Artikel

Catatan

Herumawan P A

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Asli wong Jogja. Pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Menyukai olahraga sepakbola, sedang belajar menjadi citizen Juornalism dan rajin mengirimkan tulisan ke berbagai surat kabar lokal maupun nasional.

Sepak Bola,Cinta Pertamaku


REP | 10 February 2012 | 18:40 Dibaca: 75   Komentar: 2   Nihil

Aku lahir dari keluarga baik-baik. Aku, anak sulung dari tiga bersaudara. Aku harus pula mengakui belum begitu banyak mengalami jatuh cinta. Pernah aku merasakan apa itu cinta sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar. Tapi kata orang, itu namanya cinta monyet. Entah yang disebut monyet itu aku atau dia hehehehehe. Pernah pula mengalaminya di bangku Sekolah Menengah Pertama. Tapi dasar, aku sendiri yang memang bodoh yang bisanya terus memandanginya dari kejauhan.

Lain soal dengan cinta pertama. Kalau ada orang yang bertanya kepadaku; “Ru, siapa cinta pertamamu”. Dengan tegas, aku akan menjawab; “Sepak bola”. Ya, aku mempunyai banyak pengalaman “cinta” dengan si kulit bundar ini. Sewaktu Sekolah Dasar, aku pernah di-gaprak atau istilah Indonesianya, ditekel tepat di mata kakinya (tumit) kaki kananku. Sakitnya luar biasa. Akibatnya, selama seminggu lebih kakiku ini diperban. Aku pun terpaksa tidak bisa masuk sekolah. Dan yang membuat sedih, aku tidak bisa bermain sepak bola. Oh, so sad.

Masih di Sekolah Dasar. Kecintaanku pada sepak bola pernah membuat aku menceploskan bola ke gawang sendiri alias gol bunuh diri. Mungkin waktu itu, aku terlampau sayang dengan bolanya jadi tidak rela kalau bolanya diceploskan lawan. Maka dengan ikhlas, aku sendirilah yang menceploskannya. Baik kan diriku hehehehehe. Tapi setelah pertandingan berakhir, aku langsung menjadi bahan makian teman-teman sekelasku. Tobat…tobat.

Kecintaanku pada sepak bola semakin memuncak ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kala itu, tayangan pertama sepak bola luar negeri pertama di layar televisi adalah Liga Italia. Stasiun televisi yang menyiarkannya yakni RCTI. Liga Italia atau dikenal dengan nama Serie A kian berkibar manakala ada satu pemain Indonesia yang merumput bersama Sampdoria Primavera. Namanya, Kurniawan D Y. Tapi aku tidak lantas menjadikan Sampdoria sebagai klub favoritku. Aku malah menjadikan AC Milan sebagai klub favoritku hingga sekarang. Karena pada waktu itu (sekitar tahun 1994), AC Milan menjadi salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan di Serie A bersama Juventus dan Parma.

Sialnya, Adikku nomor dua malah memilih Juventus sebagai klub favoritnya. Bisa ditebak, apa jadi kondisi di rumah kalau AC Milan bertemu Juventus? Pasti akan ribut dan ramai. Terlebih lagi kalau salah satu klub favoritnya ada yang kalah, bisa dipastikan akan bahan ejekkan. Entah sudah berapa kali terjadi saling mengejek klub kalau kalah diantara aku dan Adikku nomor dua? Mungkin sudah tidak terhitung lagi.

Di Sekolah Menengah Pertama, kecintaanku pada sepak bola tidak pernah surut. Setiap kali ada acara “Class Meeting” yang berisi perlombaan antar kelas yakni basket, sepak bola dan badmnton, aku pasti kebagian di cabang sepak bola. Dan sialnya, hampir pasti aku terakhir yang dipilih masuk tim. Pernah pula berperan sebagai anak gawang. Enak juga sih, hanya duduk melihat teman-teman berlari dan mengambilkan bola kalau keluar lapangan.

Berlanjut ke Sekolah Menengah Atas. Kecintaanku pada sepak bola agak mulai sedikit mengendur. Ini lantaran sekolahku tidak mempunyai lapangan olahraga. Sehingga setiap jam olahraga, harus berjalan menuju ke Alun-Alun Utara. Dan olahraganya pun hanya lari lalu bola voli setelah itu kembali ke sekolah. Tapi tetap saja ada kejadian lucu dengan bola. Ketika itu, sepulang dari berolahraga di Alun-Alun Utara, aku kebagian tugas membawa bolanya. Sewaktu melewati depan Sekolah Dasar, bolanya tiba-tiba meletus. Sontak, saya dan orang-orang yang ada disekitarnya terkejut. Seorang Guru pun muncul dari dalam Sekolah Dasarnya dan menanyakan; “Suara apa yang meletus tadi?”. Dengan muka merah, aku menjawab; “Itu suara bola yang meletus”. Untung, si Guru percaya dan masuk kembali ke dalam. Sementara, aku langsung ngacir sambil menahan malu. Peristiwa agak memalukan ini masih terus terkenang hingga sekarang.

Di Perguruan Tinggi, kecintaanku pada sepak bola bersemi lagi setelah sempat mengendur ketika SMA. Di sini, aku sempat merasakan “taruhan bola”. Hasilnya, aku pernah menang yakni ketika Real Madrid bertemu Juventus di semifinal Liga Champion 2003. Lumayan, aku mendapat uang Rp 6000. Padahal ketika itu, aku hanya bertaruh Rp 1000. Tapi setelah menang itu, aku tidak pernah memasang taruhan lagi. Lantaran temanku yang juga satu kampus itu sudah pindah jurusan.

Kecintaan pada sepak bola bukan hanya terjadi kepada saya saja tapi ke seluruh anggota keluarga saya. Pada waktu ada turnamen besar seperti Piala Eropa atau Piala Dunia maka setiap anggota keluarga pasti sudah mempunyai jagoannya masing-masing. Kalau aku jagokan Perancis, Adikku yang nomor dua itu jagokan Italia, Adikku nomor tiga jagokan Inggris, Ayahku jagokan Brasil dan Belanda sementara Ibuku jagokan Jerman. Bisa dipastikan betapa semaraknya situasi di rumah ketika berlangsungnya Piala Dunia atau Piala Eropa. Ah, benar-benar mengasyikkan dan menghibur.

Inilah sepenggal kisah cinta pertamaku pada sepak bola mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Ada suka atau duka. Tapi walaupun begitu, aku tetap mencintai sepak bola sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.

Salam Kompasiana.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: