Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Choiron

Guru Ngaji. Tinggal di desa.

Man Jadda Wajada Bukan Hadist

REP | 31 July 2012 | 09:08 Dibaca: 2715   Komentar: 23   9

Beberapa hari lalu, di sebuah TV logo merah, seorang ustad dari negeri antah berantah diundang oleh stasiun televisi tersebut. Beliau diundang untuk mengomentari kasus ‘ustad’ di Jawa Barat yang menjadi dalang  penggelapan dana milyaran rupiah.

Komentar awalnya justru lebih banyak menceritakan kisah pahit dan getir hidupnya saat berusaha kuliah sambil bekerja dengan segala usaha. Kisahnya mungkin cukup inspiratif walau tidak cukup nyambung dengan yang ditanyakan oleh pembawa acaranya.

Namun yang membuat saya tertegun adalah saat belia mengatakan ‘Man Jadda Wajada’ sebagai perkataan Rasulullah SAW untuk menguatkan ceritanya. Memang, mantra tersebut sesuai dengan kisah perjuangan yang ustad tersebut ceritakan. Bahwa barang siapa yang sungguh-sungguh, dia akan berhasil seperti dirinya yang akhirnya punya usaha dan boleh dikatakan sukses. Yang menjadi masalah adalah kalimat sakti tersebut bukan hadist, melainkan pepatah arab yang sudah cukup terkenal. Apalagi telah dipopulerkan oleh A. Fuadi dengan karya novel dan filmnyadengan judul yang sama dan  fenomel di tahun 2011 lalu.

Okelah, mungkin ustad tersebut khilaf. Namun mengetahui status sebuah kalimat apakah hadist atau bukan sangat penting. Ada banyak kalimat yang dari makna isinya (matan) bagus, namun statusnya bukan hadist. Salahsatunya yang sering dikutip oleh para penceramah adalah “Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang” atau dengan kalimat lain “Kami adalah orang – orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan kami tidak sampai kenyang.”  Kalimat tersebut bukan hadist dan merupakan perkataan seorang tabib (dokter) dari Timur Tengah.

Pengetahuan agama terutama Al-Quran dan Hadist saat ini bukan lagi domain ustad atau ustadzah. Semua orang Islam harus belajar dan mempelajari agamanya dan tidak boleh berkata “ah ini urusan pak Ustad dan Bu Ustad saja”. Karena semua amalan itu harus dilakukan dengan ilmu. Jadi ilmu agama hukumnya wajib untuk dipelajari walaupun tidak harus masuk pesantren, ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan pendidikan formal agama lainnya.

Sekali lagi ingat, “Man Jadda Wajada” itu bukan hadist ya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Horor, Jenazah Anak Diajak Main Ayunan oleh …

Riana Dewie | | 24 May 2015 | 10:23

Hati-hati, Kita Bisa Turut Menyebarkan …

Christian Kelvianto | | 24 May 2015 | 14:39

[Blog Competition] Selfie Moment …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 17:04

Benteng Otanaha di Gorontalo …

Arief Setiawan | | 24 May 2015 | 15:12

Kirim Review Blogshop bersama JNE Anda dan …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:13


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar Senjata Jusuf Kalla, Petral …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Lecehkan Ras Sunda, Color Run Subang Dicekal …

Jadiah Upati | 6 jam lalu

Beras Platik: Teror untuk Siapa? …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Rekayasa Hadi, Negara Rugi 2 Triliun, KPK …

Imam Kodri | 13 jam lalu

Presiden Jokowi Menerima Gratifikasi Batu …

Gunawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: