Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Choiron

Pejuang kehidupan | Mencoba menebar manfaat bagi semua | http://choiron.info/ | 081703311567

Man Jadda Wajada Bukan Hadist

REP | 31 July 2012 | 09:08 Dibaca: 2627   Komentar: 23   9

Beberapa hari lalu, di sebuah TV logo merah, seorang ustad dari negeri antah berantah diundang oleh stasiun televisi tersebut. Beliau diundang untuk mengomentari kasus ‘ustad’ di Jawa Barat yang menjadi dalang  penggelapan dana milyaran rupiah.

Komentar awalnya justru lebih banyak menceritakan kisah pahit dan getir hidupnya saat berusaha kuliah sambil bekerja dengan segala usaha. Kisahnya mungkin cukup inspiratif walau tidak cukup nyambung dengan yang ditanyakan oleh pembawa acaranya.

Namun yang membuat saya tertegun adalah saat belia mengatakan ‘Man Jadda Wajada’ sebagai perkataan Rasulullah SAW untuk menguatkan ceritanya. Memang, mantra tersebut sesuai dengan kisah perjuangan yang ustad tersebut ceritakan. Bahwa barang siapa yang sungguh-sungguh, dia akan berhasil seperti dirinya yang akhirnya punya usaha dan boleh dikatakan sukses. Yang menjadi masalah adalah kalimat sakti tersebut bukan hadist, melainkan pepatah arab yang sudah cukup terkenal. Apalagi telah dipopulerkan oleh A. Fuadi dengan karya novel dan filmnyadengan judul yang sama dan  fenomel di tahun 2011 lalu.

Okelah, mungkin ustad tersebut khilaf. Namun mengetahui status sebuah kalimat apakah hadist atau bukan sangat penting. Ada banyak kalimat yang dari makna isinya (matan) bagus, namun statusnya bukan hadist. Salahsatunya yang sering dikutip oleh para penceramah adalah “Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang” atau dengan kalimat lain “Kami adalah orang – orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan kami tidak sampai kenyang.”  Kalimat tersebut bukan hadist dan merupakan perkataan seorang tabib (dokter) dari Timur Tengah.

Pengetahuan agama terutama Al-Quran dan Hadist saat ini bukan lagi domain ustad atau ustadzah. Semua orang Islam harus belajar dan mempelajari agamanya dan tidak boleh berkata “ah ini urusan pak Ustad dan Bu Ustad saja”. Karena semua amalan itu harus dilakukan dengan ilmu. Jadi ilmu agama hukumnya wajib untuk dipelajari walaupun tidak harus masuk pesantren, ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan pendidikan formal agama lainnya.

Sekali lagi ingat, “Man Jadda Wajada” itu bukan hadist ya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Soal 4 x 6, Saat Matematika SD Diperkosa …

Giri Lumakto | 11 jam lalu

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Pak Menteri, Tolong Hentikan Nyiksa Anak SD …

Prabu Bolodowo | 11 jam lalu

Tidak Lulus Skripsi, Mahasiswa Kampus X …

Lely Nur Azizah | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kutu pada Hewan Peliharaan?? Perlukah …

Dokterhewan Indo | 8 jam lalu

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | 8 jam lalu

Logika 4×6 = 6×4, Apa Bedanya …

Agung Budi Santoso | 8 jam lalu

Kurikulum 2013, Obat Manjur Bikin Anak …

Sinta Dewi R | 8 jam lalu

Smartfren Andromax C2, Teman Pintar yang Ga …

Rio Sitohang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: