Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Abdulwahid Saraha

Anak gunung Kie Matubu Tidore yang selalu berusaha menjadi lebih baik dalam segala aktivitas keseharian...

Modus Perampokan Bagasi di Bandara Makin Canggih (Terjadi di Bandara Soekarno- Hatta, Bagasi Utuh Isinya Raib)

HL | 19 February 2012 | 01:58 Dibaca: 2376   Komentar: 29   1

1329571582438485739

admin/ilustrasi(shutterstock)

Kamis, 16 Pebruari 2012 adalah hari yang sangat sial bagiku. Di hari itu saya kehilangan sesuatu barang yang menurutku paling Sangat Berharga. Meskipun Barang tersebut telah terbungkus rapi dalam tas dan dimasukkan dalam bagasi pesawat Sriwijaya Air di Bandara Sokearno-Hatta Cengkareng Jakarta, tetapi bisa lenyap juga tak meninggalkan bekas sedikitpun. Anehnya meski isi tasnya raib entah kemana, tetapi Tas nya masih utuh dan gembok yang dipakai untuk mengunci tas masih terpasang di tempatnya tidak mengalami kerusakan sedikitpun.

Kronologi kejadian bermula dari kepulangan saya dari Jakarta menuju Ternate menggunakan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 598 . Saya keluar dari penginapan saya di Jalan Jaksa tepat pukul 10.00 WIB. Tiba di Terminal IB Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 10.30 WIT. Saya hanya memiliki 1 tas kopor berwarna Coklat berkombinasi warna krem. Setelah tas saya ditimbang dan ditempeli label bagasi oleh petugas san selanjutnya membayar airport tax, saya menuju ke ruang tunggu di pintu B6. Di ruang tunggu saya sempat berbaring dan tertidur pulas sampai akhirnya dibangunkan oleh panggilan petugas kepada penumpang untuk masuk ke dalam pesawat.

Sekitar pukul 01.00 dini hari pesawat kami lepas landas menuju Makassar. Waktu tempuh sekitar 2 jam, kami pun mendarat mulus di Kota Daeng ± pukul 04.00 WITA. Tak berselang lama transit, kami dipanggil masuk ke pesawat untuk melanjutkan perjalanan menuju Ternate. Hanya butuh waktu 1 ½ jam, pesawat kami pun landing sempurna di Bandara Sultan Baabullah di Ternate. Waktu setempat menunjukan pukul 08.00 WIT.

Seperti biasa setelah tiba di bandara, seluruh penumpang sibuk menunggu dan mengambil bagasinya. Tidak begitu lama menunggu, sudah mendapatkan bagasiku berupa 1 buah tas kopor. Ketika di ambil, tas saya tidak ada sedikitpun terlihat tanda-tanda kerusakan. Masih utuh dan mulus tak ternoda. Sayapun keluar bandara bersama 2 orang teman yang berasal dari Tidore. Kami bertiga menyewa sebuah kendaraan di Bandara menuju Pelabuhan Bastiong. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi dengan menyewa sebuah Spitboat tujuan Tidore. Hanya butuh waktu sekitar 7 Menit, Spitboat kami merapat di Pelabuhan Rum Tidore. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah masing-masing.

Tiba di rumah, saya langsung membuka tas koporku untuk, dengan maksud memerlihatkan ole-ole yang dipesan oleh istri sama anak-anak saya. Barang pertama yang kucari adalah Hand Phone merk Blueberry pesanan anak keduaku bernama Allisa Humaira Saraha yang masih duduk di Kelas I SDN 2 Indonesiana. HP yang dipesannya ketika saya masih di Jakarta. Ketika pulang dari sekolahnya, dia langsung menanyakan HPnya, saya yang belum melihat isi kotak HP, langsung menyerahkan kotak HP Blueberry yang ada di dalam kopor. Saya terkejut ketika anak saya mengatakan bahwa di dalam kotak HP tersebut tidak ada HP di dalamnya. Saya seakan tak percaya lantas mengambil kotak HP tesebut dan memperhatikan isinya. Ternyata betul setelah kuacak-acak isi kotak hp tersebut, yang ditemukan hanya, charger, kabel data, headset, pembungkus nomor kartu perdana dan nota pembelian. Saya langsung mengingat-ingat kembali, waktu saya masukkan hp dalam tas, saya yakin sekali semuanya sudah masuk dalam kotak HP. Anakku tetap tidak percaya, dan menganggap saya telah berbohong tidak mebelikan HP buatnya. Saya hanya bisa pasrah sambil memegang dan menatap kotak hp Blueberry yang masih mulus mengkilap.

Tak berselang lama saya memikirkan kehilangan hp, saya baru teringat bahwa tadi saya juga memasukkan laptop kesayangan saya merek Sony Vaio ke dalam tas kopor juga. Langsung saja isi kopr saya buka satu persatu. Tapi sungguh aneh, laptop saya tidak ditemukan. Masih penasaran, saya kembali mengobok-obok isi tas saya satu persatu, hasilnya sama laptopku tetap tidak ditemukan. Saat itu saya baru tersadar bahwa saya telah KECURIAN.

Tanpa menunggu waktu lama, saya mencoba menghubungi nomor operator telepon di Jakarta yatu 021-108 untuk menanyakan alamat Kantor Pusat Sriwijaya Air. Saya diberikan nomornya dan saya langsung menelepon ke nomor tersebut, dan diangkat oleh seorang petugas. Beliau menanyakan maksud saya dan saya langsung melaporkan kehilangan barang serta kronologi kejadiannya. Namun, saya mendapati jawaban yang membuat saya kehilangan semangat. “ Kalau barangnya dibuka setelah tiba di rumah, bukan lagi menjadi tanggungjawab kami pak”. Begitu ucapan dari petugas Sriwijaya Air. Saya lantas mengatakan ke yang bersangkutan, “ kalau saya tahu isi tas saya hilang ketika masih di Bandara Ternate, pasti saya langsung melapor mba”, “ tapi karena pada saat menerima barang, tidak ada sedikitpun tanda-tanda dimakan tikus bandara, semuanya utuh, makanya saya langsung bawa pulang ke rumah”. Setelah beberapa saat kami berdebat dan lagi-lagi saya hanya mendapat jawaban normatif dari petugas Sriwijaya Air yang terkesan tidak mau peduli dan menanganggap bukan tanggungjawabnya, maka sayapun mematikan HPku. Saya lantas mencari nomor telepon perwakilan Sriwijaya Air di Bandara Soekarno – Hatta. Setelah diketahui nomornya, saya langsung mengontak nomor tersebut. Namun setelah sekitar 10 kali menekan nomor dan terdengar jelas nadanya masuk/tersambung, tetapi tidak diangkat. Saya terus mencoba dan mencoba menghubungi, namun lagi-lagi hasilnya tidak diangkat.

Belum kehabisan akal, saya terus mencoba mencari nomor telepon Kantor Perwakilan Sriwijaya Air di Ternate. Setelah diperoleh nomornya, saya langsung menelpon dan diterima oleh salah seorang pegawainya. Saya menceritakan kejadian yang menimpa saya hari ini dan orang tersebut meminta saya untuk datang langsung ke kantornya untuk melapor. Bergegas saya menuju Ternate, mencari alamat kantor Sriwijaya Air dan langsung menemui pimpinannya. Di dalam ruang pimpinan yang belakangan kuketahui bernama Dimas Triantoro sesuai kartu nama yang diberikan kepadaku, saya menceritakan seluruh kronologi kehilangan barang saya. Pak Dimas terlihat serius mendegar cerita saya dan memperlihatkan rasa empatinya dengan sesekali menghujat pelaku pencurian tersebut. Saya sampaikan kepada beliau, “ Pak Dimas, mungkin kejadian pencurian bagasi penumpang di bandara sering kita dengar, tetapi yang menimpa saya kali ini sungguh aneh bin ajaib pa, karena Gembok tas saya yang memilki nomor kode yang hanya saya sendiri yang tahu, masih utuh. Tas saya tidak seditpun lecet”. “ Kalau gembok saya rusak dan tas saya juga sengaja dirusak, pasti kelihatan, tapi kenyataannya, tas saya tidak ada sedikitpun tanda-tanda bekas diopname sama tikus bagasi”. “ Hebat benar nih pencurinya”, ujarku. Pak Dimas mengatakan bahwa cerita tentang kelakuan tikus bandara yang sering mempreteli isi tas penumpang memang sudah lama jadi perbincangan. Tapi modus eperandi yang terjadi pada saya, baru didengarnya. Karena biasanya kalau ada barang-barang dalam tas yang hilang, biasanya terdapat tanda-tanda atau kerusakan. Tetapi aneh juga yang saya alami, tas dan gemboknya masih utuh, namun barang berharga di dalamnya raib tak berbekas. Pak Dimas meminta saya mencatat nama barang saya yang hilang, dan meminta nomor hp saya serta meminta nomor bagasi tas saya. Beliau mengatakan akan berupaya sesuai kewenangan yang dimiliki untuk menindaklanjuti laporan saya. Sebelum berpamitan, saya berpesan kepada Pak Dimas, “ tolong bapak sampaikan kepada saya hasil tindaklanjutnya. “ Berhasil ditemukan atau tidak, tolong diinformasikan ke saya lewat nomor hp saya 085394822999 atau lewat email saya abdulwahid_saraha@yahoo.com”.

Keluar dari Kantor Perwakilan Sriwijaya air di Ternate, hati saya sedikit lega karena Pak Dimas menerima saya dengan baik dan mau mendengar cerita dan curhatanku dan menunjukkan rasa empatinya kepadaku. Namun, dalam hati kecilku berpikir skeptis dan membayangkan bahwa mungkin hanya keajaiban yang bisa mengembalikan laptopku.

Mungkin kejadian yang menimpa saya ini hanya dianggap riak kecil yang tidak ada artinya, tapi bagi saya pribadi, ini merupakan kehilangan barang yang PALING SANGAT BERHARGA dalam hidupku. Betapa tidak, Laptop saya tersebut adalah perlengkapan kerja saya yang berisi seluruh data yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Pekerjaan yang merupakan sumber mata pencaharian saya untuk menafkahi istri dan anak-anak saya. Dan yang membuat saya semakin kehilangan gairah bekerja adalah isi laptop atau file didalamnya, tidak memiliki cadangan di tempat lain, karena saya belum sempat mengcopy dan menyimpannya di tempat lain. Diibaratkan pesawat yang sedang terbang, saat ini sayap-sayap saya telah patah dan hancur berkeping-keping atas kehilangan ini.

Saya tidak tahu harus mengadu kepada siapa, kepada pelaku yang mengambil barang saya, jelas sangat tidak mungkin. Yang mungkin saya lakukan hanya menyampaikan kepada pemilik jagad ini menjadi tambatan terakhir saya untuk mengadu. Tapi 1 hal yang membuat saya sangat kecewa adalah sistem pelayanan di negeri ini. Apalagi kejadiannya di Bandara Internasional yang konon katanya memiliki pelayanan terbaik se Indonesia. Pintu gerbang masyarakat dunia yang masuk ke Indonesia. Sangat aneh kalau di era kecanggihan sistem teknologi informasi seperti sekarang ini, kejadian perampokan bagasi penumpang tidak bisa terdeteksi kamera CCTV. Bagi saya kalau pihak Sriwijaya Air merasa peduli dan menunjukkan rasa tanggungjawabnya selaku maskapai yang penumpangnya kehilangan barang, saya yakin, pencuri laptop saya bisa dideteksi. Kalau bandara punya kamera CCTV, sangat sederhana untuk mendeteksi pelaku pencurian isi tas bagasi di Bandara. Karena hanya dengan menelusuri data kejadian yang terjadi pada tanggal dan jam berdasarkan laporan dari pihak yang kehilangan. Pasti kelihatan jelas aktivitas para tikus bagasi dalam melakukan aksinya. Saya yakin dengan cara demikian pelakunya pasti dapat ditemukan. Kecuali kalau pihak maskapai penerbangan, petugas bandara serta petugas bagasi memang sengaja berkomplot untuk berbuat kejahatan dengan tujuan menganiaya penumpangnya sendiri. Jika seperti ini, maka saya yakin citra Bandara Soekarno-Hatta sebagai bandara kelas dunia, cepat atau lambat tinggal menunggu waktu kehancuran.

Semoga kisah saya ini diambil hikmah dan menjadi pelajaran bagi siapapun yang hendak bepergian menggunakan pesawat terbang. Jangan sekali-kali memasukkan barang berharga anda di dalam tas yang dimasukkan dalam bagasi. Atau bila sangat terpaksa harus dimasukkan sebaiknya pada saat cek in, sampaikan kepada petugasnya untuk membuat berita acara penyerahan barang yang berisi detail isi tas yang ditandatangani diatas meterai oleh kedua belah pihak sehingga nantinya kalau ada yang hilang, pihak maskapai tidak punya alasan lagi untuk mengelak dengan argumentasi se klasik apapun. Saya beharap kedepan bukan hanya pihak yang terkait dengan pelayanan di bandara, tetapi bila perlu Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan bisa melihat hal ini sebagai hal yang tidak sepele, sehingga kedepan bakal ada langkah terobosan yang ditempuh untuk “membasmi” tikus dan tuyul bandara yang makin membuat para pelanggan pesawat makin takut dan was-was melebihi rasa takut dan was-was akibat goncangan pesawat ketika memasuki cuaca yang kurang besahabat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 15 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 15 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 16 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 16 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: