
Seseorang yang sedang belajar, dan sangat memimpikan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo
Dibaca: 104
Komentar: 11
Nihil
Cinta
Ngomongin soal cinta memang tak ada habisnya. Dari kisah Romeo dan Juliet, Sam Pek Eng Tay yang beken karena kegigihan dan kesetiaan cintanya, sampai Shah Jahan yang rela membangun sebuah mosoleum megah untuk membuktikan cintanya kepada sang istri Mumtaz Mahal. Mereka telah melakukan berbagai cara untuk membuktikan cinta kepada pasangannya, walau terkadang harus merenggut nyawa sendiri. Yah, begitulah cinta.
Ilustrasi gambar dari google
Cinta memang anugerah, yang datangnya tidak bisa diduga dan sulit diusir saat dia datang. Pun demikian dengan cinta kepada lawan jenis. Cinta pertama begitu istilahnya. Cinta pertama identik dengan istilan Cimon (cinta monyet). Cimon umumnya dialami oleh semua remaja yang duduk di bangku sekolah (SMP atau SMA). Entah itu dengan teman sekelas, atau lain kelas dalam satu sekolahan.
Saat cinta pertama pada lawan jenis hadir, biasanya (cowok khususnya) akan selalu menjadi yang “ter” di mata sang pujaan hati. Di bidang akademik akan berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya. Bahkan kalau bisa yang terbaik di sekolahnya. Tak ayal akan mendorong semangat untuk lebih giat belajar. Malu sama “si dia” kalau sampai dapat nilai jelek. Di bidang non akademispun demikian adanya. Misalnya di bidang olah raga (seperti basket, sepak bola, atau yang lain) akan terus berusaha menjadi yang terbaik.
Dari segi penampilan juga sama. Semua akan berusaha memakai brand-brand yang up to date dan lagi ngetren. Berbagai perangkat gadgetpun tak lepas dari perhatian. Bahkan tak sedikit yang tidak melihat kekuatan dan kemampuan ekonomi orang tuanya bagaimana. Fashion harus yang lagi ngetren dengan label terkenal, gaya rambut juga harus yang terbaru, parfum juga maunya yang mahal (biar ga dibilang kampungan), semua hanya agar nampak selalu baik dan menjadi yang terdepan di mata sang pujaan hati.
Cinta pertama memang selalu menimbulkan berbagai efek, baik negatif maupun positif. Efek positifnya, jelas akan membawa dampak yang baik. Demi menjadi yang “ter” akan berusaha lebih rajin, lebih rapi, dan sebagainya. Namun dampak negatifnya, jika untuk menjadi yang “ter” tadi, tidak ditunjang dengan finansial orang tua yang kuat. Tak ayal mereka akan memilih jalan yang keliru, seperti berhutang, atau mencuri.
Itulah cinta, menyenangkan jika kita jaga dan kita pelihara
Salam cinta