Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Adam Dosa Pertama

Senyuman In Deep and Dance

Trowulan…Juragan Batu Bata Itu Kini Tinggal Kenangan

REP | 04 July 2012 | 16:22 Dibaca: 355   Komentar: 11   6

Banon, adalah bahasa jawa madya untuk bata merah, sampai dengan saat ini tampaknya masih memegang lakon penting untuk kelangsungan kehidupan rakyat Trowulan walaupun sudah banyak berkurang. Trowulan adalah tempat yang diyakini banyak ahli sejarah dan arkeologi sebagai tempat kedudukan pusat Kerajaan Majapahit. Jika dahulu bata merah membuat Majapahit terkenal karena ciri khas teknik konstruksi batunya, sekarang pun bata-merah membuat Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto terkenal sebagai wilayah produsen batu merah berkualitas terbaik di Jawa timur walaupun jumlahnya sudah banyak berkurang.


Salah satu karakter utama artefak arsitektur masa Majapahit adalah batu bata merah, tanah bakar atau terakota. Di Trowulan masa Majapahit dari abad XIII-XV, bata-merah, tak hanya dipakai untuk bangunan-bangunan besar. Meskipun bagian di atas pondasi adalah konstruksi kayu, namun permukiman rakyat di Trowulan di masa itu banyak memakai bata-merah. Ini menunjukkan bahwa pada masa itu konstruksi bata-merah seperti halnya batu andesit adalah cukup mahal sehingga hanya dimanfaatkan untuk bengunan-bangunan terpenting seperti candi atau waduk saja.


Pada tahun 1980-an banyak temuan bata-merah artefak dari masa Majapahit yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat maupun diangkut ke kota-kota sekitarnya untuk diolah sebagai “semen merah” atau dipasang kembali pada konstruksi dinding baru. Keuntungan bagi mereka, batu bata-merah kuno berkualitas tinggi dan berukuran besar serta tebal itu bisa didapat dengan “harga batu bata bongkaran” yang murah. Sampai dengan awal 1990-an, temuan benda bersejarah dari jaman Majapahit seperti kepeng bolong, guci, piring, keramik cina, manik-manik dan benda perhiasan, bagian patung, benda upacara keagamaan atau apa saja dari kandungan tanah subur Trowulan termasuk artefak berupa emas banyak dieksploitasi demi keuntungan pribadi. Hal tersebut akhirnya membuat keadaan Trowulan menjadi compang-camping.


Sekarang, bagi generasi muda Trowulan, bekerja menanam padi, menyisir ladang tebu dan mencetak tanah liat untuk bata-merah, nyaris tinggal kenangan belaka. Fakta-fakta bersejarah di Trowulan perlu mendapat perhatian yang serius dari banyak pihak.

A.D.P -2012

.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 12 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 12 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 15 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Buzz!!! Apa Sih Maumu? …

Lipul El Pupaka | 7 jam lalu

Bersikap Bijak Ketika Harga Elpiji Melonjak …

Sam Leinad | 8 jam lalu

Kicau Cendrawasih Tersisih …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Melihat Perjuangan Rakyat Bali Mengusir …

Herdian Armandhani | 8 jam lalu

Belajar Open Mic Matematika …

Andi Setiyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: