Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Aisana Rantika

mengharapkan perubahan karena meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang tidak berubah

Nasib Guru Sertifikasi

OPINI | 31 July 2012 | 18:44 Dibaca: 724   Komentar: 1   3

Akhir tahun ini nasib guru yang sudah menyandang predikat sertifikasi dipertaruhkan. Kompetensi mereka diuji. Tanggal 30 Jul 2012 sudah dimulai dan akan berakhir tanggal 12 Agustus 2012. Akan tetapi di hari pertama ujian yang digelar kemaren terdapat masalah, yaitu buruknya koneksi internet, sehingga ujian gelombang pertama ditunda sampai dengan tanggal 2 Oktober 2012. Artinya, bagi guru-guru yang tidak pernah mengenal teknolog alias gatek, masih ada waktu sekitar dua bulan lagi untuk belajar bagaimana cara mengoperasikan komputer lengkap dengan jaringan internetnya.

Beberapa guru yang sempat bergosip dengan saya, ada terlontar kata-kata pesimis. Umumnya dikarenakan mereka memang tidak memahami ilmu komputer, sedangkan ujian yang harus dihadapi adalah ujian onlne. Yang lebih parah lagi diantara mereka ada yang beranggapan negatif terhadap diadakannya ujian kompetensi guru tersebut.

1. Mereka menganggap bahwa karena alokasi dana yang selama ini sudah dianggarkan, sekarang sudah tidak ada lagi.

2. Akan berakhirnya masa kepemimpin bangsa yang oleh karena beliaulah sertifikasi ini bisa terselenggarakan, dan kalau beliau tidak memimpin lagi maka dikhawatirkan tidak ada dana. Dan nantinya pada saat pemilu menjelang, sertifikasi ini dapat dijual lagi untuk mengdongkrak suara si penggagas ide dari calon pemimpin yang baru.

Bagi yang berpandangan positif, mungkin karena mereka memiliki kemampuan dalam uji kompetensi yang digelar tersebut, beranggapan bahwa :

1. Agar guru yang menerima gaji sertifikasi adalah benar-benar guru yang memiliki kompetensi semua mata pelajaran, atau jelasnya lagi, guru-guru yang memang pintar. Tidak seperti sekarang ini semua guru, baik yang pintar maupun ang ala kadarnya menerima gaji sertifikasi. Padahal seorang guru belum tentu menguasai semua bidang studi, karena mereka umumnya spesialis pada satu atau dua mata pelajaran saja.

2. Mereka yang tinggal di kota menganggap kebutuhan mereka lebih besar daripada di desa, tapi sekarang ini tidak ada perbedaan malah yang di daerah terpencil menerima gaji lebih tinggi dari di kota.

Ini hanya opini saya dari beberapa guru yang mengeluh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 11 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 12 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: