
Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis
Dibaca: 193
Komentar: 6
Nihil
35 tahun sudah kami berpisah. Tapi entah bagaimana, secara rutin Tie hadir dalam mimpi. Kadang satu minggu satu kali. Bahkan acapkali berturut-turut dalam satu minggu dia datang dalam tidurku di setiap malamnya. Padahal dalam keadaan sadar aku tak pernah mengingatnya lagi. Apalagi sejak 27 tahun lalu, di sampingku ada pendamping yang selalu setia, ibunya anak-anak kami. Istri tercinta. Aneh memang.
Tie adalah seorang perempuan yang pertama kali menyentuh rasa paling dalam di hatiku. Yang telah membuat hatiku deg-degan tidak karuan setiap kali aku berpapasan di koridor atau di kantin sekolah. Dan yang membuat malam-malamku, saat membaca buku pelajaran yang tampak di setiap lembarnya bukan deretan huruf, melainkan raut wajahnya. Kerling matanya. Senyumnya. Ah, pokoknya segala-galanya. Tie memang telah merampas perasaanku .
Saat itu aku baru duduk di bangku kelas satu SMA. Sementara Tie sudah di bangku terakhir. Kelas tiga. Tapi walaupun begitu, aku sudah banyak memiliki teman, Termasuk siswa kelas tiga. Anak lelakinya, tentu saja. Terutama mereka yang termasuk ‘brandalan’ sekolah.
Ya, aku dikenal sebagai ‘jago’ minum dan ngisep ‘gelek’ memang. Tapi selain itu juga dikenal jagonya nulis puisi. Di lingkup sekolah tentunya. Idolaku WS Rendra dan Remi Silado.
Aku masih ingat. Dalam keadaan fly ketika jam istirahat, bersama kawan-kawan satu geng, juga teman satu kelasnya Tie, kungkapkan perasaanku terhadap gadis itu seperti penyair sedang bersajak. Sehingga mereka — teman sekelas Tie — pun jadi tahu, dan kemudian menyampaikannya kepada gadis itu, bahwa anak kelas satu naksir kamu. Begitu. Bahkan seorang di antaranya kemudian membawaku menemui Tie. Menyuruh kami untuk berkenalan.
Meskipun antara sadar dan tidak, hatiku terasa berdebar tidak karuan. Apalagi saat kami beradu pandang. Dia sepertinya menatap mataku dalam-dalam. Rasanya begitu menusuk dan dingin, bahkan sama sekali dari bibirnya tak ada kata terucap dan tanpa seulas pun senyuman. Bisa jadi saat itu Tie merasa dipaksa oleh teman-teman kami untuk berkenalan denganku. Dan aku tidak tahu bagaimana hati Tie saat itu.
Yang jelas perasaanku terhadap Tie semakin menjadi-jadi. Tapi di sisi lain ada perasaan ngeri. Tatapan matanya ketika itu seringkali membuat merinding sekujur tubuhku. Keadaan seperti itu membuatku semakin menjadi-jadi pula untuk teler bermabuk-mabukan. Ketika itu setiap ada permasalahan yang sulit terpecahkan, aku memang selalu melarikan diri untuk bermabuk-mabukan.
***
Entah bagaimana pula awalnya. Suatu hari Tie memintaku untuk datang ke rumahnya. waktu itu dia tidak ngomong langsung kepadaku.Tapi dengan menuliskannya di secarik kertas yang dititipkan pada teman sekelasku yang juga tetangga Tie. Seketika aku terlonjak. Sekaligus bertanya-tanya. Dalam hati, tentu saja. “Kamu harus datang. Ini kesempatan,” begitu kata teman yang mendapat titipan. Sepertinya dia tahu perasaanku saat itu.
Memang, malamnya dengan ditemani seorang kawan, aku bertandang ke rumah Tie. Selain Tie, teman cewek yang tadi siang memabawa titipan pun kelihatan. Syukurlah. Perasaan grogi pun sedikit mereda. Kami pun berkumpul di ruang belajar. Aku dan Tie duduk berdampingan, sementara teman kami di seberang meja. Tampaknya Tie demikian ramah, dan membuatku tak lagi resah.
Lama kami ngobrol ngalor-ngidul. Tentang segala macam kegiatan di sekolah. Tak lama kedua teman kami pamitan, mau keluar sebentar, katanya. Tinggallah aku dan Tie berdua. Dan aku kembali disergap gugup seketika. Apalagi ketika Tie membuka-buka buku catatan sekolah miliknya. Lalu dia menghentikan kegiatannya saat tiba pada lembaran tengah bukunya, kemudian sambil menatapku dia bertanya, “Ini tulisan kamu?” Betul itu tulisanku. Sebuah puisi untuknya yang aku tulis saat dia mengikuti pertandingan bola voli, dan tas sekolahnya dia titipkan kepada temanku yang tetangganya itu.
Untuk menghilangkan perasan gugupku, kuraih bukunya itu. Sesaat diam.
Kemudian dengan perlahan aku membaca puisi itu. “Ini umtukmu, maaf kalau aku menuliskannya tanpa seijin kamu,” kataku saat selesai membaca.
“Dalam keadaan sadar atau sedang mabuk waktu kamu menulisnya?”
Sesaat aku terpana. “Memang kenapa?”
“Ah, nggak. Tapi aku memang tak suka melihat kamu setiap hari kerjanya mabuk melulu…” katanya sambil menatapku demikian lembut. Sehingga aku sepertinya diberi nyali untuk berani.
“Jadi kalau aku nggak mabuk kamu akan suka sama aku?”
“Apa sih enaknya mabuk-mabukan begitu?” dia malah balik bertanya. Dan aku diam tidak menjawabnya.
“Kamu ini masih muda. Perjalanan hidupmu masih panjang. Ganja dan minuman keras itu merusak jiwa dan ragamu. .. Dan, dan kalau kamu memang suka sama aku, akupun bersedia menerimanya… Asal… Ya, kamu harus berjanji untuk berhenti dengan kebiasaan buruk kamu itu…”
Aku tercekat. Seakan tidak percaya dengan yang tadi dia katakan. “Sungguh kamu mau jadi pacarku?”
Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Tapi kamu harus janji dulu tidak akan mabuk-mabukan lagi, OK?”
Permintaan Tie bagaikan sihir yang begitu luar biasa ampuhnya. Ya, sejak aku dekat dengannya aku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku tidak lagi bersahabat dengan ganja dan minuman keras. Bahkan segala yang berkaitan dengan kedua barang haram itupun kubuang jauh-jauh. Aku jadi suka berolah-raga. Kegiatan menulis semakin kutekuni. Tie memang suka membaca tulisanku. Terutama puisi.
Sejak itu pula hubungan kami semakin dekat. Malahan kami telah mengikat janji, untuk melanggengkan hubungan kami. Sampai ke jenjang rumah tangga. Lucunya, kamipun telah mempersiapkan nama anak pertama yang nanti akan lahir. Arestiany. Diambil dari namaku dan namanya.
Setiap hari Tie kujemput untuk bersama-sama berangkat sekolah, Demikian juga pulangnya. Kalau kelasku kebetulan bubar lebih awal, aku menungguinya. Begitu juga sebaliknya. Sehingga semua teman sekolah tahu, aku anak kelas satu menjalin hubungan cinta dengan gadis anak kelas tiga. Termasuk para guru.
Kedekatan kami pun sudah diketahui orang tua kami. Tidak hanya aku yang sering datang ke rumahnya. Sebaliknya Tie pun hampir setiap minggu berkunjung ke rumahku. Orang tuaku senang menerima kehadiran Tie. Mereka pun sangat senang dengan perubahan yang terjadi pada diriku, anak tunggalnya, setelah aku dekat dengan gadis itu.
Ujian sekolah baru saja usai. Tak lama setelah pengumuman kelulusan, Tie pamitan untuk melanjutkan kuliah ke kota B. Dimintanya aku untuk tidak bersedih, dan terus bersemangat agar cita-cita kami dapat terlaksana kelak. Dan kamipun menjalin hubungan jarak jauh. Aku jadi akrab dengan tukang pos. setiap dua kali seminggu aku menerima surat darinya. Begitu juga aku mengirimi surat untuknya dua kali saban minggu. Isinya apa lagi kalau curahan kerinduan, ditambah dorongan untukku agar terus giat belajar. Kalau libur semesteran, barulah kami dapat bertemu. Dan setiap kami bertemu, dia selalu mengatakan kalau aku tampak semakin dewasa.
Tak terasa, aku telah selesai ujian. Aku ingin melanjutkan kuliah sesuai cita-citaku sejak dulu, yang juga disetujui Tie, yaitu masuk jurusuan publisistik. agar kelak aku bisa jadi wartawan. Semula aku berencana kuliah di kota yang sama. Agar dapat kembali dekat dengannya. Tapi di suatu hari seorang kawan datang sambil memberikan sepucuk surat undangan. Bacalah segera!” pintanya.
Astaga, Apa aku tidak salah baca? Di kertas undangan itu tertulis: Menikah Tie dengan… Dan kubaca dalam hati berkali-kali… “Betul, yang menikah Tie, pacarmu itu…” kata kawanku sepertinya dia tahu isi hatiku. Seketika kuserahkan lagi undangan itu. Lalu kuhidupkan sepeda motorku. Dengan suara mesin yang meraung keras, kupacu kuda jepangku membelah jalanan tanpa tujuan…
***
Sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kabar beritanyapun tak pernah aku dengar. Dan aku tidak tahu, dimana dia berada. Tapi entah bagaimana, hingga saat ini Tie selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Dengan setting masa lalu. Saat kami berdua masih bersama. Dan setelah aku terjaga, pikiranpun kembali teringat padanya. Hanya sebatas itu. Tapi cukup mengganggu, karena tangan istriku masih memelukku dengan mesranya…