Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hattori Hanzo

Bekerja di pabrik 'racun' dan sedang mencari pekerjaan lain yang lebih 'manusiawi' dan menetramkan hati.

Gas Air Mata, Sejarah dan Cara Mengatasinya

REP | 01 April 2012 | 18:36 Dibaca: 2236   Komentar: 2   0

Polisi Menembakkan Gas Air Mata

Polisi Menembakkan Gas Air Mata

Gas air mata selalu menjadi andalan polisi untuk membubarkan kerumunan massa pada setiap aksi demonstrasi. Gas air mata yang menimbulkan efek perih di mata dan gatal di hidung serta tenggorokan kering membuat banyak para pengunjuk rasa kocar-kacir menghindarinya.

Dahulu, sebelum ditemukan gas air mata, polisi menggunakan tepung terigu. Pertama kali digunakan polisi di Paris, saat unjuk rasa buruh pabrik Mei 1909, di awal periode kebangkitan industri.

Gas Air Mata

Gas Air Mata

Pada pertengahan tahun 1920-an komponen utama gas air mata dibuat dari Chloroacetophenone yang disingkat  CN. Namun penggunaan CN tidak lama, karena pada tahun 1928 telah ditemukan formula lain yang dianggap jauh lebih dahsyat. Ortho-Chlorobenzylidene Malononitrile disingkat  CS, sama seperti inisial nama penemunya, Corson dan Stoughton. Dan tahun 1959 penggunaan CN sepenuhnya diganti CS karena terbukti lebih potensial dan kandungan racunnya lebih sedikit.

Gas air mata tidaklah berbahaya, tapi efek yang ditimbulkannya akan bertahan dalam waktu yang cukup lama,  berupa gangguan terutama pada saluran pernapasan, pencernaan, dan sistem peredaran darah. Selain itu, efek susulan yang akan timbul berupa rasa mual, mulas, dan diare. Dalam jangka waktu panjang saluran pencernaan menjadi amat rentan dan lebih sensitif.

Mengatasi Gas Air Mata

Pengunjuk rasa dan Polisi biasanya menggunakan odol/pasta gigi untuk mengatasi gas air mata. Mereka mengoleskan pasta gigi di wajahnya, khususnya di area bawah mata untuk mengurangi rasa perih.

Membuat Gas Air Mata Sendiri

Anda tertarik membuat gas air mata sendiri?

Dengan menggunakan bawang merah dan mercon anda bisa membuatnya. Caranya dengan mengambil air perasan bawang merah, kemudian dicampurkan ke dalam mercon/petasan, lalu keringkan mercon sampai benar-benar kering dan bisa dibakar.

Apabila mercon dibakar akan mengeluarkan asap yang sangat pedih bila terkena mata. Tapi sebaiknya jangan coba digunakan :)

Dari berbagai sumber.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melongok Dapur Produksi Pesawat Boeing …

Bonekpalsu | | 20 December 2014 | 07:30

Merenungkan Sungai dalam Mimpi Poros Maritim …

Subronto Aji | | 20 December 2014 | 09:46

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Ckckc… Capung Ini Harganya 48 Juta …

Muslihudin El Hasan... | | 20 December 2014 | 05:13

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 6 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 6 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: