Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

El Fietry Jamilatul Insan

Mahasiswi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, menulis sebagai ajang terapi menyalurkan emosi negatif menjadi emosi selengkapnya

Kecantikan Fisik VS Kecantikan Hati

REP | 11 June 2012 | 19:35 Dibaca: 777   Komentar: 6   0

Sumber: Klik gambar

Sumber: Klik gambar

“aku sih gak liat mukanya, asalkan cantik hatinya.”
ungkapan seperti itu seringkali terdengar dari mulut seorang laki2, mengatakan seperti itu untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah seorang yang tergila-gila pada fisik tapi mementingkan hati.  tapi apakah kenyataannya demikian?
pada realitas yang ada yang sering saya temui, ungkapan seperti itu sungguhlah basi. hanya kamuflase untuk menutupi ketertarikan hati mereka yang sesungguhnya.
lihatlah si A dan si B yang cantik, langsing, putih, dan modis. mereka begitu mudah mendapatkan perhatian dari seorang lelaki yang kemudian berbondong-bondong mendekati mereka untuk di jadikan pacar. lalu bagaimana dengan nasib si C dan si D yang wajahnya hitam penuh jerawat, berpenampilan sederhana, tak ada yang melirik mereka. atau si E yang gendut, pendek dan tak modis. adakah yang sudi tertarik padanya? sama sekali tak ada.
tulisan ini bukanlah sebuah keluhan atau representasi dari keputusasaan orang jelek yang tak kunjung mendapatkan jdohnya, atau sebuah bentuk kecemburuan sosial pada mereka yang dibilang ‘cantik’ karena seperti model dan sebagainya. tulisan ini hanya berusaha mengungkapkan realitas yang ada di sekitar kita.
banyak yang bilang mereka lebih mementingkan hati daripada fisik, namun pada kenyataannya, mereka pasti akan mencari pasangan yang cantik atau tampan agar bisa dipamerkan kepada teman-teman sehingga bisa menimbulkan rasa bangga dalam diri karena bisa memiliki pasangan yang membuat orang lain berdecak kagum.
meski pada akhirnya yang membuat kenyamanan dalam sebuah hubungan adalah kelakuan dan pribadi yang menyenangkan adalah faktor penting, namun kebanyakan orang justru lebih memilih bertahan dengan pasangan yang cakep itu meski kelakuannnya menyusahkan.
geram juga kalo ada yang bilang,’’saya gak liat fisik, tapi hati.” plis deh, yang ngomong kayak itu kebanyakan orang2 yang sedang naksir cewek2 cakep dan berkata seperti itu untuk sebuah personal branding semata.
apakah mereka pernah melihat cewek gendut dan jelek kemudian mereka dekati untuk dikenal lebih jauh pribadinya? ataukah cewek jelek yang mereka yakini baik kelakuannya? tentunya yang mereka dekati untuk dikenal lebih jauh pribadinya adalah dia yang cantik dan menarik, sedangkan sisanya tak dilirik.

bahkan dalam kisah upik abu, beauty and the beast, betty la fea, beauty and the geek, si kutu buku dan pangeran kampus, the ugly duck, mereka mendapatkan kebahagiaan setelah dirinya ‘berubah’ atau di ‘make over’adakah kisah yang menceritakan seorang mahluk jelek dan buruk rupa mendapatkan kebahagiaan tanpa ia harus berubah dahulu? betapa munafiknya dunia ini.

dalam hal ini aku setuju dengan ucapan penulis idolaku Tere Liye di halaman terakhir novel Bidadari-Bidadari Surga:

Wahai, wanita-wanita yang hingga usia 30,40, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah “terpilih” di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinilah, wanita-wanita salehah sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 7 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 7 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 8 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: