Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Vera

..Never think to be the best but always think to do the best in order selengkapnya

Lelaki Masa Lalu yang Kembali di Masa Kini

REP | 14 July 2012 | 16:01 Dibaca: 624   Komentar: 6   0

Kau datang di saat aku mulai terbiasa tanpa bayang mu,,

Mengapa??

Mengapa kau harus kembali hadir di kehidupan ku??

Ah sudahlah,, kini kau telah terlanjur mengetahui semua biarlah ku ulas sedikit cerita tentang mu..

Dahulu kita tak saling mengenal tapi empat tahun yang lalu Allah mempertemukan kita di sebuah kelompok yang di selenggarakan fakultas setiap akhir semester 6. Kau dan aku pun berkenalan sebagai teman dalam sebuah tim dalam rangka membawa nama baik fakultas dan universitas. Kita berbeda jurusan tapi satu angkatan. Kita tak pernah bertemu sebelumnya. Sungguh aku tak mengenal mu. Di kelompok ini, aku pun sedikit demi sedikit tahu tentang mu.

Kenyataan bahwa aku harus tinggal seatap dengan 10 orang yang terdiri dari 3 laki-laki dan 6 perempuan membuat ku mencoba mengenal satu persatu pribadi teman serumah sekelompok ku ini. Dan kau, selidik punya selidik ternyata kita pernah dipertemukan di kala P2SPT (Program Pengenalan Studi Perguruan Tinggi) yang anehnya pada saat itu kurang lebih 6 tahun yang lalu walau pernah bergabung dalam satu regu kita tak saling menyapa. Dan yang lebih mengagetkan ku, kau mengenal baik teman kosan tetangga ku yang notabene ketua regu P2SPT kita saat itu. Sungguh tak ku duga, kau pun di semester pertama sering bertandang bahkan menginap di kosan ketua regu kita yang jelas-jelas kosannya ada di depan kosan ku. Haha, ternyata kita bertemu di sini di kelompok yang sama di kampung ini.

Dari awal, aku bersikap biasa pada mu. Menganggap mu tak lebih dari sebatas teman serumah dan teman seperjuangan. Mana ku tahu kalau di kemudian hari kedekatan ini akan menjadi sebuah cerita yang sulit untuk ku lupakan.

Berawal dari perhatian mu pada ku yang semula ku anggap istimewa ternyata ada sesuatu di balik itu semua. Kau mendekati ku bukan untuk mengetahui aku dan pribadi ku tapi kau ingin mencari tahu tentang teman ku, ya kau ingin tahu semua tentang teman sekelas ku. Bagaikan di gigit semut rang-rang, aku pun terkejut. Sepertinya kau tahu jika aku mulai merasa ada rasa yang tak biasa dari cara ku menanggapi keingintahuan mu. Aku hanya bisa memberi sedikit info tentang teman sekelas ku itu. Dia hanya teman sekelas ku tapi aku sangat tidak akrab dengannya, aku tak tahu siapa dan bagaimana dia sejatinya. Yang ku tahu dia bergaul akrab dengan teman-teman yang lumayan “high class” di kelas. Sementara orang-orang seperti aku dan sahabat ku cukup tak sejalan dengan pola pikir mereka.

Sejak saat itulah, kau sering mencurahkan isi hati mu pada ku. Kau sering berkeluh kesah akan perasaan mu yang ternyata harus bertepuk sebelah tangan. Sang wanita terkesan jinak-jinak merpati, mau tapi malu dan sok jual mahal. Sementara kau selalu berusaha menarik simpatinya. Jika usaha mu dipatahkan olehnya maka kepada ku lah kau berlari. Ah, entah mengapa saat itu aku mau saja menjadi tempat pelampiasan kesedihan mu.

Sekian lama kedekatan kita, aku semakin merasa sesuatu yang oleh sahabat-sahabat ku namakan itu “sayang”. Ah, mana ku tahu itu yang dinamakan sayang, toh yang ada dalam benakku saat kau sedih adalah bagaimana caranya membuat mu kembali ceria dan tidak melampiaskan kesedihan mu di jalan yang salah. Tapi pada saat itu aku masih buta, yang kau inginkan bukan kehadiran ku tapi dia. Dia teman sekelas ku.

Banyak waktu yang kita lalui bersama di rumah maupun di lapangan. Berbaur dengan warga belajar dan cara mu memperhatikan ku yang lebih dari teman serumah yang lain. Sungguh, aku bahagia tapi entah mengapa saat itu juga aku melihat rona cemburu yang dahsyat dari wajah teman sekelas ku. Teman serumah yang lain pun ikut-ikutan memusuhi ku. Bukankah wanita itu sendiri yang menolak untuk didekati oleh mu? Bukankah wanita itu tak mau? Lalu mengapa mereka seolah menyalahkan ku?

Sedih tak terkira, aku merasa di kucilkan karena perhatian mu pada ku. Tak satu pun yang membantu ku piket mencuci piring yang banyaknya sudah seperti cucian piring orang seusai hajatan, tak satu pun yang mengajak ku pergi ke mata air (pada saat itu sedang musim kemarau) untuk mandi atau mencuci pakaian bersama. Mereka menganggap aku seolah tak ada di rumah, mereka berasumsi akulah yang merebut mu dari wanita itu. Kau tak tahu betapa sedihnya aku, kau tak mengerti betapa kecewanya aku dipandang sebelah mata oleh mereka. Tapi lagi-lagi aku hanya diam dan tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Untunglah salah satu sahabat ku sekelompok dengan ku, dialah yang mampu menghibur ketika aku sedih dan kecewa.

Singkat cerita, kau dan aku pun harus berpisah. Kegiatan fakultas telah usai. Masing-masing kelompok harus menyusun laporan kegiatan yang berlangsung sekitar 3 bulan tersebut. Dalam kurun waktu tersebut, sudah banyak cerita yang terangkai antara kau dan aku. Lebih dari itu, setelah kegiatan berakhir pun kau masih sering menghubungi ku, sekedar sms atau menelpon ku hanya untuk curhat tentang masalah mu dan dia. Lagi-lagi itulah yang membuat ku kecewa. Kau masih mengharapkannya padahal sudah jelas dia menolak mu.

1 januari tiga yang lalu, tepatnya di malam tahun baru, kau pun menyatakan perasaan mu lewat sms, wah dimana kejantanan mu menyatakan semua lewat sms, ckck baru kini ku sadari semua tulisan itu palsu. Kau bilang itu murni dari hati mu dan kau ingin melupakan wanita itu. Aku sempat ragu, sungguh ragu. Apa iya kau bisa melupakan wanita itu dalam kurun waktu 5 bulan? Ah, aku tak menggubris mu. Lagipula aku tak pernah mau ada ikatan apapun selain pernikahan. Aku tak ingin ada istilah pacaran dalam hidup ku, yang ku inginkan bukan ditembak sebagai pacar tapi dilamar sebagai istri. Aku tak bisa mengatakan iya atau tidak. Yang ada dalam hati ku saat itu hanya ragu. Walau hanya sebentar perjumpaan kita, aku begitu mengenalmu. Aku tak bisa bersama mu.

Lepas dari kegiatan fakultas, kau dan aku tak pernah bertemu. Aku sibuk dengan kegiatan PPL yang harus ku lalui dan kau belum mengikuti program ini dikarenakan adanya beberapa mata kuliah yang masih harus kau ampu. Tapi yang ku ingat kau masih mengabari ku tentang dirimu. Hingga di semester akhir, aku sibuk dengan penyusunan skripsi ku dan kabar terakhir yang ku dengar tentang mu kau masih gemar bolos hingga terakhir yang ku dengar kau mengambil cuti. Ah, sebegitu depresi kah dirimu?

Yang ku tahu dua tahun yang lalu kau menghilang, jauh dari ku dan tak tahu kemana. Jejaring sosial mu pun tak nampak tapi aku masih sering dipenuhi bayang dan sedih oleh mu. Lama tak berkabar hingga mendekati hari wisuda ku kau muncul untuk sekedar mengucapkan selamat. Yang ku tahu beberapa hari setelah wisuda kita sempat bertemu, mungkin untuk terakhir kalinya menurut kau dan aku. Menghabiskan waktu setengah hari bersama mu, aku berharap ada sesuatu yang akan melegakan hati dan pikiran ku. Tapi tak satu kata pun yang keluar dari mulut mu tentang hubungan kita. Tak ada penegasan akan hubungan ini. Hingga, aku hanya bisa diam dan tak tahu harus berkata apa. Inikah balasan dari penantian panjang ku? Inikah imbalan dari segala luka dan duka yang kau ukir? Inikah jawaban dari tangis ku dan kata-kata sadis mu selama ini? Haaaaaaaah, sungguh hari yang tak terlupa. Hari yang menyenangkan dan menyakitkan, cukup hari itu saja dan tak kan pernah terulang lagi. Sungguh, aku tak ingin menyia-nyiakan hikmah dari sebuah kesalahan.

Akhirnya aku pun kembali ke kampung halaman ku. Mengaplikasikan titel dan ilmu yang baru ku sandang seraya mencoba melupakan semua tentang mu. Menghilangkan semua rasa yang harus terpaksa dibunuh. Menghancurkan beban di hati dan pikiran ku. Satu tahun aku bergelut dengan dunia ku tanpa mu dan aku berhasil. Subhanallah, ketika itu jua aku tersadar akan segala kebodohan dan keluguan ku saat engkau mencoba meracuni hati ku. Aku pun menganalisis bahwa apa yang dinamakan “sayang” oleh sahabat ku dahulu mungkin hanya sebatas rasa kasihan. Ah, apakah sayang dan kasihan itu sama? Aku merasa lebih baik setelah berpikir jernih sejak jauh dari mu. Aku merasa lebih kuat dan tegar. Astaghfirullah, segera aku memohon ampun atas segalanya pada Sang Illahi. Saat itu juga aku bangkit, tepatnya setahun yang lalu. Bangkit menghadapi kehidupan baru dan mencoba menata hati yang trauma akan sakit yang kau titipkan. Aku sembuh dan bahagia tanpa mu.

Tapi kini, setelah segala rasa musnah, setelah aku bersusah payah menata diri untuk melupakan mu dalam kurun waktu satu tahun ini, kau hadir kembali. Untuk apa? Aku tak ingin kau ada lagi. Aku tak ingin kau datang dan mengetahui keberadaan ku saat ini.

Kau sudah tahu aku tak lagi di kampung halaman saat ini, enam bulan sudah aku di ibukota dan selama itu pula aku menutupi tentang ku dari teman-teman di jejaring sosial. Tak ada seorang pun yang tahu tentang itu hingga tiba-tiba kau mengirimkan ku pesan di jejaring sosial bahwa kau ingin bertemu dengan ku karena kau sudah mengetahui keberadaan ku sekarang.

Ah, entah siapa yang membocorkan rahasia ini?

Ah, entah mengapa ada yang mengabari mu hal ini?

Mengapa kau harus kembali di kehidupan ku?

Mengapa harus sekarang?

Tak bisakah kau mengizinkan ku fokus akan pendidikan yang ku jalani saat ini?

Maukah kau pergi dari kehidupan ku yang sudah bahagia tanpa mu?

Aku mohon, jangan dekati aku lagi.

Apapun alasannya, tolong jangan hadir lagi.

Aku sudah menutup diri ku untuk mu sekarang. 2 tahun yang lalu aku membuka kesempatan itu lebar-lebar dan kau menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi biarkan aku bahagia dengan kesibukan dan kehidupan ku saat ini, tanpa diri mu.

Silaturahmi itu harus, kau masih bisa menyapa ku di jejaring sosial sebatas teman dan itu sudah cukup tapi jangan meminta ku untuk bertemu dengan mu lagi.

Sungguh aku tak bisa dan tak ingin.

Jadi, ku mohon duhai lelaki masa lalu ku jangan kau muncul kembali di kisah masa kini ku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan tapi yang ku harapkan enyahlah kau di masa kini ku. Aku sudah melupakan mu dan ku ikhlaskan semua sakit yang kau tinggalkan untuk ku. Aku tak pernah mempermasalahkan atau bahkan cemburu pada sekian banyak wanita yang kau jadikan pacar setelah jauh dari ku. Dan aku pun masih teguh pada prinsip ku, tak ada keinginan untuk di tembak untuk dijadikan pacar karena aku hanya ingin dilamar untuk dijadikan istri oleh lelaki terbaik kiriman Allah untuk ku suatu saat nanti.

Duhai engkau lelaki masa lalu, tolong jangan hadir kembali.

Kau tak tahu betapa sulitnya melupakan mu.

Kau tak mengerti betapa kuat usaha ku untuk menyembuhkan luka yang tak terungkap.

Jika memang ini ujian dari Allah, baiklah akan ku hadapi semua.

Seperti yang sahabat ku katakan, semua masalah ku ada di dalam diri ku jadi hanya aku jualah yang bisa mengatasinya. Jadi sekarang seberapa besar usaha mu untuk kembali di kehidupan ku, seberapa banyak cara mu untuk mengetahui keberadaan ku sungguh aku akan mengabaikan mu, mohon maaf mengertilah.

MizVe105Ra..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: