Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Syafiq

Mencoba kembali menjadi Manusia.

10 Orang Termiskin di Dunia

OPINI | 08 March 2012 | 09:31 Dibaca: 11307   Komentar: 0   0

13311990601991969545

Senyum ditengah kemiskinan…

Tiba-tiba saja saya menjadi gemes dengan pemberitaan di media massa yang berulang-ulang baik di koran, teve, maupun internet mengenai 10 orang terkaya didunia. Disebutlah satu demi satu nama siapa-siapa saja dengan kekayaan sekian dolar lengkap dengan fluktuasi harta kekayaannya yang paling update. Kita sudah sangat akrab dengan yang namanya Bill Gates maupun Warrent Buffet, bahkan kalau tidak salah dulu sewaktu masih di bangku smp ada pertanyaan konyol tentang siapa orang terkaya didunia pada waktu itu.

Berita seperti ini menurut saya kok manfaatnya sedikit sekali dan bahkan tidak ada. Apa dengan membacanya kemudian kita menjadi terinspirasi lalu semangat dalam bekerja? Saya kita tidak, paling banter juga kita cuma kagum lalu bilang ”Wow”. Coba kalau dibalik ”10 orang termiskin didunia”, memang sih nggak komersil tapi paling tidak berita seperti ini justru akan menumbuhkan rasa simpati dan empati dalam diri kita, memberikan kesadaran kita untuk bersyukur dan untuk mencarinya pun nggak perlu susah-susah keliling dunia, cukup di Indonesia saja dan itu lebih dari cukup. Tapi siapa juga yang mau ngubek-ngubek nyari orang-orang miskin.

Untuk saudaraku yang saat ini sedang terkena bencana banjir, tanah longsor, gunung meletus, air laut meluap, yang terlilit kemiskinan, yang menderita busung lapar, gizi buruk, kekurangan air bersih, diserang wabah ulat bulu dan kelelawar, serta berbagai keprihatinan lain yang beribu-ribu (mungkin berjuta-juta) jumlahnya, yang tak kunjung mendapat perhatian dari pemimpinnya, saya ucapkan terimakasih sekaligus maaf yang sebesar-besarnya, terimakasih karena telah menyadarkan saya untuk senantiasa bersyukur dan maaf karena saya belum bisa membantu meringankan beban kalian sepenuhnya.

Doa saya tidak pernah terputus untuk kalian. Yah, kita sekarang seperti ayam yang mati di lumbung padi, menderita di negeri sendiri, namun jangan pernah sekali-kali putus asa. Bumi tak selamanya berselimut malam, esok akan datang bersama terangnya cahaya dan sejuknya udara. Ini bukan harapan, tetapi kepastian, kita ini bangsa yang tangguh, sesusahnya-susahnya kita, kita masih bisa tertawa-tawa. Kita selalu mempunyai bahan unutk tertawa, sekecil apapun itu. Bukankah tersenyum ditengah-tengah kesedihan itu berat? Tapi toh kita masih bisa tersenyum. Sebenarnya pemerintah Republik Indonesia itu sangat mudah sekali tugasnya, tidak usah muluk-mulk mau memberantas korupsi segala, wong yang memberantas itu juga pada nuggu giliran buat korupsi. Sepakbola sajalah, dibikin yang hebat. Paling tidak di level Asia Tenggara. Wes, dijamin rakyat bakal seneng. Dan nggak minta yang macem-macem. Rakyat Indonesia itu cuma minta kegembiraan, kalau nggak bisa buat rakyat gembira mbok ya nggak usah ngriwuk’i kegembiraan rakyat. Yang dengan bekal itu mereka bisa bertahan hidup ditengah negeri ajur mumur ini. Tidak sembarang orang bisa hidup dalam kondisi negara yang seperti ini. Dibutuhkan orang-orang yang mampu menciptakan kegembiraan untuk sendiri, dan kemampuan itu dimiliki oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Eh, ini pemerintah dengan kekuasaan yang dimilikinya malah membuat rakyat semakin susah. Pemerintah macam sandal jepit ini mah.

Keep smiling friend.
Create your own happiness.

Tags: 10 freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 11 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 11 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 11 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: