Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Bung Kusan

Penyuka jalan-jalan, sejarah, dan budaya - penikmat kuliner, buku, dan transportasi umum - pemerhati tv, selengkapnya

Ternyata Mudah! Membuat Permainan Seru, Murmer, dan Spontan..

HL | 06 July 2012 | 23:30 Dibaca: 12493   Komentar: 6   4

Menjadi orangtua memang kudu kreatif. Saat liburan tiba dan kita tidak ke luar kota –karena alasan budget atau waktu- , tempat-tempat yang pernah kita kunjungi ternyata bisa dibuat seru. Caranya? Kita bisa membuat aneka permainan yang murah meriah (baca: murmer) di lokasi tempat Anda berlibur. Alhamdulillah, keluarga saya sangat menikmati permainan yang saya ciptakan spontan di lokasi.

Kompasianers, berikut ini sekadar sharing, sejumlah permainan yang sudah saya buktikan baru-baru bersama keluarga saat kami berlibur di Taman Impian Jaya Ancol dan Kebun Raya Bogor. Semua bahan berasal dari bahan-bahan yang ada (baca: memanfaatkan barang yang tersedia di lokasi). Meski sederhana, tetapi permainan-permainan ini berhasil mengolah fisik dan mental para peserta saat berkompetisi. Semoga permainan yang sederhana dan murmer ini bisa bermanfaat untuk Anda dan keluarga.

13415913201651151833

Inilah bahan-bahan untuk permainan yang 90 persen berasal dari bahan yang ada di sekitar kita. Botol air mineral bekas, tutup-tutup botol, dan batu-batu.

***

Permainan di Taman Impian Jaya Ancol

Saat liburan di Ancol, modal permainan yang saya buat, cukup mencari tutup botol bekas, botol air mineral, dan batu-batu kecil.

1. Mencari Tutup Botol

Carilah tutup botol air mineral bekas. Biasanya tutup botol ini banyak berserakan di sekitar pantai. Harap maklum, banyak wisatawan yang masih malas membuang botol bekas ke tempat sampah. Jadi, selain kita mengumpulkan sisa sampah, tutup botol dan botolnya pun bisa kita manfaatkan menjadi permainan.

Cara permainan mencari tutup botol sangat sederhana, yakni menyembunyikan tutup botol tersebut di dalam pasir. Jumlah pemain bisa individu, bisa berkelompok. Mereka harus menutup mata terlebih dahulu, sebelum mencari. Setelah kita menyembunyikan tutup botol itu di pasir, mereka mencari dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan diberikan waktu. Setelah waktu selesai, kita menghitung jumlah tutup botol yang mereka dapat. Yang terbanyak adalah pemenang.

2. Lempar Batu ke Botol Pasir

Saat kita mencari tutup botol, biasanya kita juga menemukan botol air mineral yang ada di sekitar kita. Botol air mineral ini kita isi dengan pasir. Kenapa pasir? Sebab, ini berhubungan dengan permainan ‘lempar batu ke botol pasir’. Setelah botol diisi pasir, kita letakkan tegak di atas pasir. Lalu, dari botol yang sudah berdiri, kita jarak melempar dengan empat sampai lima langkah, dan di akhir langkah kita beri garis. Nah, garis itulah yang dijadikan lokasi kita melempar. Tentu, membuat garisnya tidak perlu dengan kapur atau cat, cukup ditandai dengan kayu atau garis yang kita buat dari sendal atau sepatu kita ke pasir pantai.

Selain botol, kita juga mengumpulkan batu-batu yang ada di sekitar pantai. Tak perlu batu besar, tetapi batu-batu kecil, semacam koral atau kerikil. Batu-batu ini berfungsi untuk bahan yang dilempar.

Cara permainannya, cukup melemparkan batu dari garis yang sudah dibuat. Permainan ini lebih seru jika berkelompok. Setiap kelompok dikasih kesempatan melempar sebanyak dua sampai lima batu, tergantung dari jumlah kelompok. Mereka yang berhasil menjatuhkan botol berisi pasir itu, akan dihitung sebagai angka. Kelompok yang berhasil menjatuhkan botol-botol itu semua, kelompok itulah yang akan menang.

Kenapa botol diisi pasir? Biasanya jika botol dibiarkan kosong, akan mudah tertiup angin. Botol berisi pasir lebih kokoh dibanding botol berisi air. Pengalaman dalam permainan ini, meski botol sempat terkena batu pada saat dilempar, belum tentu botol otomatis terjatuh, karena pasir di dalam botol membuatnya kokoh berdiri.

1341591506182304938

Inspirasinya dari permainan dampu, tetapi saya sedikit ‘plesetkan’, yakni dengan membuat menara dari batu-batu. Menara batu itu dilempar dengan menggunakan batu yang diletakkan di telapak kaki mirip permainan tradisional dampu.


3. Dampu

Sebenarnya Dambu bukanlah permainan baru dan ciptaan saya. Sebab, Dampu adalah permainan tradisional yang sudah dimainkan sejak zaman dahulu kala. Nah, oleh karena kesederhanaan permainan dampu ini, saya berusaha untuk mengenalkan permainan ini pada anak-anak saya. Namun saya sedikit olah lagi. Artinya, inspirasi dari dampu, tetapi eksekusinya beda.

Batu-batu yang sudah saya kumpulkan, saya susun tinggi. Susunannya mirip dengan sebuah menara berbentuk segitiga. Dari menara batu itu, sekitar empat sampai lima langkah, dibuatkan garis. Dari garis itulah, peserta melemparkan batu ke menara batu. Namun cara melamparkannya bukan dengan tangan, melainkan kaki.

Batu diletakkan di telapak kaki kemudian dilemparkan ke arah menara batu. Jika batu yang dilemparkan mengenai menara, sehingga batu-batu yang sudah disusun itu jatuh, maka kelompok inilah yang keluar sebagai pemenang.

Permainan di Kebun Raya Bogor

Seperti Kompasianers ketahui, di Kebun Raya Bogor banyak sekali daun kering yang jatuh dari pepohonan. Selain daun, banyak pula ranting kering yang ada di sekitar. Daun-daun kering maupun rating-rating pohon itu saya manfaatkan sebagai bahan untuk permainan. Selain itu, saya kembali memanfaatkan batu-batu yang ada di sekitar.

1341592159583366149Daun kering pun ternyata bisa dijadikan permainan dan seru pula.

1. Tiup Daun

Kumpulkan daun-daun kering di sekitar. Selain daun, kumpulkan pula ranting-ranting pohon. Khusus rating pohon ini, pilih ranting yang masih memiliki dua cabang. Fungsi ranting dua cabang ini untuk meletakkan daun kering.

Permainan ini lebih baik untuk kelompok. Cara permainannya, tiap kelompok harus membawa daun kering dengan ranting dari lokasi A ke B sebanyak-banyaknya, dimana jarak dari A ke B sekitar 15 meter. Pada saat membawa daun, seorang boleh berjalan atau berlari. Biasanya resiko jika berlari, daun kering tersebut akan mudah terbang, karena terkena angin.

Kelihatannya mudah. Namun, sepanjang perjalanan, seseorang yang membawa daun itu akan diganggu oleh lawan. Bentuk ganguannya adalah meniup daun yang dibawa itu sampai jatuh. Si pengganggu tidak boleh mendorong atau menyentuh secara fisik orang yang sedang membawa daun, tetapi cukup meniup. Risikonya, si pembawa daun akan berhati-hati membawa daunnya agar bisa sampai ke lokasi tujuan.

Jika daun kering jatuh, maka orang yang membawa daun ini harus mengulang. Begitu seterusnya, sampai daun itu diletakkan di lokasi akhir, yakni di garis yang sudah ditentukan. Kelompok yang berhasil membawa daun dari titik A ke titip B adalah si pemenang.

2. Menyusun Batu

Dari nama permainannya barangkali Anda sudah bisa menebak jenis permainannya, yakni menyusun batu. Nah, oleh karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan batu-batu yang ada di sekitar Anda. Terserah batu jenis apa saja yang bisa Anda pergunakan. Namun saya lebih suka batu koral, yang kecil dan sedang.

Cara permainannya, kita memberikan waktu sekitar 7 sampai 10 menit pada setiap kelompok untuk menyusun batu-batu yang ada menjadi seperti menara. Dalam durasi tersebut, kelompok yang berhasil membuat menara paling tinggi, dialah yang akan menang. Di sini, diuji kekompakan dan kesabaran anggota tim. Sebab, ada kelompok yang sudah cukup puas jika batu sudah berdiri, tetapi ada kelompok yang memiliki strategi jitu. Perlahan, namun berhasil membuat menara paling tinggi.

13415919932055557308

Permainan menyusun batu. Kelompok yang paling tinggi susunan batunya, menjadi kelompok pemenang.


3. Loncat Kodok Membawa Batu

Carilah kulit pohon yang telah mengelupas. Pilih kulit pohon yang agak lebar. Kulit pohon ini akan digunakan sebagai media untuk membawa batu koral yang sebelumnya sudah kita siapkan.

Cara permainannya, setiap anggota kelompok harus membawa batu dari titik A ke titik B. Cara membawanya adalah dengan menggunakan kulit daun. Dengan kulit daun saja, tentu sudah mendapat tantangan, karena jika peserta tidak membawa batu dengan keseimbangan, maka batu akan jatuh dari kulit daun itu. Nah, supaya makin seru dan menambah fisik supaya banyak bergerak, cara membawa batu dengan kulit daun itu adalah berlompat dengan satu kaki. Berlompat seperti kodok.

Peserta yang berhasil meletakkan batu terbanyak ke titik B, dialah yang menjadi pemenang.

4. Memasukkan Tutup Botol

Tutup botol yang saya kumpulkan saat di Taman Impian Jaya Ancol tidak saya buang. Selain bisa mengotori lingkungan, bisa disimpan untuk membuat permainan di tempat lain. Permainan yang buat dengan tutup botol ini adalah melempar tutup botol ke gelas air mineral bekas.

Cara permainan, adu banyak-banyakan memasukkan tutup botol ke gelas plastik air meneral bekas. Tiap kelompok cuma dijatahkan melempar sebanyak 2 kali. Setelah 2 kali, gantian dengan kelompok lain. Bisa pula masing-masing kelompok sama-sama melempar. Jika peraturan kedua yang digunakan, maka Anda harus menyiapkan dua gelas plastik air mineral bekas.

Peserta harus melampar pada titik yang ditentukan. Pengalaman saya, jaraknya sekitar empat sampai empat langkah. Tidak perlu jauh-jauh, karena dengan jarak tiga langkah saja, para peserta mengalami kesulitan memasukkan tutup botol ke dalam gelas plastik botol air mineral. Sebab, tutup botol mudah melayang jika kita lempar, karena terlalu ringan. Lalu, botol plastik itu lubannya kecil.

Hasil akhir pemenang ditentukan dari jumlah tutup botol yang berhasil masuk ke bekas gelas plastik air mineral. Jika kebetulan seri, sebagaimana yang pernah saya alami, maka diadakan adu ‘pinalti’. Kelompok yang lebih dulu memasukkan tutup ke gelas, dialah pemenangnya.

***

Kompasianers, masih banyak permainan yang sebetulnya bisa Anda lakukan dan lebih kreatif daripada permainan-permainan yang sudah saya sebutkan di atas. Memang, saya sekadar ingin berbagi dan mengatakan sekali lagi, bahwa menjadi orangtua harus kreatif, bahkan super kreatif. Tidak semua berakhir dengan uang, uang, dan uang, yang bisa membeli aneka jenis permainan. Buat saya, tantangannya justru, membuat permainan tanpa mengeluarkan uang sepersen pun, namun permainan ini bisa dimainkan oleh seluruh anggota keluarga dan tetap seru.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: