Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Prima Marsudi

Wanita yang ingin jadi diri sendiri tetapi tidak bisa karena harus memikirkan orang-orang yang disayanginya.

Mendoakan Segala Kebaikan Untuk Orang yang Memusuhi Kita

REP | 16 April 2012 | 15:50 Dibaca: 1093   Komentar: 3   1

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali dengan terpaksa kita harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak menyukai diri kita.  Rasa tidak suka ini muncul karena adanya perasaan iri di dalam diri seseorang.  Semakin tinggi kita berada semakin tinggi pula jumlah orang yang tidak menyukai kita.  Setinggi atau lebih tinggi dari  jumlah orang-orang yang menyukai kita.

Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah jika ketidaksukaan orang kepada kita itu tidak mengganggu aktivitas kehidupan sosial kita baik di rumah atau pun di kantor.  Dan ketika ketidaksukaan orang kepada kita mulai mengganggu, cobalah untuk tidak melakukan pembalasan dengan perbuatan yang sama dengan perbuatan orang yang tidak suka kepada kita.

Mendoakan kebaikan kepada setiap musuh kita pun bisa menjadi solusi yang baik dalam mengatasi gangguan tersebut.  Selain tidak akan menyakiti siapa pun, image kebaikan kita pun tetap terjaga.  Berikut ini pengalaman saya dalam mengatasi orang-orang yang tidak menyukai saya.

Tetangga saya selalu saja marah-marah jika anak-anak keluarga saya bermain di jalan depan rumah sebuah kompleks perumahan.  Kemarahannya bukan hanya dengan makian, namun juga dengan perbuatan, seperti menyiramkan air got kepada anak-anak yang lewat bersepeda di depan rumahnya.  Ia juga kerap memprovokasi para ibu-ibu agar saling bermusuhan.  Mengalami hal seperti itu berulang-ulang membuat saya mendoakan agar ia dapat memperoleh rezeki yang lebih hingga bisa membeli rumah yang lebih bagus dari rumah yang sekarang ditempatinya.

Beberapa waktu kemudian benar saja, tetangga saya pindah ke perumahan elit.  Sejak itu, saya dan tetangga yang lain bisa dengan nyaman dan aman tinggal di kompleks itu.

Seorang senior saya begitu sakit hati ketika mengetahui sayalah yang mendapat promosi di tempat kerja.  Teror pun dimulai.  Mulai dari menentang setiap kebijakan yang saya buat hingga mencoba memecah belah persahabatan yang terjalin di kantor.  Bekerja jadi tidak nyaman untuk semua orang.  Saya pun kerap mendoakan agar senior saya itu bisa mendapatkan peningkatan karier di tempat lain.

Beberapa waktu kemudian senior saya itu mengundurkan diri karena mendapatkan jabatan yang lebih tinggi di tempat lain.  Sejak itu kinerja setiap orang di kantor pun meningkat.  Hubungan silaturahim pun menjadi erat.

Belajar dari pengalaman itu, maka setiap kali ada orang-orang yang mencoba menzolimi saya, saya pun segera berdoa kepada Tuhan agar memberikan yang terbaik untuk orang-orang tersebut.  Ternyata dengan mendoakan orang lain pun kita bisa mendapat kedamaian.

  • Jadi, tak perlu khawatir jika tiba-tiba kita mendapat musuh karena musuh itu bukan berarti refleksi dari diri kita yang kurang bisa menyenangkan hati orang.  Lagi pula, siapa yang tidak punya musuh? Dari politikus, artis hingga nabi semua punya musuh. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa menyelamatkan diri kita dengan cara yang amat manis.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 7 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 12 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: