Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Adam Dosa Pertama

Senyuman In Deep and Dance

Trowulan…Juragan Batu Bata Itu Kini Tinggal Kenangan

REP | 04 July 2012 | 16:22 Dibaca: 361   Komentar: 11   6

Banon, adalah bahasa jawa madya untuk bata merah, sampai dengan saat ini tampaknya masih memegang lakon penting untuk kelangsungan kehidupan rakyat Trowulan walaupun sudah banyak berkurang. Trowulan adalah tempat yang diyakini banyak ahli sejarah dan arkeologi sebagai tempat kedudukan pusat Kerajaan Majapahit. Jika dahulu bata merah membuat Majapahit terkenal karena ciri khas teknik konstruksi batunya, sekarang pun bata-merah membuat Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto terkenal sebagai wilayah produsen batu merah berkualitas terbaik di Jawa timur walaupun jumlahnya sudah banyak berkurang.


Salah satu karakter utama artefak arsitektur masa Majapahit adalah batu bata merah, tanah bakar atau terakota. Di Trowulan masa Majapahit dari abad XIII-XV, bata-merah, tak hanya dipakai untuk bangunan-bangunan besar. Meskipun bagian di atas pondasi adalah konstruksi kayu, namun permukiman rakyat di Trowulan di masa itu banyak memakai bata-merah. Ini menunjukkan bahwa pada masa itu konstruksi bata-merah seperti halnya batu andesit adalah cukup mahal sehingga hanya dimanfaatkan untuk bengunan-bangunan terpenting seperti candi atau waduk saja.


Pada tahun 1980-an banyak temuan bata-merah artefak dari masa Majapahit yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat maupun diangkut ke kota-kota sekitarnya untuk diolah sebagai “semen merah” atau dipasang kembali pada konstruksi dinding baru. Keuntungan bagi mereka, batu bata-merah kuno berkualitas tinggi dan berukuran besar serta tebal itu bisa didapat dengan “harga batu bata bongkaran” yang murah. Sampai dengan awal 1990-an, temuan benda bersejarah dari jaman Majapahit seperti kepeng bolong, guci, piring, keramik cina, manik-manik dan benda perhiasan, bagian patung, benda upacara keagamaan atau apa saja dari kandungan tanah subur Trowulan termasuk artefak berupa emas banyak dieksploitasi demi keuntungan pribadi. Hal tersebut akhirnya membuat keadaan Trowulan menjadi compang-camping.


Sekarang, bagi generasi muda Trowulan, bekerja menanam padi, menyisir ladang tebu dan mencetak tanah liat untuk bata-merah, nyaris tinggal kenangan belaka. Fakta-fakta bersejarah di Trowulan perlu mendapat perhatian yang serius dari banyak pihak.

A.D.P -2012

.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 6 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 10 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | 7 jam lalu

Kesempatan Sadar …

Latania Aini | 8 jam lalu

Meriahnya Pembukaan Porseni BUMN 2014 …

Rizky Febriana | 8 jam lalu

Tumpengan dan Bedah Buku “Bertahan di …

Gaganawati | 9 jam lalu

Revolusi dari Desa, Pengalaman Nyata Bukan …

Partyedu | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: