Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Venus

diam dan belajar ... salam ukhuwah ^ ^

Tentang Aku , Kamu dan Kita ( Wanita )

OPINI | 20 March 2012 | 15:54 Dibaca: 870   Komentar: 36   7

133221165643374517

Suatu pesan tentang kehidupan yang sedikit banyak memberikan inspirasi dan ilmu padaku, bagaimana seorang wanita bisa tegar menjalani kehidupan meski terpaan datang silih berganti. Meski sering hatinya tergores dengan sikap, kata-kata ataupun peristiwa yang sedikit banyak menggores kalbunya. Seperti ibuku pernah berpesan pula padaku, bahwa seorang wanita itu ibarat gunung yang terjal, tinggi dan penuh wibawa dengan segala pesona dan auranya. Seorang wanita ibarat samudera luas nan menyejukkan yang dapat menerima segala ‘filler’ bahkan kotoran dari berbagai penjuru. Tapi siapa sangka ia bisa juga membuat dentuman keras dan memporak porandakan segala isi. Semisal gunung merapi yang menggelegar dengan letusannya, kemudian lautan yang bisa menimbulkan tsunami di beberapa tempat di dunia ini. Sekiranya begitulah wanita dengan segala kelembutan dan keganasannya. Namun, satu hal yang bisa ia gunakan untuk menghalau letusan ataupun gelora badai samudera, ialah hati-nya.

Menengok cerita-cerita  di masa lalu, seperti misalnya cerita malin kundang dan ibunya, kemudian kisah-kisah nyata seperti yang terjadi di kehidupan ini, semisal seorang ibu yang telah disakiti oleh anak-anak ataupun suaminya, namun tetap saja ia dapat menerima mereka semua dengan lapang dada, serta masih banyak lagi kisah dan cerita seperti itu. Semua itu tak lain adalah, bahwa seorang wanita telah terdidik oleh Tuhan untuk menjadi kuat, lembut, tegar, bijak dan pandai tersenyum meski duka dan kegetiran menusuk kalbunya. Rapat-rapat ia simpan didalam hatinya karena tak mau orang-orang disekelilingnya yang ia cintai merasakan kedukaannya. Bagaimana Tuhan bisa sesempurna itu memberikan keistimewaan pada hati seorang wanita. Dengan hati ia bisa tertawa, menangis, bahkan bisa menjadi motivator penuh cinta kepada orang-orang disekelilingnya disaat mereka membutuhkan kekuatan untuk melangkah dalam keraguan dan keputusasaan.

Namun akankah selalu dengan hati ia akan tetap tegar, selalu bisa berlapang dada, berbesar hati, bersikap netral dan berusaha menyenangkan orang-orang disekitarnya? Bersikap setegar mungkin bisa menerima keadaan yang membuatnya sedih atau bahkan kecewa karena masa lalu atau masa sekarang, lalu acuh tak acuh dengan apa yang dia dengar, apa yang dia rasakan meski semua itu menggores hatinya demi sebuah usaha untuk menjunjung tinggi persahabatan, cinta, hubungan dan lain-lain. Tapi ketika dia menangis, siapa yang akan meredakan tangisnya? Ketika dia berduka, siapa yang akan menghapus dukanya? Mampukah orang-orang di sekelilingnya mendengar tangis di hatinya? Mampukah jeritan ngilu di hatinya terdengar oleh mereka? Lalu bolehkan dia berharap timbal balik kepada mereka?

Jawabnya adalah TIDAK! Itulah yang disebut dengan memberi tanpa pamrih dari hati seorang wanita. Biarpun ia dihantam seribu kali terpaan namun wanita tetap bisa mengolah hatinya. Mungkin hal ini sesuai dengan “ungkapan Tuhan” dibawah ini:

” Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan “

“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya “

“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh “

“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya “

“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya “

“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu “

“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 18 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 19 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Kartu Kuning M Taufik dan Hukuman Mati bagi …

Hsu | 9 jam lalu

Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo …

Teguh Sunaryo | 9 jam lalu

Keluarga Pembaca …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

KMP Mengincar posisi Menteri …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: