Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Bunda Khadijah

I am Indonesian, married, mother of 3, moslem...: "Mari Tegakkan Shalat."

Kuburan-kuburan Yang Diziarahi Di Madinah

REP | 11 June 2012 | 16:24 Dibaca: 3020   Komentar: 82   32

13393830421374284940

Kuburan Baqie (sumber foto wikipedia)

Kami di Madinah suka melakukan ziarah kubur.    Kami menziarahi kuburan Rasulullah Muhammad Sallalaahu Alaihi Wassalam yang berada satu tempat dengan kuburan sahabat Abu Bakar dan Umar, letaknya di bawah kubah hijau di lingkungan Mesjid Nabawi yang disebut Raudah Asyarief. Kami menziarahi kuburan Syahid syuhada uhud dan Sayyidina Hamzah di bawah kaki Gunung Uhud,  dan kami menziarahi pekuburan BAQIE yang terletak di salah satu sisi halaman mesjid Nabawi.  Kami juga berziarah ke Syahid Syuhada Badr di kota Badr yang terletak kurang lebih 200 km dari Madinah ke arah kota Yunbo.  Dan banyak dari sahabat saya yang berziarah ke kuburan para sahabat Rasul di dekat Masjid Quba.  Selama lebih dari satu dasawarsa tinggal di Kota Madinah Almunawwarah Saudi Arabia, saya dan keluarga serta sahabat-sahabat dari berbagai family name, tak terhitung lagi berapa sering kami berziarah kubur.

1.  Ziarah Kubur Sayyidina Hamzah dan syahid syuhada Uhud

Suami,  ipar-ipar,  dan sahabat saya bercerita kisah yang sama, bahwa jaman dulu, kaum ibu di Madinah, melakukan semacam olah raga jalan kaki dari kota Madinah menuju Syahid Syuhada Uhud yang terletak kurang lebih 5 km ke arah gunung Uhud.  Kegiatan ini sangat disukai ibu-ibu tiap hari Rabu dan Kamis bahkan Jum’at yang merupakan weekend di Saudi.  Mereka jalan kaki untuk berziarah ke kuburan Sayyidina Hamzah di bawah jabbal Rummah dan agak jauh sedikit ke komplek kuburan para syahid syuhada Uhud yang terpisah agak jauh dari kubur sayyidina Hamzah.  Dulu Kubur Sayyidina Hamzah tidak dipagar tinggi seperti sekarang.  Namun dulu banyak orang-orang menyalah gunakan dengan menjual tanah pasir di kantong plastik pada peziarah dan mengatakan tanah berkah kuburan sayyidina Hamzah.  Maka Pemerintah Saudi kemudian memagar tinggi-tinggi dalam area yang sangat luas agar praktek penjualan tanah kuburan itu tidak terjadi lagi.  Ada-ada saja  orang mencari rezeki dan saya dengar dulu banyak sekali orang percaya membeli tanah pasir di plastik ini dan dibawa pulang ke negaranya entah untuk tujuan apa.  Inilah yang kemudian dilarang oleh para mutowwe alim ulama Saudi.

Grave of Hazrat Hamza in Uhud Cemetary

Keterangan foto : kuburan Hazrat Hamzah atau sayyidina Hamzah (sumber foto Shabbir Moosvi)

2.  Ziarah Kubur Rasulullah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam di dalam Raudah Assyarief.

The Holy prophet's Mosque in Al-Madinah                                 Stock Photo - 5852138

Keterangan : Dibawah kubah hijau inilah terletak kuburan Rasulullah Muhammad Sallalaahu Alaihi Wassalam dan Sahabat Abu Bakar Ashhidiq dan sahabat Umar (sumber fotografer Naushadali Kalatiel, stock photo)

Banyak yang salah paham mengira kuburan Rasulullah berada di dalam mesjid Nabawi.  Kuburan Rasul bukan di dalam mesjid, melainkan di luar mesjid, namun karena perluasan mesjid Nabawi yang sedemikian besar maka lingkungan makam Rasul seakan di dalam mesjid.  Padahal bangunannya dipisahkan, tandanya kita akan keluar dari atap mesjid nabawi dan bisa menatap langit lalu masuk ke dalam bangunan lain  di bawah kubah hijau.  Orang Islam dimanapun tidak menguburkan seseorang di dalam mesjid karena mesjid adalah tempat untuk shalat.

Seminggu yang lalu, saya berada di tengah padatnya antrian jamaah umroh dari Indonesia, Iran, Turki, Pakistan, Malaysia, dll.  Kami mengantri untuk ziarah Rasul, antrian ke Raudah Asyarief ini demikian padat sehingga dibuatkan grup-grup peziarah.  Pembagian ziarah bagi wanita ini diatur oleh para petugas wanita yang kami sebut Asykar Nabawi, sedangkan oleh para peziarah wanita-wanita petugas di dalam mesjid ini sering disebut para Syekhah.  Pembagian dilakukan secara grup berdasarkan negara atau wilayah.  Ada grup Malayu yang terdiri dari wanita Indonesia, Malaysia dan Thailand juga Philipina.  Ada grup Pakistan, Afghanistan, lalu grup Iran, Turki, dan Arab.  Yang dimaksud grup Arab adalah para wanita lokal Saudi, Yaman, Syria, Kuwait, Bahrain, Jordan, Irak, Palestina, dll.  Tujuannya untuk ketertiban, kenyamanan dan keselamatan, karena dulu sering terjadi desak-desakan peziarah sampai membawa korban terinjak, terjepit, dsb.

2.1 Tingkah Wanita Peziarah di Dalam Raudah Asyarief

Di dalam Raudah Asyarief banyak sekali tingkah para wanita.  Mulai dari mereka yang ingin solat sebanyak-banyaknya dan tidak mengindahkan wanita lain yang menunggu antrian, sampai mereka yang membawa semacam sapu tangan lalu mengusap dinding pembatas Raudah assyarief lalu memasukkannya lagi ke dalam tasnya, serta mereka yang menciumi dinding pembatas.  Minggu lalu ada seorang jamaah wanita saya tidak tahu darimana asal negaranya yang histeris menangis di dalam Raudah Asyarief, kemudian wanita ini ditarik keluar oleh Asykar atau syekhah dari dalam Raudah ASyarief.

13393862661783551202

Di dalam Raudah Asyarief sekarang dibatasi dinding seperti ini, bedanya dinding pembatasnya masih bersih dari coretan (dok.pribadi)

Dulu, kami para wanita tidak dibatasi dinding pembatas seperti foto diatas, di dalam lingkungan Raudah ini.  Dulu kami para wanita bisa mendekat sampai ke batas semacam pagar besi kira-kira berapa meter saja dari bangunan yang di dalamnya ada Makam Rasulullah dan makam sahabat Abu Bakar Asyidiq dan Umar.  Baru beberapa tahun terakhir kami para wanita dalam berziarah dibatasi dinding yang jaraknya mungkin bisa beberapa meter dari bangunan Makam.  Dinding pembatas inilah yang sering disalah gunakan oleh peziarah yang tak paham inti ziarah Rasulullah ini dengan menjadikannya sebagai dinding berkah.  Ya, maklumlah para peziarah datang dari berbagai latar belakang dan pemahaman.

13393861081321426753

foto jalan keluar dari Raudah Asyarief (dok. pribadi)

Saya mengamati para peziarah wanita, ketika berziarah di Raudah Asyarief ada dari mereka hanya mengucapkan salam pada Rasulullah saja, tapi mereka melewatkan salam pada sahabat Abu Bakar Ashidiq dan Umar.  Hal ini pernah saya tanyakan pada seorang ustadzah di madinah, jawabannya katanya karena para wanita itu kemungkinan adalah penganut Syiah dan tidak mencintai sahabat Rasul kecuali Sayyidina Ali saja dan cucu Rasul yaitu Hasan dan Husein.  Sedangkan makam Sayyidina Ali dan Hasan Husen tidak ada di dalam Raudah Asyarief.  Demikian pula sahabat Usman tidak ada di dalam Raudah Asyarief.  Oh, rupanya peziarah ada juga yang melewatkan kasih sayang dan hanya menyayangi sebagian sahabat saja.  Itulah tingkah laku wanita di dalam Raudah Asyarief yang bisa saya amati.

2.2 Apa yang saya lakukan di Raudah Asyarief ?

Pertama-tama saya niatkan ikhlas dengan sabar menunggu antrian, tidak berusaha berdesak-desakan atau mendesak-desak orang lain.  Alhamdulillah selama ini saya dimudahkan untuk sampai di shaf paling depan langsung di depan dinding pembatas.  Saya yakin bila diizinkan oleh Allah subhanahu wataala, maka saya akan bisa shalat dan berdoa dengan sebanyak-banyaknya di Raudah Asyarief.  Keyakinan ini sifatnya sangat spesial, begitu yakin dalam hati, maka kemudahan selalu didapatkan.  Di tengah padatnya antrian, selalu ada space untuk shalat dan tak ada yang mengganggu ketika berdoa.   Maklum kalau lama-lama berdoa biasanya sudah dicolek jamaah lain atau disuruh keluar oleh Asyakarnya agar jamaah lain segera mendapat tempat.

Selama menunggu antrian, bisanya saya sebanyak-banyaknya mengucapkan sholawat nabi.  Ketika sampai di shaf yang saya inginkan, maka saya segera melakukan sholat dua rakaat dengan sujud yang dalam.  Setelah itu saya mengucapkan salam pada Rasulullah dan mendoakannya, lalu saya mengucapkan salam kepada Sayyidina Abu Bakar Ashidiq dan mendoakannya, lalu mengucapkan salam kepada Sayyidina Umar dan mendoakannya.  Setelah itu saya berdoa lagi, memohon pada Allah langsung, atas semua muslimin dan muslimat, lalu doa untuk diri dan keluarga dan doa-doa untuk semua teman-teman saya.

3.  Tentang Kebiasaan Ziarah Kubur

Bagian ini saya copas dari komentar saya di lapak Arab Kere.

Terus terang saya dan keluarga saya, baik keluarga di Indonesia maupun keluarga di Madinah, kami termasuk orang yang melakukan ziarah kubur.  Seperti yang saya kemukakan di atas bahwa umumnya wanita di Madinah melakukan ziarah kubur.

Kami tidak akan mengolok-olok ziarah kubur apalagi orang-orang yang sudah mati.  Berziarah kubur mengingatkan kami bahwa kami juga pasti mati, jadi yang pertama hikmahnya adalah mengingatkan diri akan mati, harus ingat akan bekal apa yang harus dipersiapkan agar setiap saat siap dipanggil pulang …karena azal rahasia, nggak tahu kapan datangnya kematian itu…selalu harus pikir mempersiapkan bekal-bekal itu…Berziarah kubur mendatangkan semangat mempersiapkan bekal untuk mati…juga ingin meninggalkan nama baik di kalangan yang hidup….

Yang dilakukan kami saat berziarah adalah mendoakan orang yang mati tersebut…bukan minta doa pada mereka atau minta dijembatani doa…Berdoa itu langsung pada Allah saja….tidak minta perantaraan siapapun, apalagi minta perantaraan dari orang yang sudah mati….

Kenapa saya suka sekali berziarah ke Raudah Asyarief ?…
karena antara Raudah Asyarief itu ada yang disebut RAudah al jannah….salah satu tempat mustajab artinya dekat sekali pada ijabahnya dari Allah subhanahu wataala…kita tahu bahwa ada doa yang diijabah dengan segera, dan ada do’a yang ditunda ijabahnya…mengharapkan kalau berdoa di tempat-tempat yang mustajab seperti multazam dan raudah asyarief maka doa akan dikabulkan secepatnya oleh Allah swt….saya bahkan merasakannya sebagai salah satu berkah  mukim di madinah, karena sudah dekat dengan mesjid nabawi dan Raudah Asyarief kuburan Rasulullah, serta kuburan para sahabat dan orang soleh yang dikuburkan di kompleks kuburan baqie di depan masjid nabawi….siapakah muslimin muslimat yang tidak ingin dikuburkan di komplek kuburan baqie, yang ahli kuburnya secara khusus didoakan oleh Rasulullah untuk mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wataala ?…setiap berdoa saat berziarah di Baqie, saya punya harapan agar kalau mati saya dikuburkan di tempat itu….

Ketika ziarah di Raudah Asyarief yang kami lakukan adalah bersholawat sebanyak banyaknya dan berdoa yang dianjurkan…..kami juga mengucapakan doa dan salam untuk sahabat nabi…TAPI, tidak meminta doa dari mereka, tidak meminta jembatan doa pada kekasih-kekasih itu….berdoa itu langsung saja pada Allah tanpa perantara….Yang saya rasakan, tempat itu berbeda karena menimbulkan rasa khusyuk dan takzim…membuat hati saya tenang dan yakin bahwa doa saya akan dikabulkan oleh Allah swt…itu aura tempat suci….itulah sebabnya saya suka dan sering-sering ziarah kesitu…mencari tempat yang membuat saya khusyuk berdoa, sejenak saya lupa penatnya hidup di luar sana…hanya antara saya hamba yang hina dan lemah menyembah kepada Sang Pencipta, bersujud dalam-dalam kepadaNya….

Kebiasaan ini, berziarah kubur, saya dapatkan dari kebiasaan dari orangtua saya…sejak kecil saya dibawa ziarah kubur para buyut buyut …mendapatkan bukti mereka pernah ada…lihat kubur mereka, mendoakan mereka..datang berziarah untuk mendoakan dan mengenang…bukan menangisi kuburan, melainkan mengenang dan merayakan kenangan itu dengan mengasihi mereka dengan doa dan membersihkan kuburan mereka….tidak ditelantarkan…tidak dilupakan….itu cara kami mencintai kakek nenek buyut buyut dan kerabat….

Ziarah Wali Songo

Saya waktu masih tinggal di indonesia juga diperkenalkan oleh ortu berziarah wali songo….
jadi boleh dibilang saya gemar ziarah kubur…
saya lakukan waktu itu, pertama ikut orangtua, dan kedua memuaskan rasa ingin tahu akan wali songo yang terkenal berjasa menyebarkan Islam di pulau jawa….saya napak tilas dari sunan gunungjati di cirebon sampai sunan ampel di surabaya…
apa yang saya lakukan di kuburan mereka ?

Saya mendoakan mereka, mendoakan para wali itu agar mereka diberi kemuliaan oleh Allah swt disisiNya …. tidak meminta berkah atau keramat para wali …. mereka udah mati malah butuh doa dari kita yang masih hidup….tempat mereka dimakamkan tidak saya anggap suci atau keramat, biasa saja, seperti saya memandang kuburan nenek buyut saya…semua saya anggap soleh dan berharap bisa meneladani kesolehan itu dan mengagumi perjuangan mereka dalam menyebarkan Islam….Terus terang bagi saya tempat makam-makam para wali tidak menggetarkan hati, melihat kuburan mereka hanya mengingatkan pada saya bahwa suatu hari saya pun akan dikuburkan…melihat batu nisan itu mengingatkan saya untuk berbuat baik dan solehah…dan berpikir : apakah kalau saya mati kelak, kuburan saya akan ada yang merawat dengan baik seperti kuburan mereka…dan apakah setelah saya mati kelak akan ada yang mendoakan saya dan mengingat saya pernah hidup….atau semuanya akan melupakan saya begitu saja karena selama hidup saya tak berarti dan tak berjasa apapun…

Mari Hindari Salah Kaprah Tentang Ziarah Kubur

Mari hindari salah kaprah dalam berziarah kubur agar tidak jadi kebatilan.
Para wanita kalau ziarah kubur jangan menangis apalagi sampai jerit-jerit histeris,
di Raudah Asyarief saya sering lihat jamaah umroh dan haji menangis histeris,
dan mari  jangan salah kaprah tentang ziarah kubur, apalagi meminta berkah dan keramat…
Berdoa itu langsung saja kepada Allah, tak perlu perantaraan siapapun…
Allah akan mendengar dan mengabulkan, itu hak Allah dan janji Allah akan mengabulkan siapapun yang berdoa kepadaNya, bila do’anya ikhlas dan sungguh-sungguh.

Mari hindari  salah kaprah tentang ziarah kubur.  Bila diantara anda tidak suka berziarah kubur ya tidak apa-apa.  Setiap orang boleh meyakini dan melaksanakannya keyakinannya masing-masing.  Menziarahi kuburan orang-orang yang disayangi adalah salah satu cara bahwa kita tidak melupakan mereka dan masih tetap mengasihi mereka dengan merawat dan mendatangi kuburannya.  Tujuannya Lillahi Taala dan ikhlas saja, mendoakan, karena seorang yang sudah mati sudah terputus semua amal ibadahnya dari dunia kecuali 3 hal saja : Ilmu yang bermanfaat, anak-anak yang soleh yang suka mendoakan orantuanya, dan amal sedekah zariyah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Tifatul Sembiring di Balik Hilangnya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Skenario Menjatuhkan Jokowi, Rekayasa Merah …

Imam Kodri | 8 jam lalu

SBY Hentikan Koalisi Merah Putih …

Zen Muttaqin | 8 jam lalu

Dari Semua Calon Menteri, Cuma Rizal Ramli …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Rayhaneh Jabbari Membunuh Intelejen Coba …

Febrialdi | 7 jam lalu

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | 7 jam lalu

Enam Belas Tahun yang Lalu …

Muhakam -laugi | 8 jam lalu

Ada Cinta di Minggu Ke-13 …

Rian Johanes | 8 jam lalu

Ayo Muliakan Petani Indonesia …

Robert Parlaungan S... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: