Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Vera

..Never think to be the best but always think to do the best in order selengkapnya

..Duka Ibu yang “Ditinggal” Anak..

REP | 21 June 2012 | 18:18 Dibaca: 2536   Komentar: 0   1

Banyaknya tugas kuliah menjelang ujian membuat saya membutuhkan semacam aktifitas untuk menyegarkan pikiran. Jadilah siang ini, saya iseng melihat-lihat album foto teman kuliah yang sudah menyandang status “emak-emak” di “facebook”. Pengen tahu saja apakah mereka sama seperti saya narsisnya kalau sedang berpose. Hehe. Kan kalau di kampus Ibu-ibu tersebut terlihat ceria dan penuh keibuan.

Betapa kagetnya saya ketika melihat album foto salah satu teman kuliah dan beberapa teman lain di “facebook” saya yang notabene sudah menjadi Ibu. Beliau mempostingkan foto-foto anak beliau yang sudah meninggal. Di bawahnya banyak teman-teman beliau memberikan komentar. Begitu juga dengan ungkapan kesedihan dan kerinduan sang ibu terhadap sang anak. Subhanallah, ternyata kesedihan ibu yang ditinggal anaknya akan terasa sakitnya lebih dari apapun.

Seorang ibu mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati. Tak pernah mengharapkan balas dari jasa yang takkan pernah terbalaskan itu. Benar kata pepatah “kasih anak sepanjang galah dan kasih Ibu sepanjang jalan”. Hal ini menggambarkan betapa kecintaan dan kasih sayang seorang ibu abadi sepanjang masa dan tak pernah putus.

Seorang ibu dengan tulus mengandung, mengasuh dan merawat anak-anaknya hingga mereka besar.

Ketika sudah dewasa, mereka akan menikah dan memiliki hidup baru. Saat itulah kasih mereka terbagi, tak lagi penuh pada sang Ibu/Ayah. Mereka harus mengasihi suami/istri dan anak-anak mereka. Lain halnya dengan Ibu/Ayah, kasih mereka abadi. Terkadang anak jika sedang bahagia ingatnya selalu pada pacar/suami/istri tapi ketika sedih dan sakit yang selalu diingat hanya Ibu. Tapi ibu tak pernah mengeluh akan kebiasaan sang anak.

Ibu juga tak pernah mempermasalahkan setiap kebiasaan dan sikap buruk anaknya, yang Ibu tahu anak adalah segalanya dan segalanya adalah untuk anak.

Begitulah ibu, wanita yang tak pernah mengeluh akan kodratya sebagai seorang Ibu.

Saya punya beberapa kenalan yang adalah seorang Ibu. Beliau memiliki takdir dan kenyataan anak-anaknya harus dipanggil lebih dulu menghadap Allah. Hidup beliau begitu hancur dan penuh kesedihan ketika menerima kenyataan itu. Seolah kehilangan semangat hidup dan ingin mengakhiri dunia.

Sempat saya dengan berhati-hati menanyakan hal tersebut kepada sang Ibu, tentunya dengan meminta maaf di awal pertanyaan, beliau pun mengungkapkan rasa sakit ditinggal anak tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lebih sedih dan sakit dari apapun itu.

Selama ini beliau berusaha melupakan dan keluar dari kesedihan yang mendalam itu dengan gemar bercanda dan senyum tak lepas tersungging dari bibirnya. Tapi ternyata siapa sangka,, di balik keceriaan itu ada duka terpendam yang dengan susah payah disembunyikan. Duka yang sangat sulit untuk disembuhkan.

Ada luka di balik keceriaan itu,,

Ada duka di balik candaan itu,,

Ada tangis di balik senyum manis itu,,

Dan hanya Ibu itu dan Allah saja yang tahu..

Duka seorang Ibu yang ditakdirkan Allah untuk ditinggal duluan oleh anaknya..

Seorang ibu adalah orang yang paling sakit dan terpuruk ketika beliau ditinggal duluan oleh anaknya.

Bagaimana tidak, seorang Ibu adalah wanita yang paling dekat dengan anaknya. Seorang wanita yang sangat mencintai anaknya lebih dari mencintai dirinya sendiri.

Saya memang tak mengalami kesedihan dan keperihan para Ibu tersebut tapi saya bisa merasakan betapa sakitnya jika ditinggal oleh orang yang paling kita cintai. Apalagi orang tersebut berstatus anak yang lahir dari rahim sendiri. Diasuh, dibesarkan dan dididik dengan penuh kasih sayang, berharap anak tersebut akan mewarnai hidup dan menjadi pahala dunia akhirat sang orang tua.

Setiap tahu cerita hidup seorang Ibu yang seperti itu entah mengapa saya selalu berusaha ingin membuat Ibu tersebut senang, menghibur Ibu itu agar terbebas dari kesedihan dan mencoba tidak membuat Ibu tersebut ingat akan keperihan yang tak kan bisa beliau lupakan seumur hidupnya.

Sebagai seorang putri yang Alhamdulillah masih memiliki Ibu dan Ayah, diri ini ingin selalu membahagiakan orang tua saya terutama Ibu. Semoga segala yang saya lakukan dan hasilkan selama ini bisa membuat Ibu senang dan mohon maaf jika ananda belum bisa membahagiakan Ibu dan Ayah 100%.

Saya ingin selalu membuat Ibu dan Ayah bahagia, menjadi pahala dunia akhirat mereka, menjadi anak shalehah, pokoknya segala yang saya lakukan hanya untuk membuat mereka tidak menyesal memiliki anak seperti saya.

Semoga, semoga, semoga.

Ibu,,

Ayah,,

Betapa saya mencintai Ibu dan Ayah..

Tulisan ini saya dedikasikan untuk para Ibu yang harus menerima kenyataan ditinggal buah hatinya lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Jadilah wanita paling kuat, bu..

Jangan sedih, bu..

Anak Ibu sudah tenang dan semoga berada di sisi Allah yang paling mulia,,

Ibu harus sabar dan ikhlas,,

Jika tak bisa lagi mencium dan memanjakan anak Ibu,, doa Ibu setiap sholat akan menjadi penerang anak Ibu di alam kubur,,

Jangan menangis, bu..

Masih banyak yang menyayangi dan mencintai Ibu di dunia ini,,

Allah tak pernah memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hamba Nya,,

Suka cita akan datang menghapus duka Ibu..

Ibu adalah Ibu yang paling tegar di dunia..

(jujur saya mengetik tulisan ini sambil berlinang air mata)

MizVe105Ra..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Menggigil di Rio, Sauna di Dubai …

Iskandarjet | | 25 July 2014 | 13:20

US Dollar Bukan Sekedar Mata Uang …

Arif Rifano | | 25 July 2014 | 11:21

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 5 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 6 jam lalu

Membaca Jurus Rahasia Kubu Prabowo-Hatta …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Semakin Ngotot Menang Tim Prabowo Semakin …

Galaxi2014 | 16 jam lalu

Kemenangan Jokowi Bukan Kemenangan Rakyat …

Dean Ridone | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: