Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Dedy Zulkifli

perpaduan tukang ojek dan foto keliling

Pelangi di Pulo Nasi

OPINI | 26 July 2012 | 23:15 Dibaca: 236   Komentar: 2   3

1343301046105010862

Pulo Nasi, Naggroe Aceh Darussalam (dok. pribadi)

Oleh: Dedy Zulkifli

Hidup semestinya harus berani. Berani berbuat, berani juga untuk kecewa. Dalam satu konteks, untuk mewujudkan keinginan-keinginan, semua itu harus dimulai. Jadi, beranilah untuk memulai. Hari ini saya ingin menyapa pundak kiri seorang kawan (pastinya dirasakan juga pada pundak kanan saya). Setelah mengobok-obok harddisk, akhirnya saya menemukan sebuah foto baik menurut saya. Sebuah gambar tentang pantai dan pelangi di satu tempat di seberang utara Pulau Sumatera, tepatnya, Pulo Nasi, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Bagi saya, pantai adalah sebuah simbol untuk memulai. Satu tempat yang sangat dekat dengan titik nol pada ketinggian, dimana dalam setiap melangkah kerap saya menjauhinya. Pantai juga bisa bermakna sunyi atau kosong. Seperti angin yang kerap saya rasakan ketika menyusuri pasir-pasir coklat keputihan di ujung batasnya pada air. Saya tidak melihat seperti gerombolan serdadu berkuda yang datang bergemuruh menghujam wajah. Bahkan bila angin itu menderu-deru sekali pun. Tetap saja kosong. Namun dari sini saya jadi tahu bahwa kesunyian dan kekosongan itu tidak berarti kesepian. Karena kesepian itu berarti ketersendirian. Sedangkan ketersendirian itu sudah tidak ada lagi ruang padanya. Berbeda dengan kekosongan atau kesunyian itu, dia menyatu dalam ruang. Jadi kekosongan itu adalah ruang yang ada untuk di isi.

Pelangi dalam pandangan saya adalah keceriaan. Sebuah penyambutan. Dengan warna-warnanya di background langit yang abu-abu kekuningan dia menjadi pengisi alam yang sangat indah. Dan pelangi juga bisa menjadi penanda lembar baru. Seperti yang saya ingat saat kehadiran pelangi dalam gambar ini. Langit yang sudah biru gelap pada waktu itu di isi dengan jatuhnya hujan. Saya hanya menyaksikan di balik sebuah kaca jendela. Rinai hujan yang tak melebat itu tanpa saya sadari telah menggiring perasaan beresonansi padanya (hujan itu). Tak lama, di luar saya melihat pelangi seperti gelang berwarna warni yang di benamkan pada bumi. Seperti gerbang, sebuah semangat harusnya beranjak dari sini.

Foto ini, semoga menjadi sebuah awal yang baik. Seperti pantai yang kosong, kita coba mengisi. Dan seperti pelangi, semangat yang kita miliki. Di sana, di seberang utara ujung Pulau Sumatera mari di mulaiā€¦

Tags: foto pelangi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manado Menuju Kota Cerdas Lingkungan Hidup …

Johanis Malingkas | | 27 April 2015 | 14:53

Lagi, Aktor “The Raid” Go …

Dody Kasman | | 27 April 2015 | 15:09

Mari Lestarikan Air Bersama AQUA! …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 19:03

Pemindahan Ibukota Jakarta : Belajar dari …

Hardian Relly | | 27 April 2015 | 11:00

Kompasiana dan Kompas Kampus Sambangi 5 …

Kompasiana | | 06 March 2015 | 08:32


TRENDING ARTICLES

Anggun Minta Pembatalan Eksekusi Mati, Siapa …

Lilik Agus Purwanto | 6 jam lalu

X Factor Indonesia dan Runtuhnya Sebuah …

Andi Kurniawan | 8 jam lalu

Harga Rakyat Indonesia Lebih Rendah dari …

Susy Haryawan | 11 jam lalu

Sekarang Saja, 50 Orang Mati Tiap Hari, …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

Menimpuk Presiden dengan Mangga malah Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: