Artikel

Catatan

Fajar

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Menjejaki Bumi Sebagai Pinjaman

Dapatkah Menemukan Sahabat yang Tulus di Kompasiana?


OPINI | 04 February 2012 | 14:19 Dibaca: 176   Komentar: 34   2 dari 2 Kompasianer menilai bermanfaat

Beberapa hari terakhir, berselancar di laman Kompasiana terasa nyaman karena silang pendapat, tawuran “kata-kata” massa,  bahkan sampai menyentuh pribadi dan melenceng dari substansi tulisan tidak terlalu mencolok lagi. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan dari tahun-tahun yang telah lewat. Saat itu, Kompasiana menjadi narsis karena yang hangat dibicarakan oleh para kompasioner adalah issu rumah tangganya sendiri entah rubriknya, adminnya, dan kompasionernya sendiri. Hal ini wajar-wajar saja jika diteropong dari dinamika sebuah media baru yang pada dasarnya sedang mencari bentuknya yang khas. Namun, menjadi kontraproduktif ketika dalam dinamika ini lantas menuai banyak kontroversi yang berakhir mundurnya para kompasioner aktif dan produktif oleh karena merasa media ini tidak sehat lagi.

Banyak penulis yang dulunya aktif menulis dengan tulisan-tulisan bernas, sepertinya mulai jarang memperbaharui tulisannya, bahkan ada yang meninggalkan keanggotaannya. Ada yang memang masih mampir untuk sekedar ’say hello” demi menjaga tali persahabatan dengan sesama kompasioner. Ada yang menghilang dan menguap tanpa jejak. Demikianpun dengan kelompok-kelompok khusus yang coba dibangun di Kompasiana mulai ada yang hilang tanpa ada aktivitas. Tetapi ada juga kelompok-kelompok baru yang mencoba membangun persahabatan melalui tulisan dengan bendera kelompoknya. Namun, keberlanjutkan kelompok-kelompok ini pun rentan terhadap perpecahan dan akan bubar juga di kemudian hari, jika tidak ada komitment para anggotanya untuk selalu menjaga spirit kelompoknya.

Semua gonjang-ganjing internal di media ini tidak lantas membuat Kompasiana tutup karena kekurangan anggota. Pepatah “Mati satu, tumbuh seribu” pas juga untuk menggambarkan gejala yang terjadi di kompasiana. Setiap hari bermunculan anggota baru entah yang sekedar daftar untuk membaca dan bisa berkomentar, entah yang sekedar menumpahkan isi hati dan kepalanya di tulisan tanpa menambah jumlah sahabat di daftar sahabatnya; maupun yang rajin menulis setiap ada kesempatan, menambah sahabat, dan rajin mengunjungi lapak sahabatnya untuk sekedar membaca, meninggalkan jejak, dan berdiskusi atau curhat.

Dari sini saya belajar satu hal. Tidak mudah membangun persahabatan sejati apalagi dalam dunia maya. Dalam dunia nyata saja sulit, apalagi dalam dunia maya hehe. Karena itu, visi-misi kompasiana “berbagi dan terhubung satu sama lain” memang tercapai karena bisa menjadi fasilitator bagi para anggota untuk saling berbagi informasi, ide, dan pemikiran tanpa terhalang jarak, ruang, waktu, dll. Terasa sepertinya, Kompasiana bisa membangun persaudaraan sebangsa tanpa memandang aneka perbedaan yang ada dan dimiliki oleh para anggotanya yang tinggal di berbagai wilayah baik di Indonesia maupun mancanegara. Namun persaudaraan yang hendak dibangun ini memang memang tetap terbatas meski ada upaya-upaya pengelolah maupun anggota melalui berbagai cara dan peristiwa guna memperdalam relasi di antara para anggotanya.

Menyaksikan semua fenomena ini selama satu tahun dua bulan bergabung di Kompasiana berujung pada kesimpulan betapa sulit mewujudkan visi-misi “sharing and conected” yang tulus dan mendalam di antara para kompasioner. Apalagi sampai membangun persaudaraan, kekeluargaan, dan solidaritas semesta. Hal ini mengingatkan saya akan sebuah tulisan kuno dalam De Amicitia, buku karya Cicero yang saya sukai. Ada kata kata didalam buku ini yang membekas di benak saya “vera amicitia est inter bono” – artinya kira kira begini, “persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang baik (tulus).”

Saya sepenuhnya menyetujui yang dituliskan Cicero, bahwa persahabatan yang tulus adalah persahabatan yang dilandasi oleh sikap terbuka dan saling memahami tanpa berharap untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk dipuji, disanjung, atau karena adanya kepentingan tertentu. Sahabat sejati biasanya menjalin persahabatan dengan penuh ketulusan bahkan dengan perngorbanan, namun adakalanya menjadi retak atau rusak ketika ada kepentingan-kepentingan terselubung.

Ada ungkapan kuno, saya lupa siapa pencetusnya, yang mengatakan “hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aternum” - lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan - saya jadi tersenyum sendiri, betapa banyak kejadian seperti itu, terlebih lagi di dunia perpolitikan. Jangan sampai Kompasiana pun kemudian menjadi media yang dirasakan para anggotanya hanya eksis karena mengusung kepentingan yang abadi.

Meskipun begitu, saya yakin, teman-teman kompasioner, tidak memiliki sahabat-sahabat di media ini, maupun di dunia nyata semuanya memiliki semangat seperti itu, yang didorong oleh adanya kepentingan tertentu, akan tetapi memang berdasarkan cinta kasih dan ketulusan untuk bersama-sama tumbuh dalam keutamaan-keutamaan hidup.

Kehadiran sahabat dalam kehidupan kita, apapun alasannya, bukan untuk dicela dan dibenci, tetapi untuk dibesarkan hatinya agar bertumbuh dalam kebaikan. Untuk sampai pada proses ini pun memerlukan waktu untuk membiasakan diri atau melatih diri, sejujurnya saya pun masih sering kurang sabar. Padahal, saya selalu dinasehati, kalau ada hal-hal yang tidak enak atau ada perselisihan, perlu melakukan koreksi yang bersifat persaudaraan, bahasa kerennya corectio fraterna hehehe…. “Secreto amicos admone, lauda palam” - tegurlah sahabat-sahabatmu secara empat mata (diam-diam) melalui inboks, dan pujilah secara terbuka melalui shout atau komentar di tulisan sahabat.” Sikap dan semangat inilah yang perlu dipupuk dan dibangun di antara kompasioner di media ini. Saling hujat yang terjadi selama beberapa waktu yang lalu di media ini mengindikasikan bahwa para kompasioner lemah membangun etos ini dalam menjalin relasi dengan orang lain.

Pada dasarnya kehadiran seorang sahabat dalam kehidupan kita itu memperkaya dan meneguhkan, meski ada juga yang suka menggunting dalam lipatan.  Sikap benci atau cemburu dalam sebuah persahabatan merupakan salah satu bentuk meniadakan orang lain dalam kehidupan, sesama dianggap musuh – karenanya lalu dikucilkan - dibatasi ruang geraknya - lebih tragis lagi dianggap sebagai sebuah ancaman - parahnya lagi dilakukan diam-diam dibelakang.

~ Sahabat adalah dia yang mengetahui hal yang paling buruk tentang dirimu, tetapi masih mencintai engkau sebagaimana adanya ~ Seorang sahabat mengetahui segala sesuatu tentang diri sahabatnya, dan berusaha agar sahabatnya itu menjadi dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri - menjadi pribadi yang berkarakter, bebas, dan mandiri, karena hanya dengan menjadi diri sendiri maka manusia semakin mengakrabi keberadaanya yang autentik. Saya ingat bagaimana Horatius mengkritisi Portifirius pada jaman Romawi kuno, Horatius mengatakan – “kenalilah kebiasaan-kebiasaan aneh sahabat, jangan membencinya” - amici mores noveris, non oderis.

Relasi persahabatan memang seharusnya saling mendukung dan bukan mengkungkung, saling membebaskan dan bukan saling membebani, saling membangun bukannya meruntuhkan, saling menambal tulisan yang bolong dengan cara yang elegan bukannya dengan mencela pribadinya apalagi secara terbuka.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang

yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: