Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Choiron

Pejuang kehidupan | Mencoba menebar manfaat bagi semua | http://choiron.info/ | 081703311567

Man Jadda Wajada Bukan Hadist

REP | 31 July 2012 | 09:08 Dibaca: 2585   Komentar: 23   9

Beberapa hari lalu, di sebuah TV logo merah, seorang ustad dari negeri antah berantah diundang oleh stasiun televisi tersebut. Beliau diundang untuk mengomentari kasus ‘ustad’ di Jawa Barat yang menjadi dalang  penggelapan dana milyaran rupiah.

Komentar awalnya justru lebih banyak menceritakan kisah pahit dan getir hidupnya saat berusaha kuliah sambil bekerja dengan segala usaha. Kisahnya mungkin cukup inspiratif walau tidak cukup nyambung dengan yang ditanyakan oleh pembawa acaranya.

Namun yang membuat saya tertegun adalah saat belia mengatakan ‘Man Jadda Wajada’ sebagai perkataan Rasulullah SAW untuk menguatkan ceritanya. Memang, mantra tersebut sesuai dengan kisah perjuangan yang ustad tersebut ceritakan. Bahwa barang siapa yang sungguh-sungguh, dia akan berhasil seperti dirinya yang akhirnya punya usaha dan boleh dikatakan sukses. Yang menjadi masalah adalah kalimat sakti tersebut bukan hadist, melainkan pepatah arab yang sudah cukup terkenal. Apalagi telah dipopulerkan oleh A. Fuadi dengan karya novel dan filmnyadengan judul yang sama dan  fenomel di tahun 2011 lalu.

Okelah, mungkin ustad tersebut khilaf. Namun mengetahui status sebuah kalimat apakah hadist atau bukan sangat penting. Ada banyak kalimat yang dari makna isinya (matan) bagus, namun statusnya bukan hadist. Salahsatunya yang sering dikutip oleh para penceramah adalah “Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang” atau dengan kalimat lain “Kami adalah orang – orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan kami tidak sampai kenyang.”  Kalimat tersebut bukan hadist dan merupakan perkataan seorang tabib (dokter) dari Timur Tengah.

Pengetahuan agama terutama Al-Quran dan Hadist saat ini bukan lagi domain ustad atau ustadzah. Semua orang Islam harus belajar dan mempelajari agamanya dan tidak boleh berkata “ah ini urusan pak Ustad dan Bu Ustad saja”. Karena semua amalan itu harus dilakukan dengan ilmu. Jadi ilmu agama hukumnya wajib untuk dipelajari walaupun tidak harus masuk pesantren, ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan pendidikan formal agama lainnya.

Sekali lagi ingat, “Man Jadda Wajada” itu bukan hadist ya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 6 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 9 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: