
Dibaca: 113
Komentar: 15
1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Cerita ini terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, aku adalah salah satu pemusik di gereja. Sebagai bagian dari tim musik, aku bersama teman-teman satu tim punya jadwal-jadwal untuk berlatih, terutama kalau ibadah di hari Minggu dijadwalkan menggunakan iringan band lengkap. Di gereja kami, ibadah tiap minggu diiringi oleh musik yang cukup bervariasi, yakni organ biasa, “full band”, dan gamelan.
Aku teringat salah satu kejadian unik di kala berlatih musik untuk mengiringi ibadah Minggu. Seperti biasa, kami berlatih di malam hari, sekitar pukul tujuh malam, dan selesai sekitar pukul sembilan. Latihan berjalan lancar seperti biasanya, dan kami sudah berada di penghujung latihan, ketika tiba-tiba salah seorang anggota jemaat yang sudah manula datang ke gereja.
Si mbah datang dengan baju rapi sambil membawa Alkitab. Seorang teman yang penasaran lalu bertanya kepadanya, ada apa datang malam-malam ke gereja. Si mbah memberikan jawaban yang waktu itu membuat kami terkejut sekaligus geli, karena ternyata beliau mau ikut kebaktian doa pagi. Oalah, rupanya si mbah menyangka hari sudah pagi dan sudah waktunya untuk ikut kebaktian doa pagi yang memang jadi salah satu program rutin gereja.
Bertahun-tahun setelah kejadian di malam itu, ingatan tentang si mbah ternyata tak hilang ditelan waktu. Meskipun waktu itu terasa lucu dan konyol, namun kesungguhan si mbah untuk menghadap Tuhan tiap pagi makin lama makin membekas di hatiku. Aku, yang seringkali merasa bangga dengan pencapaian-pencapaianku termasuk dalam hal kerohanian, ternyata belum memiliki kesungguhan seperti si mbah dalam menghadap Tuhan. Nyatanya, sampai saat terakhir aku tinggal di kota asalku itu, aku tak pernah sekalipun mengikuti kebaktian doa pagi!
Berapa banyakkah di antara kita yang seringkali menganggap ibadah sebagai ritual yang berulang belaka? Berapa banyak di antara kita yang akhirnya kehilangan “kasih yang mula-mula” kepada Tuhan, dan bahkan secara sadar maupun tidak, meletakkan Tuhan di dalam ruang antara ada dan tiada? Berapa banyak di antara kita yang menganggap doa hanya sebagai kewajiban sosial belaka? Si mbah mungkin tak banyak tahu teori-teori tentang keberadaan Tuhan, tapi yang jelas beliau telah menunjukkan betapa pertemuan dengan Tuhan itu terlalu berharga untuk dilewatkan. Si mbah tahu lebih dari sekedar teori, karena beliau telah mempraktekkannya!
Ah, aku jadi ingin tahu kabar si mbah. Mungkin beliau masih setia ikut doa pagi, tapi mungkin juga beliau sudah tak perlu berdoa karena sudah bertemu langsung dengan Tuhan. Mbah–yang aku lupa namanya, terima kasih untuk ketidaksengajaanmu datang di malam itu. Aku yakin, Tuhanlah yang memang menyuruhmu datang malam itu, agar kami yang muda-muda ini belajar sesuatu darimu: kesetiaan dan kesungguhanmu menghadap Tuhan. Semoga imanku terus bertumbuh dan kesetiaanku tak luntur hingga lanjut usia, bahkan hingga Tuhan memanggilku kembali kepadaNya dan mempertemukanku dengan si mbah yang rajin berdoa.