Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ella Zulaeha

Olshop tas branded Batam, Pin; 2B762CFD atau 2B5F8E90, reseller silakan add. Mampir ya sist, liat2 selengkapnya

“Terima Aku Apa Adanya, Bukan Ada Apanya”

OPINI | 30 May 2012 | 19:06 Dibaca: 2031   Komentar: 26   4

13383613851936005894

Doc: http://arimurti-indo.blogspot.com

“Usiaku sudah 28 tahun, mbak.  Ingin rasanya segera menikah. Tapi kenapa ya koq aku jadi ragu, minder sekaligus gak pede dengan diriku sendiri?”. Pernyataan itu terlontar dari seorang gadis sebut saja namanya Ayu. Saya tanya mengapa Ayu merasa minder dan tidak percaya diri, apa sebab?

Ayu kembali melanjutkan ucapannya “Aku berasal dari keluarga sederhana. Ibuku seorang janda yang hanya mengandalkan gaji pensiunan almarhum ayah. Sedangkan Anggoro pacarku, dia mapan dan berasal dari keluarga terpandang. Orang tuanya tajir banget, mbak! Hidup aku sama dia gak selevel!”

Bukankah Ayu seharusnya senang memiliki kekasih yang mapan dan berasal dari keluarga terpandang? Setahu saya jaman sekarang ini banyak perempuan yang berlomba-lomba mencari pacar yang “berkepribadian”, artinya memiliki rumah pribadi, mobil pribadi atau rekening pribadi. Semua demi sebuah gaya hidup yang cenderung hedonisme, materialistis dan lebih mementingkan penampilan lahiriah yang selalu nampak modis dan serba mewah demi menutupi jati diri mereka yang sebenarnya.

Namun yang terjadi pada Ayu, dia justru merasa tak percaya diri dengan apa yang ada di dirinya. Di awal hubungannya dengan Anggoro, Ayu memang sangat menikmati. Diantar jemput kerja oleh Anggoro dengan mobil menterengnya. Siapa juga orangnya yang menolak dicintai pria seperti Anggoro. Cakep, baik, low profile dan penyayang. Untuk standar calon suami, Anggoro lah juaranya.

Beberapa tahun lalu Ayu jatuh cinta pada Anggoro bukan karena Anggoro tajir. Yang Ayu tahu, Anggoro seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan besar. Mereka berkenalan saat sama-sama menghadiri seminar di sebuah hotel berbintang di Jakarta.

Saya bisa memaklumi kegalauan Ayu. Di saat usia yang pas untuk berumah tangga, barulah Ayu menyadari bahwa kesenjangan hidup antara dirinya dan Anggoro bisa saja menjadi jurang pemisah hubunngan mereka.

Yang sangat disayangkan, Anggoro ternyata selama ini belum menceritakan kepada orang tuanya, siapa kekasihnya dan berasal dari keluarga apa. Sekalipun Anggoro pernah membawa Ayu ke rumahnya, namun Ayu belum sempat berjumpa dengan orang tua Anggoro.

Bukan Ayu saja yang pernah mengalami kejadian seperti itu. Kemudian saya berbagi pengalaman dengan Ayu. Saya pernah mengalami galau karena minder dan gak pede. Waktu itu karena si calon pacar memiliki wajah ganteng. Saat dia saya bawa ke rumah, ibu saya mengatakan pria itu tak pantas buat saya, alasannya kegantengan! Hikss.. kasian ya 

Pengalaman itu menjadikan saya lebih berhati-hati dalam mencari pasangan. Sebelum terjebak dalam rasa suka apalagi rasa cinta dengan laki-laki itu, sejak awal perkenalan saya selalu berterus terang dengan kondisi saya yang sebenarnya. Bagaimana keluarga saya, seperti apa rumah saya, siapa orang tua saya.

Hal itu saya lakukan agar si dia tahu apa dan bagaimana kehidupan saya yang sebenarnya. Saya juga minta kepadanya bila hubungan ini berlanjut, orang tuanya harus tahu dengan siapa putranya menjalin hubungan. Jika si dia sudah mengetahui latar belakang keluarga saya, bolehlah hubungan itu berlanjut lebih serius.

Sewaktu berkenalan dengan laki-laki yang kini menjadi ayah dari kedua buah hati saya, saya memang sengaja mengajaknya ke rumah. Tujuannya ingin tahu, apakah dia berani atau tidak bila dikenalkan dengan ibu saya. Ternyata dia tidak keberatan, dan justru merasa senang. Kemudian saya perkenalkan dia kepada ibu saya. Saya ceritakan bagaimana kehidupan saya yang memiliki ibu seorang single parent dengan kondisi rumah yang jauh dari kata mewah.

Ternyata dari situlah awal dia simpati terhadap saya. Sikap terbuka saya dan tetap menjadi diri sendiri. Prinsip saya, jika dia mencintai saya, maka dia akan menerima saya apa adanya dan bukan karena ada apanya, bukan karena status sosial saya, bukan dari pangkat atau kedudukan, bukan pula karena materi atau latar belakang keluarga. Menurutnya, ia banyak mengenal perempuan (sebelum saya), sebagian dari mereka cenderung menutupi kehidupan mereka yang sebenarnya.

Hal yang sungguh melegakan setelah ia tahu tentang latar belakang saya, ia sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Sikapnya itu memang terbentuk dari latar belakang keluarganya yang tak pernah memaksakan kehendak dan saling menghargai. Orang tuanya pernah mengatakan, “siapapun pilihanmu, ayah dan ibu akan tetap mendukung”.

Yang lebih mengharukan lagi adalah saat dia menceritakan tentang kehidupan saya yang notabene adalah calon pacarnya kepada orang tuanya. Awalnya dia merasa khawatir orang tuanya akan melarang hubungannya dengan saya karena ibu saya yang seorang single parent. Nyatanya kekhawatiran itu tidak terbukti.

Sekalipun orang tua suami berasal dari keluarga terpandang (dahulu eyang suami saya seorang Lurah yang disegani di desanya), namun ternyata mereka bisa sangat welcome menerima saya sebagai calon menantunya. Menurut orang tuanya, “Setiap orang memiliki garis hidup masing-masing. Orang yang punya masa lalu pahit tidak berarti akan menurun juga kepada anak cucunya”

Bagi saya, untuk apa menutupi hal yang cepat atau lambat akan diketahui. Karena hal itu sangat penting untuk ke depannya. Tiada guna pula menutupi latar belakang kehidupan keluarga saya. Justru dari situlah saya bisa menilai seperti apakah laki-laki yang kelak menjadi imam dalam rumah tangga saya. Jika dia cinta dan sayang kepada saya dengan tulus, dia akan bisa menerima saya apa adanya. Dia juga takkan menilai seorang perempuan dari status sosialnya, seperti ia memiliki kekayaan apa, jabatan apa atau orang tuanya siapa.

Mendengar kisah saya, Ayu pun menjadi paham. Yang ia sesali mengapa dahulu sebelum terlanjur menjalin hubungan serius dengan Anggoro, seharusnya ia berterus terang menceritakan kehidupan keluarganya yang sebenarnya. Demikian pula Anggoro, seharusnya sejak awal dia menceritakan soal hubungannya dengan Ayu.

Ayu bertekad akan membicarakan hal ini dengan Anggoro. Bila Anggoro benar mencintai Ayu, tentulah ia bisa menerima Ayu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Memang tidak semua orang tua sebijak mertua saya. Apalagi di jaman sekarang, apa-apa serba dinilai dari segi materi. Bobot, bibit, bebet saat menentukan calon menantu menjadi pertimbangan utama orang tua masa kini.

Semoga saja orang tua Anggoro bisa menerima Ayu sebagai calon menantunya. Tetap semangat, Ayu! Berdoalah agar semua harapan dan impianmu segera terwujud.

**********

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

FEATURED ARTICLE

HEADLINE ARTICLES

Serunya Nonton Final di Copacabana …

Iskandarjet | | 14 July 2014 | 10:53

Indonesia Kembali Kalah Langkah dari …

Bambang Wijanarko | | 14 July 2014 | 08:36

Saksi Kesultanan Banjar …

Ali Muakhir | | 14 July 2014 | 08:51

Pssst Ada yang Keren Loh di Pojokan Tokyo! …

Weedy Koshino | | 14 July 2014 | 09:42

[Daftar Online] Kompasiana Nangkring + …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:17


TRENDING ARTICLES

Jerman Juara karena Proses Regenerasi yang …

Sultan Syahrir | 6 jam lalu

Argentina Kalah karena Brazil …

Injurytime | 9 jam lalu

Surat untuk Pak Bowo …

Rama Wibi | 16 jam lalu

Data C1 Bermasalah, Antara KPU, Burhanuddin …

Manly Villa | 22 jam lalu

Hati-hati Jebakan Diskon dan Obral Menjelang …

Muhammad | 13 July 2014 13:44

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: