Artikel

Catatan

Agung Webe

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Agung Webe telah menulis 15 buku motivasi dan pengembangan diri. Melalui Training & Seminar pemberdayaan diri yang diselenggarakannya, Agung Webe mengajak untuk menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, profesional dan mandiri

Apa Yang Kau Banggakan?


HL | 04 February 2012 | 00:34 Dibaca: 489   Komentar: 21   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

13282969151056423709

ilustrasi/admin(shutterstock.com)

Hari itu, saya berbincang dengan seseorang yang menjabat sebagai ‘kepala’ di sebuah devisi perusahaan. Ia membawahi para Manager yang ada disana. Kami berbincang apa saja, dari topic management sampai kepada ‘kebanggaan’
Ia bercerita betapa bangganya dengan gelar manager yang ia sandang. Posisi tersebut dapat ia banggakan di depan anak-anaknya. Dengan bahasa kami yang lugas, ia mencontohkan bagaimana anaknya bertanya,
“Papa kerjanya apa sih?”
“Papa ini bos. Tuh liat papa itu duduk disana, punya anak buah banyak”
Walaupun perbincangan kami ini adalah bincang ringan, namun sungguh saya sedih dengan arti ‘kebanggaan’  yang sedang ia contohkan kepada anak-anaknya, atau kepada dirinya sendiri.
Ia memang sedang memberikan contoh kepada saya, tentang ‘benefit’ dari posisi manager, dan rasa bangga yang dimiliki ketika posisi itu dicapainya.

Sambil mendengarkan ia bercerita tentang ‘benefit’ tersebut, pikiran saya menghujam jauh di dasar-dasar pola pikirnya. Apa yang didefinisikan tentang kebanggaan tersebut?

Mungkin, karena saya adalah penulis dan juga saya memutuskan menjadi seorang Trainer dari self empowerment, ada paradigma yang berbeda. Bagi saya kebanggaan bukanlah sebuah posisi, namun sebuah karya!
Artinya, sangat ironis sekali apabila anak-anak saya belajar tentang kebanggaan dari orang tuanya tentang posisi pekerjaan. Sekali lagi, ini mungkin karena saya sudah menentukan ‘purpose of life’ tersendiri bagi kehidupan saya.
Saya punya ‘purpose of life’, saya menemukan ‘Intensi’ dari apa yang saya lakukan, dan juga saya melahirkan ‘Visi’ dalam perjalanan saya.

“Yang jelas, bagi saya, kebanggaan bukanlah sebuah pencapaian akan posisi jabatan.”
Saya akan bangga di hadapan anak-anak saya, ketika saya bisa memberikan contoh bahwa bapaknya bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, lewat buku-bukunya. Dan juga, ketika anak-anak saya pergi ke Gramedia, saya melihat mukanya berseri-seri saat mereka melihat bahwa buku bapaknya diserbu orang. Saya memberikan pelajaran bahwa dalam hidup kita harus melahirkan karya yang berguna dan bermanfaat. Apapun karya yang bisa kita hasilkan, maka lahirkan hal tersebut.
Dari rangkaian training yang saya selenggarakan, tidak semua training berbayar. Banyak juga training gratis yang saya selenggarakan. Disana, saya memberikan contoh kebanggaan bahwa dalam hidup kita senantiasa harus selalu berbagi.

Sahabatku, mungkin kebanggaanmu tidak sama dengan kebanggaanku. Kebanggaanku bukanlah sebuah posisi, kebanggaanku adalah sebuah tindakan nyata atas lahirnya sebuah karya yang bermanfaat dan inspiratif.
Untuk itu, bagi saya mungkin tidak perlu posisi manager untuk bisa melakukan semua itu, dan tanpa posisi apapun kita bisa melakukan hal-hal yang membanggakan.

Diatas segalanya, walaupun di atas kertas saya bukanlah manager, setidaknya saya bangga bahwa seminar-seminar saya, training-training saya, telah mencetak manager-manager handal di berbagai perusahaan.

Sekali lagi, apa yang kau ceritakan tentang kebanggaan akan posisi pekerjaan, bukanlah sebuah tujuan yang sedang ingin aku raih.
Namun setidaknya, apabila posisi jabatan yang ingin engkau banggakan, buatlah posisi itu memberikan manfaat dan kemajuan bagi karyawan yang sedang engkau pimpin.

“Apakah yang engkau banggakan, sudah benar-benar membanggakan dengan membuat orang bangga akan hasil nyata dari karya anda?”

Salam sukses!
Agung Webe
Follow twitter: @agungwebe
Training & coaching: http://www.agungwebe.net

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: