Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gunawan Wibisono

puisi adakalanya menggantikan rembulan diwaktu malam dan hadir menemanimu di siang hari tatkala hatimu gundah selengkapnya

Ngemis, Salah Satu Alternatif Pekerjaan yang Mapan

OPINI | 21 March 2012 | 19:12 Dibaca: 288   Komentar: 10   1

Pagi ini dalam perjalanan saya menuju kantor, saya terhenti karena traffic lights di salah satu perempatan jalan utama yang saya lalui menyala merah.

Sambil menunggu lampu menyala hijau, pandangan saya tertumbuk pada beberapa orang pengemis yang diantaranya seorang ibu sambil menggendong anak balita “sedang bekerja mengemis” dengan penuh kesabaran. Mereka menadahkan tangan, menghiba mencoba mengetuk hati para pengendara agar sudi bersimpati setidaknya memberikan uang recehnya.

Sepintas, mereka adalah bagian dari kaum duafa yang layak disantuni. Iseng-iseng saya mencoba berhitung mengenai pendapatan mereka.

Traffic lights di perempatan jalan utama tempat kendaraan saya berhenti, lampu merah menyala selama lebih kurang tiga menit. Artinya, jika seorang pengemis memperoleh penghasilan rata-rata seribu rupiah saja setiap tiga menit maka ia akan memperoleh dua puluh ribu rupiah selama satu jam kerja mengemis.

Jika seorang pengemis bekerja selama delapan jam sehari sebagaimana umumnya jam kerja para pekerja kantoran maka penghasilan yang diperolehnya adalah sebesar seratus enam puluh ribu rupiah dan jika ia mengemis selama tiga puluh hari penuh maka penghasilan yang diperolehnya menjadi sebesar empat juta delapan ratus ribu rupiah.

Angka empat juta delapan ratus ribu rupiah ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penghasilan pegawai negeri golongan IIIa dengan masa kerja 0 tahun yang berada pada kisaran dua jutaan rupiah saja.

Pantas saja, jika selama ini pemerintah sulit sekali menghentikan pekerja “ngemis” ini, mengingat penghasilan yang diperoleh ternyata cukup besar. Jika seorang ayah yang bekerja sebagai pengemis lalu mempekerjakan beberapa orang anaknya yang lain untuk melakukan hal yang sama tentu dapat dibayangkan penghasilan yang mereka peroleh setiap harinya.

Saya dapat memahami kenapa selama ini pemerintah kesulitan menghentikan pekerjaan mengemis, mengingat di jalanan, kaum pengemis telah menemukan kebahagiaannya sendiri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 5 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 10 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 11 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengabdi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Usai Gasak Malaysia, Timnas Justru Takluk …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Nama Makanan yang Nakutin …

Arya Panakawan | 9 jam lalu

Gelar Terpental demi Sahabat Kental …

Adian Saputra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: