Artikel

Catatan

M Farid W Makkulau

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

a bibliofil, my email : mfarid_upeks@yahoo.com

Sekilas tentang Pangkep “Boledong”


REP | 02 February 2012 | 13:07 Dibaca: 163   Komentar: 4   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

13281596311621885652

Pangkep Boledong. (ist)

Tanggal 8 Februari nanti  Kabupaten Pangkep merayakan Hari Jadinya yang ke-52, suatu usia daerah yang terbilang singkat dibanding sejarahnya yang panjang, namun itulah kesepakatan / dan kesimpulan yang dilahirkan dari Seminar Sejarah Kelahiran Pangkep yang pernah diselenggarakan oleh DPD KNPI Pangkep pada Tahun 1986 di masa Bupati M. Natsir. Di usia Pangkep ke -52 saat ini mengemuka Pangkep “Boledong” sebagai logo hari Jadi.

Sebenarnya Pangkep “Boledong” sudah diperkenalkan saat penyelenggaraan PORDA XIV dan PORCADA II Sulsel November Tahun 2010 lalu, dimana Pangkep sebagai tempat penyelenggaran (tuan rumah) event olahraga tingkat propinsi tersebut. Setelah PORDA usai, ternyata logo Pangkep Boledong tetap diminati generasi muda Pangkep dan dijadikan kebanggaan ketika mengikuti kegiatan di luar daerah sampai saat ini.

1328159760328157509

Logo Hari Jadi Pangkep ke-52. (ist)

Saat itu Pangkep “Boledong” muncul atas prakarsa gambar Ahmad Anshari, S.Pd (seniman / perupa) tanpa kata “Boledong” yang menyertainya.  Kata “Boledong” adalah hasil diskusi singkat saya dengan H. Djamaluddin Hatibu  di ruang Bagian Humas Kabupaten Pangkep, merujuk kepada gambar “Bolu, Lemo dan Doang”. (Makassar : Bandeng, Jeruk, dan Udang). Pangkep Boledong adalah akronim dari Bolu, lemo, dan Doang yang juga mengandung arti “Bisa” atau “Mampu”.

Jadi, yang sebenarnya menjadi Penggagas / Inisiator “Pangkep Boledong” adalah :

- H. Djamaluddin Hatibu, Ketua Dewan Kesenian dan Pelestarian Budaya (DKPB) Kabupaten Pangkep / Penulis Buku, “Cerita Rakyat – Siti Naharira” dan “Kapten Pahlawan Laut”.

- M. Farid W Makkulau (Pemerhati Budaya, Penulis Buku “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep”).

- Achmad Anshari, S.Pd, M.Pd (Sekretaris Dewan Kesenian dan Pelestarian Budaya Pangkep/ Seniman dan Perupa).

Kini, Pangkep “Boledong” oleh Pemkab Pangkep, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pangkep mengakomodir Pangkep “Boledong” sebagai ikon pengembangan wisata agro di Pangkep, sebagaimana diungkapkan Drs Ahmad, M.Si, Sekretaris  ‎Disbudpar Pangkep bahwa, “Pangkep BOLEDONG  telah menginspirasi Dinas  Budpar melahirkan program GERBANG WISATA AGRO ‘BOLEDONG’ sebagai salah satu pilar dari 6 pilar pengembangan pariwisata (gerbang wisata) yang dikembangkan di Pangkep. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa  BoLeDong adalah 3 komoditi andalan Pangkep, yakni Bandeng, Jeruk, dan Udang. Tiga jenis komoditi ini menjadi icon produk wisata agro, dengan branding “the best Indonesian commodity”, urainya.

Dalam mendukung program Gerbang Wisata Boledong ini telah ditetapkan 2 sentra pengembangan destinasi, yakni Padang Lampe sebagai sentra Lemo (Jeruk besar) dan Tanarajae sebagai sentra Bolu (Ikan Bandeng) dan Doang (Udang). Ke depan kedua destinasi tersebut akan dibangun/dilengkapi sara/fasilitas pendukung, seperti untuk PadangLampe: Pintu Gerbang, pendopo, Toilet, Pusat Informasi Jeruk+fasilitasnya, Homestay, Kebun Jeruk siap “petik-olah-jual”, dan lain - lain. Tanarajae sendiri  disiapkan tambak siap “garap-panen” selain tentunya sarana penunjang sebagaimana di PadangLampe.

Produk wisata Boledong ini diestimasi akan menjadi target utama ‘Fieldtrip’ wisatawa MICE di Makassar dan ‘optional tour’ bagi wisatawan transit di Makassar dan Toraja. Kedepan diharapkan Kabupaten Pangkep dapat memacu pembagunan di semua sektor dan “mampu” mensejajarkan diri dengan kabupaten / kota yag sudah maju, baik di Sulawesi Selatan maupun di Nusantara Indonesia, yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.  (*)

Tulisan terkait Hari Jadi Pangkep :

Mengurai Sejarah Pangkep yang Bersahabat

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: