Artikel

Catatan

Akbar Pitopang

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

#Life is full of INSPIRATION then make it something that can INSPIRE themselves and others#

Si Mbah Dengan Bakulnya Telusuri Jalan di Malam Minggu


REP | 25 February 2012 | 21:51 Dibaca: 81   Komentar: 10   2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif

1330181166769066006

http://fotodedi.wordpress.com/2010/11/19/wanita-jogja-tegar-hingga-renta/

Sehabis maghrib tadi saya keluar untuk membeli makan malam karena perut saya terasa lapar. Saya pergi ke warung tersebut berdua dengan teman. Kami membelinya untuk di bungkus untuk dimakan di asrama.

Ketika hendak kembali ke asrama, saya melihat ada si mbah (sebutan untuk nenek kalau di Jogja) yang lewat didepan kami dengan membawa bakul. Saya tidak tahu apa yang ditenteng oleh si mbah itu. Tapi dari sekilas saya melihat beliau menjual gorengan.

Hati saya merasa iba melihat si mbah itu. Di dalam hati saya bermaksud untuk memberikan makanan yang saya beli untuk si mbah itu. Seketika waktu itu perut saya jadi tak terasa lapar.

Namun entah apa yang terjadi, kami akhirnya kembali ke asrama. Di perjalanan saya masih memikirkan si mbah itu. Apakah beliau sudah makan? Sepertinya belum. Beliau seperti tidak kuat membawa bakul yang ditenteng di punggungnya itu. Beliau agak terseok-seok membawanya. Mungkin bakulnya lumayan berat. Mungkin beliau sudah berjalan menyelusuri kota Jogja seharian ini. Saya juga tidak tahu.

Ketika tiba di asrama kami langsung menyantap makan malam yang tadi dibeli. Lagi-lagi saya kembali teringat si mbah itu. Kenapa tadi saya tidak memberikan nasi yang akan saya makan ini kepadanya? Ya tuhan… maafkanlah hamba..

Ini benar-benar membuat hati saya gelisah. Akhirnya setelah makan saya putuskan untuk bertemu dengan beliau. Saya meminjam sepeda teman.

Saya coba menyusuri jalan yang kemungkinan besar dilewati oleh si mbah itu. Saya terus mengayuh sepeda berharap bisa menemukan beliau. Beberapa gang saya coba telusuri namun nihil. Di jalan saya terus memandang ke pinggir jalan mungkin saya beliau sedang beristirahat. Lumayan jauh jalan yang saya coba telusuri namun lagi-lagi hasilnya nihil. Saya tidak menemukan si mbah itu. Kemanakah beliau pergi? Apakah beliau masih aman?

Di perjalanan kembali ke asrama saya coba memandang ke sisi jalan sebelah kanan. Mungkin saja tadi terlewati. Namun, tetap saya tidak dapat menemukannya lagi. maafkan saya mbah…

Saya benar-benar merasa bersalah. Merasa menyesal. Dan merasa kesal kepada diri saya sendiri. Kenapa saya tidak memberikannya langsung? Apa yang saya pikirkan? Kenapa kaki ini malas untuk melangkah mendekatinya? Sekali lagi, maafkanlah sikap hamba ini tuhan… maafkan saya mbah…

Saya akhirnya hanya menyesali sikap bodoh ini.

Kenapa ya si mbah itu masih berjualan seperti itu? Apakah beliau tidak memiliki anak? Atau apakah anak-anaknya membiarkannya tetap seperti itu?

Di Jogja ini saya sering sekali menemukan si mbah-si mbah yang berjualan seperti itu. Kerika saya perhatikan tidak terlalu banyak orang yang membeli jualannya. Kenapa ya?

Aduh… ya tuhan hati saya masih merasa bersalah… saya hanya mendoakan si mbah itu aman di perjalanan. Mudah-mudahan saja beliau ternyata sudah tiba di rumahnya makanya saya tidak dapat menenukannya. Semoga saja demikian dan semoga saja jualanya ada yang beli.

Katakana pada hati ini, jangan mengulangi sikap seperti itu. Lakukanlah kebaikan. Jangan enggan untuk bersedekah. Jangan malas untuk melangkahkan kaki memberikan sesuatu untuk mereka yang membutuhkan. Jangan takut hal itu akan merugikan kita. Sedikit pun hal itu tidak akan merugikan kita. Jangan terus-terusan mendengarkan ajakan setan. Sekali-kali ulurkan tangan untuk mereka. Berikan sedikit rezki yang telah dititipkan tuhan untuk kita…

Tuhan, ampunilah hamba… mbah, kapan kita bisa bertemu lagi?


Penyesalan di malam minggu

Pertemuan dengan hamba tuhan yang meneduhkan hati

25 Februari 2012

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: