Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Chyput

"Berjuanglah demi orang yang paling kau cintai!" I always loving poems and all about stories Fiction selengkapnya

Kisah Malam Senin (Let it Flow)

REP | 06 February 2012 | 09:52 Dibaca: 650   Komentar: 2   2

Malam ini dini hari. Aku tak dapat terpejam sedikit pun. Aku pun memtuskan untuk mengadon bakpao berbalut cokelat bubuk. Uleni hingga kalist. Aku berleha di atas ranjang. Bertemankan si Berry cokelat ku. Bayangan cowok-cowok ku yang terpilih pun hadir menemani dan berbincang melalui bibir ku. Suara khas mereka masing-masing hingga jiwanya pula. Namun sungguh ku tak sanggup, ketika bayangan Vicco juga ada hadir menemani. Sosok pria cinta sejati ku yang pernah aku miliki walau sesaat. Sosok pria yang paling ku rindukan. Dekap nya, belai nya, kecup nya, tawa nya, hingga cumbu nya. Aroma nafas yang kurindukan, serta wangi parfum yang tak dapat ku hirup melalui bayang nya.

Vicco. Hanyalah nama istilah ketika ia berkuliah dulu. Tak tau siapa kah nama aslinya. Ia membisu bila ku tanya. Aku menyerah untuk memaksa. Biarkanlah Tuhan yang tahu hatinya. Aku bersandar pada tembok berlapis triplek. Dan dia pun di sana, menanti ku mendekap tubuh ku. Haru tangis menyeruak penuh dendam. Dendam hati bercampur benci.

Bayangan lain pun mendekat membelai. Namun tak satupun yang membuat ku tenang. Ku ketikkan serangkaian rasa ku ini pada posting kali ini. Bukanlah FIKSI yang sedang terungkap. Namun ini lah kisah di malam senin.

Pernah ku punya satu kisah. Ya. Kisah malam senin. Pertama kalinya kami kenal, di hari ke-dua setelah berteman facebook. Kami bertelponan dari 11 malam 5-7-09 hingga 3 pgi 6-7-09. Tanpa henti, tanpa putus. Cerocos ku tak terkendali. Sangat nyaman berbincangnya. Hati begitu yakin ‘Dialah Orangnya!’. Namun apa lah daya. Setelah penolakan itu malam pun menjadi kelabu. Tak ada lagi cinta, tak ada lagi perhatian nyata. Segalanya hanyalah kata-kata semu yang ia kirimkan lewat pesan hp. Tak tau di mana rimbanya, hatiku kian mendayung. Lelah hati tak pernah ia sadari. Menusuk relung jiwaku yang semakin rapuh dibuatnya.

Tak tau apa yang ku buat. Segalanya terasa sia-sia. Ialah yang kucari dalam penantian hidup. Kehidupan cinta ku. Semua nya ada padanya. Tapi hanya karena satu nafsu yang tentu ku tolak, ia berubah selamanya. Janji pun tinggal janji. Ia tak kunjung datang, untuk sekedar silahturahmi katanya dulu. Tak ada pesan, tak ada telpon. Facebook pun sudah diblokir. Twitter tak punya. Hanya satu yang harus ku lakukan. MELUPAKAN tanpa ku coba tuk melupakan nya. Biarlah semua mengalir seperti update an status fb ku di tahun itu. Let it Flow.

Jika kau hadir dalam wujud aslimu, barulah ku merasa tenang. Itulah yang ku ingin, itulah yang ku nanti. Ku bertahan demi cinta, meski tak dapat ku paksa. Biarlah rindu menemukan jawab nya. Palung hati mu tak kan pernah mendusta.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 8 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 9 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 10 jam lalu

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspada, Ancaman Katup Jantung Bocor pada …

Yuni Astuti | 8 jam lalu

United Kalah, Wujud Kerinduan Hairdryer …

Aristo Setiawan | 8 jam lalu

Kolaborasi Rasa …

Puji Anto | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Jadzab, Istimewa atau Abnormal? …

Mahrus Afif | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: