
Satu impian tercapai, impian berikutnya menunggu. Tugasnya menyelesaikannya satu per satu dengan baik
Dibaca: 85
Komentar: 2
Nihil
Cinta atau cinta pertama
tidak mengenal ruang, jika ia menghampiri, Anda tak bisa menolak atau pura-pura tak peduli. Peristiwa itulah yang menyergapku di Capolaga, sebuah tempat wisata, plus pelatihan dan perkemahan yang berada di Kampung Panaruban, Desa Ciracas, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Capolaga adalah kawasan wisata yang menyajikan suasana pengunungan yang segar dan hamparan kebuh teh yang menghijau.
Di daerah pengunungan inilah cintaku laksana tetesan gerombolan air yang turun dan mengaliri Curuk Capolaga bersama dengan semilir angin pengunungan yang sejuk.
Namanya aku sebut saja Zeen. Perkenalanku dengannya sudah terjadi beberapa jam sebelum kami berada di Capolaga. Sesaat sebelum menaiki truk tentara yang mengantar kami ke kawasan wisata itu, aku sebenarnya sudah penasaran pada lirikan pertamanya. Aneh bin ajaib, secepat itukah. Aku juga meragukan diriku sendiri, apakah itu bisa disebut cinta, atau hanya sekedar kekaguman, seperti aku mengagumi gadis-gadis lain pada umumnya? Entahlah, tapi kenapa ekor mataku selalu membututinya setiap saat ia jauh dari pandanganku?
Di Capolaga, ketika malam mulai menjemput, dan semilir angin yang membawa rasa dingin yang mengigit dan menusuk kulit, aku memutuskan untuk mendekatinya. Posisiku memang agak beruntung dibanding dengan pria-pria yang berpotensi jadi sainganku di sana, karena aku berasal dari golongan yang dikultuskan. Nilai plusnya, aku lebih mudah diterima meskipun mereka sudah saling kenal sebelumnya. Malam itu aku berusaha mencari-cari celah agar bisa mendekatinya, mulai dari membantunya dengan mengangkut air ke tenda, sampai dengan pura-pura merasa ada yang harus dijelaskan kepadanya. Semuanya mengalir jika keinginan sudah bergerak.
Aku memang bukan sosok Arjuna yang mudah memikat hati setiap gadis, tapi setidaknya aku mengikuti nuraniku yang mampu menuntunku terus “membututinya”. Awalnya, aku menempatkan diri sebagai penolong, tapi tidak lama kemudian berusaha menjadi teman. Gayung pun bersambut, ia merasa senang menerima bantuanku dan sumringah mendengar celotehan-celotehanku.
***
Orangnya sederhana,lugu, dan keibuan. Tapi kalau memperhatikannya lebih dekat, sorot matanya tajam, menunjukkan kepribadiannya yang kuat. Sehingga lirikannya bisa menggoda sekaligus mendebarkan jantung pria manapun yang menatapnya, tak terkecuali aku. Entah bagaimana mulanya, kamipun semakin sering bersama-sama dan mengerjakan banyak hal bersama-sama. Lelucon dan cerita lucu yang membuat kami cengegesan mengalir begitu saja,
Getaran-getaran yang diluar kendalikupun mulai terasa. Ketika ia mulai hilang dari pandangan mataku, aku mulai gelisah dan mataku menyisir berbagai pelosok untuk menemukannya. Ketika ia sudah mulai telihat, hatiku pun tenang.
Kedekatan itupun semakin terasa pada malam terakhir di Capolaga. Pelatihan yang kami ikuti disana ditutup dengan membuat api unggun. Kala itu, ia berada persis disebelahku. Saat api unggun sudah mulai meredup sebab susah terbakar lantaran semput diguyur hujan, aku memposisikan diri melindunginya. Diapun merasa nyaman bersamaku, kami berbicara dalam diam, dengan bahasa-bahasa isyarat.
Dipenghujung keberadaaan kami di Capolaga, aku memutuskan memberanikan diri mendekatinya, meskipun aku tak tahu mau bicara apa.
Tapi aku punya cara sendiri untuk mendapatkan yang aku inginkan, aku menyerahkan secarik kertas dengan tulisan pengalaman bersamanya selama di Capolaga, dan harapan bisa bertemu lagi, lalu aku meninggalkan email dan alamatku.
Kemudian, dia membalasanya, dengan menyertakan alamat rumah, nomor telepon seluler dan tulisan “Keep contact ya”. Di matanya aku melihat sinar sekaligus cinta, dan itulah awal dari cintaku padanya.
Noverius Laoli