Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Bunda Hanna

seorang ibu rumah tangga

Mengintip Perselingkuhan

OPINI | 27 March 2012 | 15:56 Dibaca: 2481   Komentar: 3   2

Alkisah, ..

Di sebuah ruang kantor, seorang laki-laki beristri dan beranak berusia 52 tahun, berbusa-busa menceritakan serunya berhubungan dengan mantan pacarnya yang ternyata sekarang seorang janda. Diawali dengan kisah pertemuannya via FB, kemudian bertukar nomer hape, dilanjutkan dengan sms-sms lebay, kemudian perjanjian untuk bertemu di suatu kedai.

Mulailah laki-laki beristri ini membanding-bandingkan istri dengan mantan pacarnya. Juga sanjungan-sanjungannya yang bak remaja baru mengenal puber terhadap mantan pacarnya. Sampai salah seorang yang risih dengan kisah-kisahnya menegur dengan sopan,

“Ada kemungkinan jadi yang kedua, pak?”

“Oh,.. ndaaakkk…, saya hanya main-main saja kok,” jawabnya  sembari mengangkat bahu sambil tangannya  bergoyang-goyang memberikan penolakan yang sangat.

“Kok tega sih, pak … mempermainkan perasaan wanita,” desak seseorang ini.

“Halah, … sekedar begini sih ga apa-apa to? Wong semuanya juga suka sama suka,” si Bapak ini sudah mulai kelihatan tidak suka.

“Ya sudah kalau begitu, Pak. Cuma saya heran saja. Bapak kan punya dua anak gadis. Sekiranya anak gadis Bapak diperlakukan seperti itu, apa Bapak rela?”. Pungkas seseorang temannya ini sembari ngeloyor pergi.

Sontak si Bapak itupun terdiam. Sejak saat itu, si Bapak tersebut tidak pernah lagi menceritakan serunya CLBK dengan mantan pacarnya.

Suatu saat, dia berujar,” Saya sekarang sudah ndak berhubungan lagi sama mantan. Kapok.”

Yah,.. semoga saja semuanya benar adanya.

Shobat yang berbahagia, …

Katanya selingkuh itu nikmat. Kurang tahu persis, nikmatnya ada di mana. Hanya saja, saya sebagai seorang istri dan ibu, melihat bahwa kenikmatan yang dimaksud tentu bertumpu pada kepedihan pihak-pihak tertentu. Terus terang, beberapa hari ini saya dikelilingi oleh kisah perselingkuhan yang membuat saya tergerak menuliskannya .

Pertama, kisah rekan kerja suami saya sebagaimana saya tulis di atas. Perselingkuhan yang bisa jadi masih dalam batas ‘masalah hati’.

Kedua, kisah teman dekat yang berselingkuh yang juga diawali dari chatt via FB atau YM. Padahal jarak diantara mereka terbentang antara Bandung dan Timur Tengah. Rupanya Jakarta merupakan tempat yang dipilih mereka untuk memuaskan dendam rindunya.  Meski kisah ini berakhir juga karena keburu ketahuan istri sang laki-laki, namun saya harus kehilangan teman dekat ini karena dia malu kasusnya terbongkar. Sampai sekarang tak ada kontak sama sekali, bahkan sms-sms saya juga tidak pernah dibalasnya. Wallohu a’lam, apa penyebab dia menjauhi saya.

Ketiga, kisah orangtua teman anak saya, sekaligus kami juga sudah berteman lumayan akrab. Ketika sekian tahun yang lalu saya mendengar dia minta cerai kepada suaminya, saya sempet bertanya-tanya. Ada apa gerangan ? Ketika itu terselip su’udzon pada suaminya. Sampai kemudian dua bulan yang lalu saya mendengar dia melahirkan anak ke 5 (kelahiran anak ke 4-nya saya tidak tahu), saya berpikir,.. ohhh…, mereka sudah rukun kembali. Ternyata … oh ternyata, … beberapa hari kemarin sang istri mengumpulkan tetua masyarakat setempat, kemudian minta diceraikan oleh suaminya saat itu juga. Apa pasal ? Ternyata sang istri  telah berpindah ke lain hati. Saya shock mendengar kisah ini, karena langsung mikir nasib ke 5 anak-anak yang ditinggal ibunya mengejar belahan hatinya.

Kisah ke empat, perselingkuhan sepasang suami istri. Suami berselingkuh, istri berselingkuh. Tapi dua-duanya masih saling mencintai, dan dua-duanya saling memahami perselingkuhan pasangan masing-masing. Saya sampai mumet mikirnya. Sulit mengerti, apalagi memahami.

Kisah ke lima, baru saya dengar dari tetangga yang curhat dengan deraian airmatanya. Iba sekali saya melihatnya. Dari awal, belasan tahun yang lalu saya melihatnya seperti orang yang menderita tekanan batin. Tapi tentu saja saya tidak berani bersu’udzon. Sampai kemarin terpecah tanggul pertahanannya, betapa sejak awal menikah dia menjadi sapi perah, berkarir cemerlang di kantor, tapi tak punya kuasa memegang serupiahpun penghasilannya. Kecuali kalau dia kebetulan mendapatkan uang sampingan dalam bentuk cash. Nah, sang suami berfoya-foya dengan penghasilan istri untuk berselingkuh dengan mantan pacarnya, sejak awal pernikahan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk minta cerai. Terlepas dari akibat perceraian tersebut bagi anak-anaknya, kok saya sangat mendukung langkah dia, ya.. :D:D:D

Berbicara masalah hati, koridornya hanya : jangan menyakiti. Jika pun itu harus terjadi, jangan sampai ada kesengajaan. Setidaknya itu prinsip saya.

Maka, bagi para suami, ketahuilah, .. bahwa (banyak) para istri yang sanggup diajak berkubang dalam nestapa. Memulai hidup dari nol. Dan itulah lahan istri bertanam benih amal. Dan selama hatinya tetap terjaga,.. para istri ini akan tetap ikhlash menjalani segenap suka duka berumah tangga.

Demikian juga para istri, harus dipahami bahwa setiap tetes keringat suami adalah siraman bagi benih cinta yang telah terbingkai dalam kebersamaan rumah tangga. Maka memelihara kesucian hati dan diri cukuplah sebagai imbalan bagi segenap pengorbanan suami.

Hingga ketika usia kebersamaan membuka segala hal baik dan buruk suami ataupun istri, mestikah berpaling harus menjadi solusi?

Saya teringat pada sebuah kisah di jaman Nabi :

Suatu ketika datanglah seorang pemuda kepada Nabi Muhammad SAW. Pemuda itu datang untuk meminta izin melakukan perbuatan yang sangat tercela, salah satu dosa besar, perbuatan yang melanggar norma, yaitu berzina. “Wahai Rasulullah bolehkah aku melakukan zina”? Mendengar permintaan yang aneh dan sangat menyebalkan itu mestinya beliau berhak marah. Ternyata beliau tidak marah. Rasulullah SAW pun berkata kepada sang pemuda, “Wahai Pemuda, aku ingin bertanya terlebih dahulu kepadamu. Jika ada seseorang datang kepadamu kemudian ia bicara kepadamu, “Bolehkah aku menzinai ibumu?” Sang pemuda itu pun lantas menjawab dengan lantang, “Tidak!”.

Rasulullah Muhammad SAW kemudian bertanya lagi kepadanya, “Jika datang seorang laki-laki kepadamu dan bertanya kepadamu, “Bolehkah aku menzinai saudara perempuanmu?” Sang pemuda tersebut dengan geram dan emosi menjawab tidak.

Nabi besar Muhammad SAW pun melanjutkan pertanyaannya. Kata beliau, “Jika datang seorang laki-laki kepadamu dan bertanya kepadamu, “Bolehkah aku menzinai anak perempuanmu?’’ Sang pemuda pun terdiam dihadapan Rasulullah dan kemudian ia menangis sujud dihadapan Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada sang pemuda, “Setelah engkau mendengarkan ceritaku tadi apakah aku akan mengizinkanmu untuk melakukan zina? “Sang pemuda tadi terkulai, menangis, dan berkata, “Maafkan aku ya Rasulullah”. Rasulullah SAW menyuruh pemuda itu berdiri, “Mohonlah ampun kepada Allah SWT dan jangan pernah terlintas lagi dalam pikiranmu apalagi sampai melakukan perbuatan zina. Sesungguhnya telah disampaikan kepada kita melalui Al Quran bahwa kita harus menjauhi zina karena kesemuanya itu akan membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT.”

Wallohu a’lam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 7 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 12 jam lalu

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: