubernur. Diantara sekian banyak hal yang memperihatinkan, saya berharap anda berkenan memikirkan hal berikut secara serius sebagai bukti bahwa anda betul-betul punya perhatian dan kepedulian pada warga DKI Jakarta, terutama warga yang kurang beruntung. Hal-hal yang akan saya ungkapkan dibawah ini adalah pemandangan keseharian saya dalam perjalanan pagi berangkat menuju kantor dan sore/malam sepulang dari kantor menuju rumah.

Pertama, pengemis cilik di tengah kota. Sebuah pemandangan umum yang menurut saya tidak normal, tidak manusiawi, namun terlihat sepanjang hari : pengemis cilik. Sebuah ironi, di tengah hiruk pikuk kehidupan warga kota Jakarta yang seakan tak pernah lelah beradu nyali untuk menyasar paradigma peningkatan kualitas hidup, terlihat anak-anak kecil yang seharusnya melewatkan masa kanak-kanak yang indah, secara tidak manusiawi dipaksa oleh entah siapa, menjadi pengemis di banyak titik di kota, bahkan di pusat keramaian tengah-tengah kota, di depan obyek-obyek turisme, berusaha bertahan hidup, berusaha ikut menikmati kualitas hidup yang dihasilkan dengan mengemis. mengemis setiap hari, termasuk hari libur, hingga jam 12 malam, tidak peduli kondisi panas terik, gerimis, hingga hujan lebat, mereka terus di jalanan mengemis. Sungguh pemandangan yang sadis.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkesan melakukan pembiaran. Hujaman kritik paradigmatik terus mengalir, hanya saja Anda sebagai Gubernur DKI seakan-akan tidak menghiraukannya. Padahal, kebanyakan pengemis tersebut masih sangat belia, anak-anak di bawah umur. Masa–masa yang semestinya mereka habiskan untuk memaksimalkan tumbuh kembang fisik dan mentalnya, malah mereka gunakan untuk sekadar melantunkan lagu-lagu picisan di sudut-sudut kota demi mendapatkan belas kasihan berupa uang dari mobil-mobil yang berhenti di lampu lalu lintas, para penumpang angkutan umum atau pengendara sepeda motor yang tampak menyemut. Masa-masa dimana seharusnya mereka mendapat asupan gizi dan pengetahuan yang baik, bukan justru mendapati kerasnya kehidupan di jalanan ibu kota.

Pak Gubernur, di sisa masa jabatan anda sebagai Gubernur DKI Jakarta 2007-2012, saya rindu melihat tindakan nyata dan spektakuler anda anda menyelamatkan masa depan pengemis anak-anak di jalanan ibu kota. Sekiranya anda belum punya prestasi yang bisa dibanggakan hingga saat sekarang, berharaplah ini bisa menjadi prestasi monumental anda dan diingat selalu oleh warga DKI Jakarta.

Kedua, Joki 3 in 1. Saban hari, kecuali hari libur, joki 3 in 1 mengular di bahu-bahu jalan menjelang jalan protokol yang ditetapkan sebagai kawasan 3 in 1. Fenomena ini mempertontonkan kepada masyarakat betapa lemahnya wibawa Pemda DKI Jakarta. Atau, mungkin memang anda tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap kewibawaan itu.

Saya meyakini, Keputusan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 4104/2003 tanggal 23 Desember tahun 2003 tentang Penetapan Kawasan Pengendalian Lalu Lintas Dan Kewajiban Mengangkut Paling Sedikit 3 Orang Penumpang Perkendaraan Pada Ruas-Ruas Jalan Tertentu di Provinsi DKI Jakarta tertata rapih di Gedung Pemerintah DKI Jakarta, dan anda sebagai Gubernur pasti sangat tahu akan peraturan ini. Tapi kenapa anda tak mampu menangkap semangat dan substansi dari peraturan yang dikeluarkan oleh pendahulu anda tersebut. Anda membiarkan terjadinya kongkalingkong antara pemilik mobil dengan joki 3 in 1 dalam menyiasati peraturan yang telah dibuat sehingga tujuan dan semangat yang diusung oleh Perda tersebut tidak tercapai.

Pak Gubernur, saya rindu melihat tindakan nyata dan spektakuler anda membebaskan Jakarta dari persoalan 3 ini 1, minimal dalam waktu sisa jabatan ini. Lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

Persoalan ketiga, ketidaknyamanan dan ketidakamanan transportasi umum. Buruknya kondisi transportasi umum DKI Jakarta sungguh sangat memalukan: penumpang berdesakan sehingga rawan terjadi pencurian, pelecehan seksual, atau bahkan terjatuh dari bis umum; kondisi kendaraan yang tidak layak jalan; disiplin pengemudi yang sangat rendah; dan sebagainya.

Bahkan Busway, yang tadinya diharapkan menjadi primadona transportasi umum, semakin menunjukkan wajah ketidaknyamanan dan ketidak-amanan bagi penumpang. Tidak saja pada kondisi kendaraaan yang tidak dirawat secara baik –sehingga sering mogok di jalan, beberapa kali terjadi kebakaran bahkan pernah terjadi tepat di bundaran HI, sangat sangat memalukan — tetapi juga tidak adanya perhatian pada keselamatan penumpang. Tengoklah pintu-pintu shelter Busway yang fungsi buka tutup otomatisnya macet. Pintu shelter dibiarkan terbuka begitu saja. Di saat jam-jam kerja, penumpang bus Transjakarta membludak. Kalau mobilnya datang, mereka berebut. Ini bisa memicu kecelakaan. Karena buru-buru dan berebut, mereka bisa terjatuh. Tapi hal serawan ini seolah tidak dihiraukan sama sekali oleh Pemerintahan anda.

Kebijakan yang keliru mengenai transprtasi umum telah menimbulkan kemacetan yang membuat lalu lintas dan psikologis warga Jakarta makin semrawut. Alih-alih mengatasi kemacetan, aturan lalu lintas di DKI makin menunjukkan tingkat keparahan yang akut. Karena, masyarakat yang kebetulan mampu membeli mobil, ogah menggunakan jasa transportasi umum yang tidak nyaman sekaligus tidak nyaman.

Pak Gubernur, anda masih memiliki waktu beberapa bulan lagi untuk menunjukkan bahwa anda ahli dalam menyelesaikan persoalan ibukota Jakarta.

Keempat, fasilitas umum yang membahayakan keselamatan. Pak Gubernur, sesekali sempatkanlah diri mengitari jalanan ibukota secara santai, lihat detil demi detil. Maka saya yakin anda akan menyaksikan betapa banyak separator busway yang sudah rusak, jalanan yang berlobang. Tentu saya tidak harus jelaskan disini betapa bahaya kondisi demikian terhadap jiwa manusia. Dengan uang APBD DKI Jakarta yang berjumlah ratusan triliunan rupiah itu, maka biaya untuk memperbaiki jalanan berlobang dan separator busway tidak akan membebani anggaran sama sekali. Tinggal kemauan saja dari anda.

Kelima, hak-hak para pejalan kaki (pedestrian). Ibu kota DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anda semakin tidak nyaman bagi pejalan kaki. Hak-hak mereka tergerus oleh pembiaran yang dilakukan oleh Pemda DKI terhadap para pelanggar peraturan.

Kepada Bapak Gubernur DKI Jakarta, pejalan kaki (pedestrian) dan warga pengguna jalan pada umumnya, wajib mendapat perlindungan keamanan dan kenyamanan dari pemerintah. Itu bagian dari Hak Asasi mereka. Trotoar dan jembatan penyeberangan, adalah dua hal utama yang merupakan hak penuh para pejalan kaki. Di dua tempat ini seharusnya pedestrian berjalan dengan aman, nyaman, dan jauh dari rasa was-was. Akan tetapi, fakta keseharian malah menunjukkan hal sebaliknya. Alih-alih nyaman, para pejalan kaki setiap saat dan setiap detik merasa terancam keselamatannya ditabrak kendaraan umum, serta terganggu kenyamanannya berjalan karena serbuan para pedagang.

Sebagai Gubernur sudah pasti anda sangat mengetahui betapa fasilitas umum yang seyogyanya adalah hak para pejalan kaki itu, seperti Trotoar dan Jembatan penyeberangan, telah diserobot fungsinya oleh yang bukan berhak. Sepeda motor dengan seenaknya memanfaatkan trotoar layaknya jalan raya sehingga para pejalan kaki harus memasang radar kewaspadaan tingkat tinggi jika tidak ingin tertabrak atau bahkan nyawa melayang. Para pedagang dengan bebasnya menggelar lapak dagangannya sehingga ruas trotoar dan jembatan penyeberangan menjadi sempit untuk pejalan kaki, dan sebagainya.

Pak Gubernur, pelanggaran terhadap hak pejalan kaki ini sepertinya sepele. Tapi jika Anda renungi, sungguh ini sebuah pelanggaran luar biasa. Pertama, ini terkait dengan kebutuhan dasar manusia, yaitu rasa aman dari kecelakaan dan hilangnya nyawa. Pengabaian terhadap hal ini bisa dikategorikan pada pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Kedua, penyalahgunaan fungsi fasilitas umum oleh mereka yang tidak berhak setiap menit, setiap jam, saban hari tanpa ada tindakan dari penegak hukum. Dan mereka yang berhak atas fasilitas tersebut, yaitu pejalan kaki, tidak bisa berbuat apa-apa karena ketidak-pedulian dari aparat pemerintah.

Pak Gubernur. Tentu tidak ada salahnya jika Pemerintah DKI Jakarta yang Anda pimpin sibuk menyulap sebagian kawasan Jakarta menjadi kawasan elite, apartement dan pusat-pusat perbelanjaan modern,  mengurus pembangunan yang menguntungkan sebagian orang, dan berpotensi menambah kas daerah. Tetapi sebagai pemimpin daerah ibukota, seyogyanya perhatian terhadap warga yang kurang beruntung selayaknya anda pelihara juga, terutama lima poin yang menjadi sorotan saya tersebut.

Sekali lagi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Anda masih punya kesempatan meninggalkan hasil kerja positif buat warga DKI Jakarta.

Salam,
Fayakhun Andriadi, Wakil Rakyat Jakarta di DPR RI

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: