Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Pelangi Terindah

lantaran aku sering dikalahkan, aku cuma mampu menyumpah dan mengumpat. Karena ternyata cukup nikmat. Maka selengkapnya

Valentine’s Day dan Ustad Jupri

OPINI | 14 February 2012 | 19:13 Dibaca: 456   Komentar: 10   0

Maaf, kalau tidak salah dikalangan umat Islam, sudah sejak sepuluh terakhir ini, para kiayai dan ustad penjaga akidah melarang orang muslim merayakan Valentine, dengan berbagi alasan yang bisa diterima dengan akal sehat. Tapi setiap kali datang bulan Februari, para penjaga akidah itu seperti kebakaran jenggot berusaha ingatkan kembali agar remaja-remaja Islam tak ikut-ikut budaya yang tidak Islami itu.

Telah banyak ditulis berbagai versi tentang sejarah valentine’s day, banyak pula pro dan kontrra dikalangan Islam sendiri tentang boleh tidaknya rayakan Valentine’s day. Begitu juga telah banyak ditulis artikel-artikel tentang itu dari berbagai sudut pandang, bahkan ada yang mengemasnya dalam sudut pandang pesan universal Valentine’s Day semata membuang bingkai agama tertentu.

Artikel ini tidak berisi atau bermaksud mempertentangkan, boleh tidaknya remaja Islam merayakan hari kasih sayang. Tapi sekadar mengajak mawas diri. Mengapa kita (orang Muslim) amat phobi dengan Valentine’s Day. Lagi pula dasarnya artikel ini hanya simpati dan rasa kasihan pada para ulama yang saya hormati atas usaha yang tak kenal lelah setiap tahun nampak mati-matian selalu (hanya) mengimbau-imbau, imbau lagi, imbau lagi tetapi tidak mencari solusi yang menjadi persoalan mengapa remaja Islam “menyukai” Valentine’Day? Tentu saja uraian ini amat tidak ilmiah karena dibangun tidak berdasar postulat atau data akurat. Karena memang tujuan penulisan artikel sekadar sedikit sumbangsaran. Boleh jadi sebagai bacaan ringan.

Ketemu Ustad Jupri

Mungkin saya orang yang kurang beruntung, karena ceramah atau pengajian yang sering kali saya hadiri, baik di masjid-masjid besar, atau melihat dan mendengar lewat televisi atau radio, isi ceramah kebanyakan berputar-putar pada persoalan neraka dan surga. Dan selalu disampaikan dengan nada ancaman. Sangat sedikit ceramah yang membahas agama dari sudut sosial atau kehidupan sosial dalam pandangan agama. Apalagi amat jarang, kalau mau dikatakan tidak ada, pendakwah-pendakwah yang bicara tentang prilaku terpuji Rasulullah. Padahal dalam pandangan umat Islam betapa Rasulullah memiliki toleransi, kasih sayang yang amat besar terhadap sesama umat bahkan terhadap non muslim.

Sampai hari ini, hati saya selalu tergetar manakala mendengar cerita-cerita prilaku terpuji Rasulullah, misalnya saja tentang kesetiaan beliau menyuapi fakir miskin buta orang yahudi di sudut pasar, atau saat Rasullah menjenguk seorang kafir yang sakit, padahal orang itu pernah melempari pakaian Rasullulah dengan kotoran Unta.

Seperti yang sudah dikatakan, kebanyakan pendekatan ceramah dilakukan kebanyakan ustad dan kiayi selalu bersifat yuridis itu. Dalam pandangan saya yang naif ini, terasa kurang simpatik. Pendek kata, saya berkesimpulan ada metode yang salah dalam mengajarkan nilai-nilai Islam. Termasuk minimnya syiar tentang figur dan prilaku terpuji Rasulullah.

Nah kemarin pagi habis subuhan bareng dengan Ustad Jupri—seorang guru ngaji sekaligus pendakwah dan pengurus masjid besar di lingkungan rumah saya tinggal—saya cegat sang ustad sekadar ingin ngobrol lebih jauh. Terhadap beliau langsung saya sampaikan mengenai pokok-pokok pikiran saya tersebut diatas, utamanya, minimnya syiar tentang figur dan prilaku terpuji Rasulullah, yang intinya adalah cerminan kasih sayang pada setiap manusia.

Tentu saja sebelum mengutarakan itu, hati saya amat kacau dan berdegup keras lantaran khawatir sang Ustad bakal marah. Tak dinyana, sang Ustad malah terkekeh dan mengatakan saya ketinggalan. Belum sadar apa yang dimaksud dengan kalimat sang ustad, ustad Jupri menyambar :

Ane juga udah nyadarin lama soal itu, mengkenye ikutin ceramah-ceramah ane. Udeh ampir setaon ini materi ceramah ane rada beda ame nyang dulu-dulu. Pokoknye kaya yang ente bilang dah” Jawab Sang Ustad medok betawi.

Kemudian ustad Jupri menceritakan perihal perubahan cara dan materi dakwahnya semata karena ia mencari positioning di tengah “persaingan” munculnya pendakwah-pendakwah muda. Apapun tujuannya, apapun strategi ustad Jupri, setidaknya ia menyadari bahwa ada yang harus dirubah.

Jika saja lebih banyak syiar tentang kemulian akhlak Rasulullah, sebagai cerminan kasih sayang pada setiap manusia—dibanding masalah surga dan neraka—yang dilakukan dengan cara yang lebih persuasif dan memukau, mampu mengetuk hati paling dalam, niscaya pesona Santo Valentine, pendeta yang dipancung kemudian kematiannya diabadikan menjadi valentine’s day bakal tak punya magnet bagi remaja-remaja Islam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 8 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Tohirin El-ashry | 8 jam lalu

Jangan Jadikan NKRI Menjadi Dua Kubu [II] …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: