Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ariyani Na

Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12

Putus Sekolah, Uang, dan Pekerjaan

HL | 20 April 2012 | 11:51 Dibaca: 1918   Komentar: 93   19

1334879180631066807

dok. pribadi

Tulisan saya ini lagi-lagi terinspirasi dari tulisan sahabat saya di Kompasiana, sebuah tulisan yang menjadi oleh-oleh berharga buat saya. Dalam artikelnya yang berjudul Oleh-oleh buat Mbak Yani, Mas Fidelis Harefa menuliskan pengakuan-pengakuan dari anak-anak putus sekolah yang berjuang untuk mempertahankan hidupnya, tanpa memperdulikan apakah yang mereka lakukan itu  benar atau salah, halal atau tidak halal, legal atau ilegal.

Dalam tulisan ini saya akan menuliskan kembali pengakuan mereka agar pembaca bisa mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai pekerjaan yang dilakukan anak-anak putus sekolah ini.

1. Kami mencari salah satu lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Kami merusak badan Jalan Raya agar kendaraan mengalami kesulitan melewatinya. Setelah itu kami menyediakan papan-papan tebal dan peralatan lainnya. Saat kendaraan melewati jalan itu, kami akan turun untuk membantu. Tentu saja membantu dengan harapan nanti akan ada balas jasanya. Dan itu terjadi sesuai rencana. Akhirnya kami dalam kelompok bisa mendapatkan duit sekitar Rp. 300.000,- per hari setelah kami berbagi. Gampang kan? Biarkan pemerintah kita mengurus hal-hal besar. Kami juga bisa menciptkan lapangan kerja sendiri. Halal atau tidak halal, urusan nanti. Itu pilihan terbaik kami saat ini.

2. Geng kami tidak punya nama. Tapi kami punya anggota sekitar 15 orang. Kerja kami adalah mengerjakan proyek-proyek menarik. Kami selalu menerima proyek dari para pengusaha. Bila mereka ingin keamanan, kami memberikan mereka keamanan. Karenanya, siapa saja yang mengganggu para pengusaha yang ada di bawah perlindungan kami, akan kami ancam bahkan bila perlu, kami bantai deh. Jahat atau baik, itu terserah penilaian orang. Dan itu bukan urusan kami.

3. Istilah Illegal dan Legal Logging yang tidak jelas membuat kami ambigu dalam memahaminya. Kami menebang satu pohon untuk kebutuhan kami, sudah dianggap melanggar undang-undang. Tapi bila penebangan dilakukan oleh perusahaan tertentu, lebih sering dikatakan itu legal saja. Padahal hasilnya untuk dijual dan menjadi bahan ekspor. Kalau demikian, kami juga punya cara sendiri untuk mendapatkan bagian dari hasil penebangan hutan kami. Kalau bagi pemerintah mengatakannya sebagai tindakan kriminal, itu urusan mereka. Urusan kami adalah cari makan.

Dari tiga pengakuan di atas, saya menilai, apa yang anak-anak putus sekolah lakukan ini adalah pilihan terakhir yang terpaksa diambilnya guna mencari makan untuk bertahan hidup ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Bagi mereka yang memiliki ijazah sebagai senjata untuk mencari pekerjaaan saja masih banyak yang mengalami kesulitan (lihat tulisan saya, Mau Kerja? Bayar dulu), apalagi bagi mereka yang putus sekolah.

Menurut saya, bila anak-anak putus sekolah diberikan kesempatan, dibimbing untuk mandiri maka tidaklah mustahil mereka dapat melakukan hal-hal positif yang akan bernilai lebih. Salah satu contoh anak putus sekolah yang mampu melakukan pekerjaan positif dan bernilai lebih adalah karyawan yang sehari-harinya bekerja bersama saya.

Namanya Hendra, bila dilihat dari tingkah laku, tata bahasa dan cara berpikirnya kita tidak akan menyangka bahwa karyawan saya ini hanyalah lulusan Sekolah Dasar (SD).

Anak ini juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi, bila ada yang bertanya, sekolahnya lulusan apa, tanpa malu Ia akan menjawab ” S1 donk.. S nya cuma 1, SD hehehe”

Awal cerita Ia bisa bekerja bersama kami pun sangat menarik. Anak ini sebelumnya bekerja di sebuah toko sparepart motor rekanan kami, karena toko tempatnya bekerja ini sering kekurangan uang untuk membayar hutang, maka sang pemilik toko kadang menjual barang-barang dengan harga murah kepada kami, dan anak inilah yang sering menjadi pengantar barang.

Sudah dapat ditebak, akhirnya majikannya ini pun bangkrut, kebangkrutan yang bukan hanya menyebabkan karyawan ini kehilangan pekerjaan tetapi juga harus menanggung sejumlah hutang majikannya, karena dengan polosnya karyawan ini mau saja meminjamkan kartu kredit bernamakan istrinya kepada majikannya. Nilainya hutangnya juga tidak kecil, kalau dibeliin kerupuk bisa bertruk-truk.

Sejak kejadian itu, kami tidak langsung menerimanya sebagai karyawan, kami hanya memberi kesempatan untuknya mengambil sejumlah barang kepada kami untuk dijual kembali ke bengkel-bengkel kecil.

Melihat semangatnya saat bekerja, tanggung jawab, kejujuran, sikapnya yang selalu ceria walau sedang berada pada kondisi yang tidak bahagia, maka akhirnya kami mengambilnya menjadi karyawan.

Sebelum hadirnya karyawan ini dalam usaha kami, sistem penjualan hanya dilakukan oleh suami saya dan lebih kepada menjaga langganan-langganan yang sudah ada, walau tetap mencari toko baru tapi tidak terlalu banyak jumlahnya. Ada beberapa sales yang datang mengambil barang untuk dijual ke toko - toko tapi tidak terikat kerja bersama kami.

Melihat kemampuannya, maka suami saya pun mengajarkan bagaimana cara menjadi penjual yang handal, dan apa yang kami perkirakan tidak meleset.

Sistem penjualan yang kami berikan kepadanya dapat dimanfaatkan dengan sangat baik. Kami menetapkan harga-harga khusus buatnya, sehingga karyawan saya ini bisa menjual kembali dengan harga lebih tinggi (ada keuntungan) tapi tetap bersaing di pasar. Untuk toko-toko besar yang umumnya meminta harga yang cukup kompetitif, Ia bisa melepas barang tertentu sesuai dengan harga yang kami berikan (modal), namun masih dapat mengambil keuntungan dari barang yang lain. Toko-toko  garapannya adalah langganan dari toko lamanya yang bangkrut, Ia menggunakan sistem jemput bola seperti kami, dengan demikian toko garapannya berbeda dengan toko kami dan kamipun berkomitmen untuk tidak  mengganggu toko garapannya itu.

Keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk membiayai kehidupan anak dan istrinya sehari-hari, sedangkan komisi dan gajinya, digunakan untuk melunasi hutangnya di Bank (sekarang sudah lunas dan berencana membeli rumah).

Saat saya bertanya mengapa sekolahnya hanya sampai SD, Ia pun bercerita.

Orang tua saya miskin dan tidak terlalu mementingkan sekolah bagi anak-anaknya, buat mereka yang penting anak-anaknya bisa baca tulis, karena mereka melihat banyak lulusan SD yang berhasil. Sebenarnya saya nyesel Tante (Ia memanggil saya dengan sebutan Tante - tua banget ya), pengen rasanya ngalamin masa-masa sekolah SMP, SMA, kadang kalau lagi kumpul teman-teman saya bercerita mengenai sekolahnya, saya cuma bisa bercerita sampe SD. Tapi saya bertekad, anak saya harus sekolah tinggi, saya harus bisa menyekolahkannya.

Lalu apa yang dilakukannya setelah putus sekolah?
Ia bekerja di sebuah toko sparepart motor 12 tahun lamanya dan karena ada perubahan tata kota, maka toko tempatnya bekerja  menjadi sepi, dan karena ia sadar diri bahwa toko itu tidak memerlukan karyawan dalam jumlah banyak lagi, maka ia mengajukan berhenti bekerja di toko itu.

Dengan pemahamannya yang sangat mendetail mengenai sparepart motor, dan atas sarannya, akhirnya  usaha kami yang sebelumnya hanya bergerak di barang-barang fast moving saja berkembang hingga menjual barang-barang ‘daleman’ motor.

Itulah sebuah cerita dari anak putus sekolah, dari sana kita dapat belajar :
1. Ada banyak alasan mengapa anak menjadi putus sekolah, namun alasan yang paling sering kita dengar adalah karena keterbatasan ekonomi. Pendidikan formal memang diperlukan, tetapi ketika hal tersebut tidak dapat terpenuhi maka anak putus sekolah akan  memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari uang guna bertahan hidup. Maka dari itu, perlu dibuka kesempatan kerja yang positif bagi anak-anak ini sehingga tenaga dan semangat muda mereka dapat diarahkan juga untuk hal-hal positif.

2. Pendidikan formal tidak menjamin pembentukan karakter kerja seseorang, semua kembali kepada diri orang itu sendiri, apakah mau terus belajar, bertanggung jawab, jujur, rajin dan memberikan attitude kerja yang baik  atau tidak, bila hal-hal tersebut dapat dilakukan maka tidak menutup kemungkinan, seorang lulusan SD sekalipun dapat menjadi orang yang berhasil.

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kita agar tetap memiliki attitude kerja yang baik, menginspirasi agar kita memiliki semangat yang sama seperti karyawan saya untuk berhasil, memandang segala sesuatu menjadi hal yang positif.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: