Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Arimba Noprianto

Calon playboy. Penghayal Propesional. Salah satu mahasiswa diperguruan tinggi yang nggak terlalu tinggi. Dan salah selengkapnya

Bacotan Tentang Pacar

REP | 13 June 2012 | 00:27 Dibaca: 3125   Komentar: 4   0

Bagi gue, memilih pasangan itu ibarat memilih sebuah baju ketika kalian sedang berada dipusat perbelanjaan. Harus bener-bener teliti, diperhatikan betul bahannya, ukurannya, sampai sampai harganya. Dengan naluri dan insting kita, pasti kita akan bener-bener tahu kira-kira yang mana yang bagus dan layak untuk dikenakan dan dipamerkan dengan kerabat dan sanak keluarga. Begitu pun masalah memilih pasangan. Gue adalah tipe cowok yang alot dalam memilih pasangan. Dan gue termaksud tipe pria yang banyak milih.(meskipun gue tau kalo pilihan itu nggak ada yang nyangkut akibat nggak ada nya respon dari pihak cewek) Dalam hidup, gue baru 4 kali pacaran. Dan semua sukses berakhir dengan nista nya. Berbekal kegagalan dalam merajut hubungan itulah, gue sadar kalo pendamping atau pacar itu bukan sekedar teman bersama di setiap waktu. Bagi gue, memilih pacar itu ibarat memilih istri. gue selalu membayangkan ketika gue punya pacar, itulah calon istri gue, itulah calon ibu dari anak-anak gue, itulah kartini didalam rumah tangga ini, itu lah sosok wanita yang bakal terbangun dimalam hari ketika mendengar anak kami menangis dimalam hari. Dan itulah gue belum nemu siapa yang bakal menjadi sosok itu.

Di sisi lain, banyak juga orang yang menganggap bahwa sosok pacar sebagai sesuatu yang bisa di banggakan. Satu dialog yang sering gue denger, ‘ aduh sorry yah gue duluan, mau jemput pacar dulu.’

atau malah ‘besok pacar gue ulang tahun loh, kira-kira mau dikasih kado apa yah.’

sumpah ini tuh freak banget. Harus gitu yang menyebutkan kata ‘pacar’ di antara tuna asmara kaya gue. Kan bisa diganti dengan kata lain yang lebih bisa menghargai perasaan orang lain. Missal.

‘aduh sorry ya, gue mau jemput ‘temen dekat’ gue dulu.’

kan lebih enak kedengerannya, dan kalau pun masih ada yang masih tersinggung, bisa diganti dengan yang lebih manusiawi. Semisal.

‘aduh sorry yah, gue mau jemput PEMBOKAT gue dulu.’

dijamin besoknya putus.

Berbicara masalah putus, Gue pernah diputusin sama…ehmmm. pacar (kenapa?nggak percaya kalo gue pernah punya pacar?)

tempat eksekusinya (baca: tempat pemutusan) itu di tempat kerjaan gue yang lama. Waktu itu malam malam dia datang menghampiri gue yang lagi asik kerja. Gue yang nggak tau sama sekali niat dia yang sesungguh nya buat mutusin, gue Cuma berfikir ‘gila, inilah cewek idaman. Datang ketika gue legi kerja. Ini semacam penyemangat dalam bekerja.’

namun takdir berkata lain, dia mutusin gue dengan kejinya. Dan ketika gue Tanya alasan nya kenapa, dia Cuma bilang, ‘kamu terlalu baik buat aku.’

sumpah ini tuh absurd banget, gue harus jawab apa. Apa gue harus jawab ‘baiklah sayang, aku akan lebih jahat lagi ke kamu.’

dari situlah gue berfikir, kenapa masih ada aja orang yang menjalin hubungan untuk sekedar ‘main main.’

beberapa bulan kebelakang ini juga gue mulai mencoba deket dengan beberapa cewek. Yah simple aja sih. Gue ini cowok, dan lajang pula. Dan nggak ada salahnya mencoba menjalin hubungan yang special dengan beberapa cewek. Dan gue takut aja kalo-kalo ada orang menghampiri gue lalu tanpa alasan yang jelas langsung bilang ‘KAMU HOMO, YA?’

sumpah, kalimat itu adalah kalimat yang paling mengerikan setelah kalimat ‘APA KAMU INI IMPOTEN?’

makanya untuk menepis kalimat kalimat itu, gue mulai mencoba mengais keberuntungan dengan beberapa cewek. Namun entah alasan yang jelas, gue ngerasa masih aja ada yang kurang dengan beberapa cewek yang gue jumpai. Entah dari komunikasinya, hoby atau kesukaan nya, atau dari gaya kita berbicara dan mengangkat satu topic untuk diperbincangkan.

salah satu nya cewek si pelit sms. Kenapa gue namai demikian. Yups pasti kalian sudah pada tahu. Nggak ada hal yang paling menyebalkan didunia ini selain berjumpa dengan makhluk si-pelit-sms-yang-Cuma-bisa-bilang-iya-atau-nggak-buat-ngebales-sms.

gue nggak tau dia mengidap penyakit apa sampe sampe jarinya harus membatasi setiap apa yang dia ketik. Mungkin kalo boleh gue tela’ah, dia ini terkena penyakit jariparkinson. Dimana si penderita mulai sakit dibagian kepalanya ketika mengetik banyak sms. Hmm entah lah.

pernah waktu itu gue sms  panjang lebar x tinggi ke dia. Sampe operatornya bilang ke gue, ‘LO MAO SMS, APA BIKIN CERPEN.’

sms nya begini.

‘hey lagi apa? Udah makan belum?

oia besok jadi kan?gue nunggu dimana nih?

jadi nggak sabar deh nunggu buat hari esok.’

dan dengan kejinya dia Cuma bales.

‘nnton tv. Udah tadi.

jadi, didepan gramedia aja.’

dan seketika itu gue langsung teriak ‘AMBIL  AKU SEKARANG JUGA, TUHAN.’

ada lagi salah satu cewek yang sempet deket juga sama gue. Kita sebut aja namanya bunga. (nama bunga lebih mirip seorang bocah yang dicabuli berulang kali oleh bapaknya). Bunga sebenarnya sih orang nya asik. Gaul pula. Cuma satu hal yang gue sayang kan. Gaya bicaranya yang terlalu ekstrem. Kalo lo sering nongkrong di terminal senen, mungkin lo nggak bakal bisa ngebedain mana bunga, mana kenek metromini.

satu percakapan yang gue denger ketika bunga berdebat dengan salah satu temannya.

‘AH BEGO LO, MASA GITU AJA NGGAK TAU. TOLOL  LO.’

gue yang dari tadi berada di antara dua cewek ini Cuma bisa berkata dalam hati, ‘ini cewek, apa preman tanah abang ya.’

dan tanpa pertimbangan yang jelas, gue mulai mundur perlahan dari kedua cewek itu. gue berfikir, nggak apa lah gue jomblo, dari pad ague harus berada di antara orang-orang yang nnggak bisa ngebuat gue nyaman.

dan di penghujung malam yang mulai pekat dan senyap, gue Cuma bisa bilang kalo sebenarnya jomblo itu bukan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Banyak hal yang gue bisa lakukan sendiri dan itu menyenangkan. Gue selalu punya prinsip, nikmati saja dunia kecil mu yang suatu saat mungkin akan menjadi besar dan bermakna.

salam anak gaol dari pemuda yang baru belajar gaul.

Jakarta, 08 juni 2012

23.26 wib

(ketika gue tau kalau besok masuk siang dan memutuskan untuk tidur lebih larut)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 8 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 8 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: