Artikel

Catatan

Gibb

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

aku bersumpah bahwa aku adalah orang yang tak berguna | http://kilatpicisan.wordpress.com

Karya Terbaik yang Pernah Saya Baca


OPINI | 07 February 2012 | 14:35 Dibaca: 127   Komentar: 9   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

“]13285997471050344654

Pram, [etan.org

6 Februari, penggemar sastra Indonesia merayakan sebuah hari spesial yang disebut dengan PramsDay, yakni memperingati hari lahir Pramoedya Ananta Toer. Di media sosial seperti twitter, topik PramsDay ini berseliweran sepanjang hari, dalam wujud kutipan-kutipan dari buku-buku karya Pram.

Pram, seorang sastrawan Indonesia yang fenomenal. Gaya menulisnya realis, gamblang, tidak berputar-putar. Dalam karya-karyanya, ia sering bercerita tentang perjuangan manusia. Salah satu karyanya yang sangat populer, tentu saja, Tetralogi Buru.

Ada hal menarik Tentang Tetralogi Buru ini. Konon, buku pertama dalam Tetralogi Buru, Bumi Manusia, pertama-tama dikisahkan oleh Pram secara lisan! Pasalnya, ketika itu, Pram sedang menjalani masa pembuangan di pulau Buru, dan ia tidak diberi akses untuk menuliskan ide-idenya. Tapi begitulah, yang namanya ide, tidak akan bisa dibungkam. Sekalipun dilarang menulis, Pram masih bisa menceritakan karyanya itu secara lisan.

Masih soal tetralogi Buru, sejujurnya, sampai sekarang saya masih belum mengerti kenapa buku-buku tersebut sempat dilarang beredar. Padahal, yang saya baca dari tetralogi buru itu adalah, sebuah kisah yang sangat bagus. Sebuah roman dengan bumbu sejarah yang enak dibaca. Kisah perjuangan para pribumi untuk bangsanya yang bernama Indonesia. Dibalut dengan kisah cinta yang selalu berakhir dengan getir. Dahsyat lah pokoknya.

Dulu, Ibu sempat tersenyum kecut ketika mendapati buku-buku tetralogi Buru ini terdapat dalam rak buku saya. “Buku komunis”, kata ibu waktu itu. Oke, mungkin memang masih ada stigma itu bagi berbagai kalangan tua-tua kita. Pram, mungkin adalah seniman Lekra, saya nggak tahu, saya kan nggak mengalami jamannya. Saya tidak peduli semua itu. Untuk penulis fiksi brilian seperti Pram, kita sebaiknya memang mengesampingkan sentimen-sentimen semacam itu.

Ketika saya baca tetralogi buru itu, yah, saya sendiri tidak mendapati ide-ide komunisme didalamnya. Yang saya temukan malah semangat nasionalisme. Mungkin pikiran saya yang dangkal atau bagaimana, saya kurang paham. Yang pasti, menurut pendapat saya sendiri, sampai sekarang, Tetralogi Buru itu masih menjadi karya sastra Indonesia terbaik yang pernah saya baca.

Bagaimana dengan anda? Menurut anda, apa Karya Sastra Indonesia yang terbaik yang pernah anda baca?

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: