Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Alasan Para Wanita Menikah Dengan Pria Asing

REP | 25 April 2012 | 19:20 Dibaca: 5108   Komentar: 50   6

Baru-baru ini saya membaca sebuah blog milik seorang wanita asal Indonesia. Dalam postingan berbahasa Inggris itu, ia mencurahkan kesedihannya betapa menikah dengan pria asing itu image-nya banyak negatif ketimbang positifnya. Meski pilihan akan pasangan hidupnya benar-benar didasarkan atas cinta, masih saja muncul anggapan keluarga dan orang-orang disekitarnya bahwa dirinya perempuan nakal yang menggaet bule, bahkan untuk mengeruk harta! Well, I can say … I guess it’s normal when people think so. Just follow the wind lah, nduk … halahhhhhh …

***

Saya ingin berbagi pengalaman orang-orang yang saya kenal dan menikah dengan pria asing dengan berbagai alasan. Secara general saya petik bahwa tidak semua dari mereka menikah karena harta atau prestige menjadi istri orang asing atau bukan melulu berawal dari profesi tuna susila.

1. DW, 55 tahun – prinsip sepadan

Wanita asal Amerika ini masih keturunan suku Indian. Sejak berumur 12 tahun ia diajak keluarganya untuk pindah ke Jerman. Ketika berumur 45 tahun, ia menikah dengan seorang mantan rocker yang dahulu pernah memiliki Lebenspartnerin asli Jerman dan seorang anak buah cinta mereka.

Mulanya, perempuan yang bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan join venture Jerman-China itu berkenalan dengan pria Jerman botak tersebut di sebuah pub.

Dari pertemuan-pertemuan reguler dan perbincangan yang mengalir, mereka sepakat untuk serumah dan menikah. Ujar perempuan berkacamata minus itu, mereka memiliki beberapa prinsip hidup yang hampir mirip dan patut dipersatukan. Apalagi saat itu ayah si lelaki baru saja meninggal, rumah mereka kosong dan butuh dihidupkan lagi khususnya dengan sentuhan wanita.

2. BH, 40 tahun – cinta resepsionis dan tamu

Sudah bertahun-tahun BH menjadi petugas resepsionis sebuah hotel berbintang 4 di kota M. Namanya tameng hotel, pastilah ia sosok yang menarik dan memiliki pembawaan yang ramah. Ini ternyata memberikan sebuah pesona pada salah satu tamu asal Austria. Si tamu jatuh hati pada penerima tamu.

Karena sering bertugas selama beberapa minggu dan bolak-balik ke Indonesia, si pria lebih memilih hotel dimana ia bisa sering bertemu dengan si gadis pujaan. Cintapun bersemi hingga berakhir di pelaminan.

3. EL, 40 tahun - sehobi

Rambutnya yang keriting agak bergoyang. Ia agak malu menceritakan pengalamannya menikah dengan pria Swiss. Akunya, lelaki berkacamata itu ia temui pada sebuah acara wanderung (red: jalan-jalan di hutan, gunung dan lainnya). Klub yang mereka ikuti ternyata tak hanya menyalurkan hobi yang ada tapi juga mempertemukan keduanya dalam satu belanga.

Kebetulan si pria pindah dari Swiss karena ditugaskan di sebuah perusahaan di Jerman, sampai kemudian hari mereka menikah dan dikaruniai 3 anak.

4. CL, 39 tahun – hospitality dan eksotisme Asia

Rambutnya yang panjang nan hitam legam itu tertiup angin. Tawanya yang lebar sangat mengingatkan saya pada tawa khas orang Indonesia (lebar dan ramah mempertunjukkan gigi geligi). Wanita asal Philippina itu berbagi kisah bahwa ia bertemu suaminya di sebuah restoran hotel di Cebu, Philippina. Waktu itu suaminya memang sedang dalam rangka liburan dan menginap di hotel tempat CL bekerja. Saat makan, CL yang bertugas sebagai salah satu pelayan restoran menjamu si lelaki sebagai tamu.

Akhirnya usai makan, pria Jerman itu dengan ramah mendekat dan mengatakan amat terpesona oleh eksotisme Pinay itu (bermata besar, berambut hitam panjang, berkulit coklat, berwajah bundar, bersenyum manis dan sebagainya). Iapun ingin berkencan. CL malu-malu mau. Setelah liburan usai, si turis kembali ke Jerman dan tetap menjaga komunikasi. Untung keduanya menguasai sedikit bahasa Inggris, barangkali susah juga berbalas pantun dengan bahasa Jerman dan Tagalog.

Selang beberapa bulan, lelaki asal Bavaria itu menemui CL dan mengajak untuk menikah.

Sudah 15 tahun mereka berumah tangga, hidup CL hanya melayani suami dan anak, ternak dan membuat madu dari peternakan lebah mereka di sebuah desa terpencil di Jerman.

5. PH, 38 tahun – sesama turis

PH kelahiran Bangkok berlibur ke pantai Pattaya. Kebetulan ia baru saja putus dengan pacarnya dan bertemu dengan seorang pria asal Jerman yang selisih umur 25 tahun waktu itu.

Selama liburan mereka semakin sering bertemu dan akhirnya mencuat diskusi serius soal masa depan. Si pria adalah duda beranak 3, yang ragil seusia PH, 30 tahun, mengaku amat mendambakan pasangan hidup diusia STW.

Akhirnya keduanya sepakat menikah tanpa anak di masa mendatang. Alasannya selain sudah berumur dan telah memiliki 3 anak dari mantan istri pertama, teman saya itu masih ingin bebas travel dan berkarir. Satu lagi tambahnya, ada masalah dengan indung telur yang menyebabkannya resah jika hamil terjadi sesuatu.

6. SP, 37 tahun – sama-sama relawan

Menjadi relawan adalah sebuah tugas yang selalu ingin diemban wanita berjilbab asal kota S ini. Suatu hari LSM tempatnya mengabdi mengirimnya ke sebuah international workcamp di Finlandia.

Di sebuah ladang stroberi itulah, ia berteman dekat dengan relawan rekanan asal Inggris. Dari program pertukaran selama 2-3 bulan itulah muncul bibit-bibit cinta. Sepulang dari negeri dingin itu, hubungan masih berlanjut mulai dari SMS, telepon, email dan surat menyurat. Buntutnya, si pria mendatangi si gadis dan berkenalan dengan keluarga perempuan di Indonesia.

Selang beberapa tahun mereka menikah dan menetap di Inggris. Sekarang ini keduanya menjadi petugas sosial.

7. VD, 33 tahun – one night stand

Wanita berpantat bak tawon itu memang memiliki wajah sex appeal yang aduhai. Bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan asing di kota D, menjadikan kantongnya agak tebal dibanding teman sepergaulan waktu itu (umur 20-an).

Jadi tak aneh saat hobi hura-huranya sampai ke pub dan diskotek, apalagi tempat para ekspatriat nongkrong. Hingga suatu hari, ia memang sengaja melakukan one night stand dengan seorang pria asal Belanda yang baru pertama kali datang ke tanah air. Saking terkena jimat dahsyat bernama cinta, si lelaki manggut-manggut saja disuruh bertanggung jawab menikahi si gadis. Glad to hear that they seem to be very happy in the end.

8. NS, 30 tahun – cinta dosen dan mahasiswi

Perempuan berdagu lancip ini memang manis. Itulah yang menyebabkan seorang dosen bahasa Inggris asal negeri ratu Elizabeth itu jatuh cinta.

Karena merasa sebagai anak didik, NS mencoba jaga diri dan berhati-hati. Ia amat khawatir jika ada yang menganggapnya mendekati sang dosen demi nilai bagus meski ia termasuk anak yang cerdas.

Hingga pada suatu waktu, si dosen memuntahkan gejolak cintanya itu dengan sebuah spanduk bertuliskan “I LOVE YOU, NS” di salah satu sudut kampus. Mukanya merah, hatinya merekah dan gayungpun bersambut hingga pada suatu waktu merekapun menikah. Bukankah ini cerita yang romantis nan indah???

9. DS, 25 tahun – cinta perawat dan pasien

Lulus SPK, DS bekerja di sebuah RS swasta di kota S. Kebetulan seorang pasien yang dirawatnya adalah orang Amerika. Sebuah bangsal rawat inap selama beberapa bulan ditempati si bule dan pengemban tugas itu merawat dengan sungguh-sungguh.

Mungkin karena terpikat kebaikan hati si perawat, hubungan keduanya berlanjut meski si lelaki sudah sembuh. Pertemuan-pertemuan berikutnya semakin memupuk cinta dan kasih yang ada. Mereka menikah di tanah air dan hengkang ke kota asal suami. Is that so simple? Indeed …

10. WI, 24 tahun – gara-gara chatting

Internet adalah sebuah dunia menarik bagi anak-anak hingga dewasa. Siapa sangka hanya gara-gara chatting lewat ICQ, WI mendapat seorang suami asal Spanyol?

Semuanya berawal dari kegemarannya mengunjungi warnet usai kuliah. Selain mengerjakan tugas-tugas kuliah, wanita semampai itu nyambi chatting di bilik yahoo. Selain orang India, banyak orang Eropa dan Amerika dikenalnya. Hingga pada suatu waktu, ia bermusuhan dengan seseorang asal negeri banteng.

Dan siapa sangka setelah bertemu di sebuah kota di tanah air, ada beberapa pertemuan selanjutnya hingga membuat mereka mabuk kepayang karena dewi cupid memanahkan busur di kedua dada manusia. Amore

Cinta itu sempat tersandung namun akhirnya berakhir manis. Menikah.

Semoga memberi sedikit gambaran pada semua bahwa alasan para wanita menikah dengan pria asing itu tidak hanya satu saja … benar-benar beraneka dan tidak mengada-ada karena jodoh itu ada ditangah Tuhan (tidak memilih ras atau apapun itu namanya). (G76)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 10 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 11 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Bersih Dusun Playen I dan II dari Kirab …

Tulus Jokosarwono | 7 jam lalu

“Ketika Rintik Hujan Itu Turun di …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Inilah Pemenang Blog Reportase Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Taman Lalu Lintas Bandung yang Sepi …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Teawalk: Olahraga Sederhana yang Menyehatkan …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: