Artikel

Catatan

Julianto Simanjuntak

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Penulis, Terapis masalah keluarga dan kesehatan mental **Follow segera @JuliantoWita untuk mendapatkan FREE E-Book "Seni Pemulihan Diri", sarana self healing & Self-Counseling

Cinta Pertama yang Tak Pernah Gagal


REP | 09 February 2012 | 09:05 Dibaca: 574   Komentar: 9   2 dari 3 Kompasianer menilai menarik

13287534021337158042

Ill. From Google

**Julianto Simanjuntak**

Ini adalah kisah cinta Nurma (mama) dan Theo (papa). Cinta pertama memang berkesan luar biasa. Paling tidak itulah pengalaman Nurma.

Nurma boleh dibilang primadona di kalangan  muda-mudi di kotanya,  Aek Kanopan, yang jaraknya 7 jam dari Medan. Banyak cowok kesengsem pada kecantikannya. Selain kulitnya mulus dan berambut panjang, Nurma dikenal  ramah serta periang. Mungkin pembawaannya ini berkait dengan profesinya sebagai perawat di sebuah Rumah Sakit Perkebunan.

Jangan heran banyak pria mendekati si cantik Nurma. Ada tentara, asisten perkebunan, polisi, dan lainnya.  Semua berusaha merebut perhatian dan cinta Nurma. Orang tua Nurma juga terkenal baik di kota itu. Ayahnya Simorangkir seorang mantri dan mamanya br. Napitupulu yang perawat di rumah sakit.  Nurma punya banyak adik, bersaudara sepuluh orang. Lima pria dan lima wanita. Satu sisi kondisi ini  membuat ekonomi keluarga Nurma cukup berat.

Pandangan Pertama

Sehari-hari Nurma bekerja sebagai  perawat di sebuah rumah sakit. Nurma merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara pasangan Simorangkir-Napitupulu, yang juga seorang mantri.

Usia Nurma terbilang sangat muda ketika pertama kali jatuh cinta pada  Theo. Perjumpaan pertama mereka di rumah sakit, tempat Theo menjadi pasien. Nurma setiap hari melihat dan merawat Theo di bangsal, memeriksa tensi, membersihkan tubuh dan sebagainya. Bagi Nurma, pandangan pertama ini Theo mengguncangkan perasaannya.

Kata Nurma, pria yang satu ini tidak sekedar ganteng, tapi pandai mengambil hati. Gaya bicara, daya berkomunikasi dan humor Theo sulit ditemukan di kalangan pemuda di kampung mereka. Apalagi Theo suka bernyanyi-nyanyi kecil setiap kali Nurma menghampirinya, memeriksa tekanan darah atau memberikan obat.  Suara Theo merdu. Hati Nurma terasa membubung setiap kali mendengarkan lagu-lagu cinta yang disenandungkan Theo nyaris di dekat telinganya.

Theo sendiri saat bertemu  Nurma langsung simpati. Dia tertarik pada cara perawat muda ini menyapa, senyumnya  yang ramah. hingga ketelatenannya mengurus pasien. Keluar rumah sakit, Theo tidak mau membuang insting cintanya. Dia memberanikan diri pedekate, ke rumah idaman hatinya ini. Entah mengapa hatinya langsung lengket pada Nurma. Sesekali Theo membawa gitarnya. Sebab dia tahu  Nurma juga senang menyanyi. Klop! Inilah yang membuat hati mereka cepat terpaut. Tak heran  saat Theo menyatakan perasaan hatinya, Nurma langsung menerima. Inilah cinta pertama bagi Nurma. Juga Theo.

Selain suka suara Theo, Nurma kagum karena Theo bersedia membantu menyekolahkan adik-adiknya jika kelak mereka  menikah. Nurma melihat Theo serius mendekatinya, lalu memutuskan berpacaran dengan Theo. Ini tentu membuat pemuda lain iri, terutama Bang Galung, tentara yang sempat juga mendekati dengan Nurma.

Musibah Di Pesta Nikah

Setelah setahun pacaran, Theo dan Nurma menikah di Gereja. Berjanji akan setia dalam keadaan apapun hingga kematian memisahkan. Mereka terbilang menikah muda. Theo masih 20 tahun, Nurma 19. Selesai acara pemberkatan nikah, malamnya Theo  didatangi pemuda bernama Galung itu. Dia marah besar mendengar Nurma menikah dengan Theo.

Tentara muda ini sangat suka dan berjuang ingin merebut Nurma. Begitu berjumpa, dia langsung menghajar Theo. Akibatnya  badan Theo penuh luka, kupingnya robek terkena sabetan sangkur. Bahkan Theo sempat terjatuh ke parit. Dia terpaksa  opname di rumah sakit perkebunan akibat peristiwa itu.

Sejak saat itu Theo punya kebiasaan unik. Dia dan keluarganya selalu merayakan 12 Desember sebagai Hari Ulang Tahun Kuping, selain merayakan ulangtahunnya sendiri setiap 17 Februari.

Keluarga Panutan

Karir Theo di kepolisian tergolong bagus. Meski pendidikannya tidak tinggi, tapi dia sangat rajin, suka menulis, dan teliti. Selain itu Theo luwes bergaul. Itu sebabnya atasannya selalu menyukai Theo dan memakai dia dalam banyak kegiatan di kepolisian.

Theo juga mengikuti kursus di kepolisian. Salah satu yang dia ikuti adalah kursus bidang keuangan dan mendapat predikat siswa terbaik. Tidak heran karirnya melejit, sampai suatu hari saat pangkatnya kapten, Theo  ditunjuk menjadi Kepala Keuangan Polisi di sebuah kota. Meski sibuk selalu menyempatkan main dan ngobrol dengan anak

Nurma bangga, menjadi istri Theo. Apalagi saat Theo menjadi kepala keuangan. Banyak keluarga polisi di kota itu terkagum-kagum pada Nurma. Keluarga Nurma menjadi sosok teladan di lingkungan polisi saat itu. Nurman juga dikagumi karena menjadi contoh bagi ibu-ibu  Bhayangkari, seorang yang ulet dalam berdagang, dan dikenal  suka membantu keluarga yang miskin.

Ujian Cinta

Sejak muda memang Theo suka minum bir atau tuak. Tetapi sesekali di saat pesta saja. Namun sayang, di puncak karirnya Theo lupa daratan. Dia bergaul dengan banyak teman yang suka minum dan berjudi. Beberapa pengusaha yang dekat dengan Theo menjerumuskannya ke meja judi. Theo jadi akrab dengan alkohol.

Akibatnya Nurma frustrasi dan depresi. Dia makin tidak mampu merawat ke tujuh puteranya yang jarak usianya hanya setahun.  Nurma  sempat menyerahkan beberapa anaknya  diasuh kerabatnya.

Meski Theo makin kasar karena mabuk, cinta Nurma tidak berubah. Dia setia mendampingi Theo, sampai suatu hari kasus hukum menjerat Theo. Dia menggunakan uang negara di meja judi.

Setelah proses hukum, Theo diwajibkan mengganti uang negara atau masuk penjara.  Nurma sudah bertahun-tahun punya usaha  berjualan kelontong, suka menabung dalam bentuk tanah dan emas. Demi cintanya pada Theo maka Nurma rela  menjual emas sekaleng roti Khong Guan guna menebus Theo dari penjara.

Kesetiaan Cinta

Tahun 1975, Theo dipindah tugaskan ke Tapanuli Selatan. Karena kondisi tubuhnya yang sakit dan ekonomi keluarga morat-marit, Theo berhenti  minum alkohol. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membeli obat. Sementara Nurma tidak bisa berjualan,  dia fokus  merawat Theo dan mengurus ketujuh anak mereka.

Nurma berusaha tegar, sebab dia  sadar dalam kondisi inilah Theo sangat membutuhkannya. Nurma juga ingat akan kisah manis cinta mereka di tahun-tahun awal.

Suatu hari dia memanggil anak-anaknya, dan berkata:

“Mama akan tetap merawat papa dengan cinta pertama yang Mama punya. Cinta Mama tidak berkurang sedikit pun. Ini semua karena Papa kalian candu alkohol. Itulah yang merusak papa. Kalau Papa tidak minum, seperti awal kami menikah dan sekarang ini, lihatlah.  Papa kalian sesungguhnya sangat baik. Hanya sayang fisiknya kini sudah berubah, banyak sakit. Ingat,  Mama akan jaga dan rawat Papa kalian sampai Mama dipanggil Tuhan.”

Hanya setahun, Theo dipindahkan lagi  ke Medan. Anak-anak makin besar dan membutuhkan uang pendidikan. Nurma  memutuskan berjualan nasi soto dan  apa saja termasuk baju dan sepatu. Nurma  melakukan itu supaya bisa menambah biaya pengobatan Theo.

Hal yang menguatkan Nurma ialah, Theo banyak berubah. Pertobatan Theo di tengah sakitnya, membuat Theo kembali  menghargai Nurma, dan mulai rajin beribadah. Theo kembali peduli  pada  anak-anak. Meski ekonomi mereka terbatas, Nurma bahagia atas pertobatan Theo.

Cinta Pertama Tak Pernah Gagal

Sampai  suatu hari Theo didiagnosa kanker paru-paru.  Dia terpaksa dirawat berbulan lamanya. Nurma terpukul, sebab kondisi keuangan tidak memadai untuk membeli obat. Dia terus  berusaha berjualan apa saja, makin banyak isi rumah digadaikan.

Dengan air mata dan perjuangan iman Nurma melayani sebagai istri dan ibu.  Siang malam Nurma menjaga Theo di rumah sakit. Siang harinya dia sempatkan jualan, dan malam  kembali menjaga suaminya. Demikianlah sampai Nurma tidak sempat merawat tubuhnya sendiri.

Karena banyak pikiran dan sering telat makan Nurma terserang maag kronis. Ketika itu, Theo sudah koma di rumah sakit. Setelah beberapa bulan merasakan sakit maag itu,  Nurma terjatuh di kamar mandi  rumahnya. Lalu Nurma  di bawa ke rumah sakit terdekat, tapi sayang nyawanya tidak tertolong.  Nurma  meninggal dunia pada Minggu 17 Januari 1988.

Nurma  melaksanakan janji cintanya, setia merawat suami  hingga akhir hayatnya.  Lalu seminggu kemudian  Theo yang sudah koma selama satu bulan,  menyusul Nurma. Dia kembali pada Sang Pencipta  tepat di hari yang sama, Minggu, 24 Januari 1988. Betul-betul sehidup semati.

Warisan Cinta

Kisah perjuangan cinta Nurma menjadi catatan sejarah yang indah bagi anak-anaknya. Cinta pertama Nurma sungguh berkesan mendalam. Cinta pertama Nurma tidak pernah gagal, cinta yang merawat dan memberi kehidupan bagi suami dan anak-anaknya.

Sesungguhnya bagi kami, anak-anak Nurma dan Theo, warisan terindah sesudah mereka tiada adalah pengorbanan dan kesetiaan cinta Mama. Kisah cinta  yang dimulai dengan cinta pertama di sebuah rumah rakit tempat Mama bekerja.

Pelajaran lainnya adalah, alkohol dan judi sempat “merebut” Papa dari hidup kami. Jangan pernah menyentuh alkohol dan judi. Itu pembunuh cinta keluarga. Puji syukur kesetiaan cinta Mama membuat Papa bertobat, dan mengembalikan Papa dalam keluarga  kami.

Semua ini anugerah Tuhan yang tiada tara.

Bukan Cinta 1 Tapi Terakhir

Bang JS

Yang merasa beruntung bisa mengumpulkan kepingan-kepingan cerita cinta Mama.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: