
suka disenyumin orang bahkan saat saya sedang tak senyum. Katanya tak senyumpun saya seperti senyum. Akibat mata sipit yang seperti sipitnya orang2 yang sedang senyum. *** salam senyum ^_^
Dibaca: 105
Komentar: 10
1 dari 2 Kompasianer menilai bermanfaat
Tiga kata disampaikan dalam bahasa Jawa, “ojo digawe ruwet”. Pesan bapak via telepon beberapa waktu lalu. Bukan untuk skripsi yang tak kunjung tergarap atau kampusfobia lainnya. Pesan ini disampaikan sebab niatan silaturahmi yang tak terlaksana, tepatnya sengaja tak dilaksanakan.
Awalnya seperti biasa, saya bertanya kabar kesehatan bapak. Kemudian sebaliknya, bapak pun menanyakan kabar kesehatan saya. Lanjut, lanjut, posisi saya beliau tanyakan, pula skripsi dan rencana kapan diluluskan. Saya tengah menunggu jalannya bus di Tertonadi menuju kampung halaman sore itu. Mengundang bapak untuk bertanya,
Bapak: “setelah bule’ pulang haji dah maen ke rumahnya?”
Saya : “belum, Pak. Pulang yang dua minggu lalu mau maen ga jadi..”
Bapak: “kenapa ga jadi?”
Saya : “ada temen dari Ngawi, ga enak lo diajak mampir..”
Bapak: “diajak ya ga masalah kan? Pasti bule’ juga bakal senang dengan siapapun kamu datang..”
Saya : “lha… ga enak, Pak. Ga enak ma temen juga maksudnya..”
Bapak: “apa-apa itu jangan dibikin ruwet, biar ga jadi ruwet. Kalo kamu melegakan waktu, insya Allah bakal dilegakan juga semua-muanya..”
Saya : “iya, Pak..”
Dan bla, bla, bla. Hingga percakapan (yang sebenarnya dalam bahasa Jawa) saya tutup sebab bisingnya suara bis dan ramainya penumpang juga pengamen.
Sepanjang perjalanan menuju kampung saya renungi pesan bapak tersebut. Ojo digawe ruwet, ben ra dadi ruwet. Kenapa disampaikan saat percakapan tentang silaturahmi? Sedang untuk skripsi -yang tak kunjung selesai- tak ada pesan khusus. Padahal, bisa juga kalau diterapkan. Dan sudah lama saya terapkan untuk tidak meruwetkan diri dalam urusan kuliah. Yang saya maksud, stay cool, no kemrungsung, keep smile everytime ‘n every moment, walaupun nilai E diterima. Hahaha..
Penasaran. Sebelum pulang ke kampungnya kampus, saya “legakan” waktu untuk silaturahmi ke beberapa saudara. Benar-benar “melegakan” waktu. Posisinya malam itu saya baru pulang dari acara main-main bersama adik-adik. Lelah. Tapi tak apalah. Dua rumah saudara saya kunjungi malam tersebut.
Paginya, untuk menuju jalan raya, jalan pasar tidak saya pilih. Sengaja, agar lebih banyak saudara yang saya temui. Padahal, lewat pasar akan sangat menyingkat waktu. Karena jarak lebih pendek.
Tak hanya itu, perjalanan bus dari kampung ke terminal pun saya “legakan” terpotong di tengah. Berkunjung ke rumah bule’ yang ditanyakan bapak beberapa hari sebelumnya, walau hanya sekedar menyampaikan salam dan bercakap-cakap sebentar.
Benar-benar. Benar-benar ampuh nasehat bapak. Dari silaturahmi yang singkat-singkat tadi, uang saku bertambah nyaris separuh dari bulanan yang biasa dikirimkan.
Thanks Dad, sudah sering memang yang begini ini. Dikasih sangu saat silaturahmi. Tapi baru menyadari bahwa ini adalah (salahsatu) imbas dari kemauan untuk melegakan waktu; akan dilegakan pula segala sesuatunya. Opo-opo ojo digawe ruwet, ben ora dadi ruwet.
^_^