Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Tien

“….Kita hidup di masa kini, bermimpi tentang masa depan, dan belajar tentang kebenaran abadi dari selengkapnya

Penderitaan Call Center Melalui Outsourching

OPINI | 30 April 2012 | 01:04 Dibaca: 6809   Komentar: 4   0

1335705127315769701

Sebagai fresh graduated dengan jurusan Hubungan Internasional, pekerjaan apapun dilakukan untuk mencari pengalaman, dan uang untuk saku pribadi. Suatu ketika, seorang teman mengajak untuk mencari pekerjaan melalui perusahaan outsourcing (media prima)dengan posisi call center (posisi yang saya sebelumnya anggap rendah). Saya pikir, tak apalah karena saya ingin mengetahui cara kerja call center lebih lanjut.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan panggilan training di infomedia dengan posisi call center untuk Garuda Indonesia. Dengan gaji yang diberitahukan sebelumnya sekitar 1,3jt perbulan, dimana gaji pokoknya sendiri adalah kurang lebih 900rb. Sempat berfikir, dengan gaji yang sangat kecil itu semua akan habis untuk membayar kosan, dan makan sehari-hari, tidak ada untuk save sama sekali. Lagi-lagi, karena saya fresh graduated, apa salahnya saya mencari pengalaman.

Akhirnya, saya mulai menjalankan training dengan baik. Training yang diberitahukan sebelumnya akan berlangsung 15-22 hari. Awal training saya semangat walaupun tidak mendapat makan, bahkan uang sepeserpun. melainkan akan digantikan uang trainingnya sebesar kurang lebih 200rb saja ‘jika’ lulus dalam training. Karena training tersebut masih ada sistem gugur. Perusahaan sebesar Infomedia saya rasa mampu untuk memberikan 1 kotak makan saja perharinya untuk setiap orang yang training, tapi harapan yang sia-sia, seakan mengemis untuk dikasihani.

Merasa tidak dihargai, akhirnya saya kroscek lebih lanjut. Dan ternyata, gaji yang diberikan oleh Garuda Indonesia itu sendiri untuk satu orang call centernya sebesar 3juta rupiah, yang kemudian dipotong dua kali melalui infomedia, dan media prima, dan didapatlah gaji kurang lebih 1,3jt. Penurunan yang sangat drastis, dimana UMR untuk DKI Jakarta saja sekitar 1,5jt perbulan, dan untuk S1 fresh graduated sekitar 2jt. dari hasil tanya jawab saya dengan karyawan call center Garuda pun ternyata dia merasa tidak dihargai, dan merasa tidak cukup dengan gaji sekian, apalagi yang telah mempunyai keluarga, dan anak. dengan pengorbanannya, dan pengabdiannya selama kurang lebih 1 tahun bekerja, dia hanya dihargain 1,6jt saja.

Jam kerjanya pun memakai sistem kerja shift, dimana untuk wanita paling pagi masuk jam 06.00, dan paling malam pukul 06.30, sedangkan untuk pria masuk paling pagi jam 10.00, dan paling malam kurang lebih jam 07.00 pagi. Jam kerja yang tidak menentu, ditambah sabtu, minggu, tanggal merah, hara raya idul fitri, natal, dan lain sebagainya tetap masuk kerja. Sangat tidak sebanding dengan gaji yang diterima.

Setelah kurang lebih 1minggu saya melakukan training, akhirnya saya memutuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan training. Saya tidak merasa rugi mengikuti pentrainingan, karena sayapun mendapatkan ilmu dari situ. Saya yakin akan mendapatkan tempat yang lebih dari perusahaan itu. Dan teman-teman sayapun satu persatu keluar karena telah mendapatkan tempat kerja yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Cara pandang saya terhadap call center sekarang berubah, saya menjadi lebih menghargai call center, karena ternyata kerjanya tidak ringan. Mereka harus dituntut ramah kepada customer dalam keadaan apapun.

Untuk perusahaan outsourching, sebaiknya lebih memanusiakan lagi manusia, dengan kualifikasi pendidikan jenjang D3 dan S1 sebaiknya lebih diperhatikan lagi untuk gaji pokoknya, setidaknya setarakan dengan UMR yang ada saat ini, sehingga pegawainya tidak hilir mudik.

-Tien Chi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 12 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 13 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 8 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Jazz Atas Awan, Mendengar Musik Menikmati …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Indahnya Kebersamaan di Ultah Freebikers …

Widodo Harsono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: