Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Frediyanto Hendrayani

Diam-diam menghanguskan.

Manusia Egois Dalam Berdoa

OPINI | 24 January 2012 | 19:01 Dibaca: 359   Komentar: 0   0


Suatu ketika saya membaca tulisan dari seorang teman mengenai pengalaman ia berdoa. Dalam tulisannya ia mengatakan bahwa dengan doa ia bisa mencurahkan isi hati dan pikirannya pada Tuhan. Dalam pengertian ini, teman saya yakin bahwa Tuhan pasti mendengarkan curahan hatinya karena Tuhan itu seorang pendengar yang setia. Sebenarnya banyak sekali orang yang mengatakan bahwa berdoa berarti berbicara kepada Tuhan. Manusia dan Tuhan mengadakan komunikasi. Manusia menyampaikan pujian, permohonan tentu saja lewat doa. Bahkan ada yang dengan penuh khusuknya memohon dan memuji.

Tidak dapat kita sangkal bahwa kita berdoa dengan maksud tertentu. Memohon dan memuji sebenarnya hanya bagian luar dari suatu maksud. Maksud terdalam dari masing-masing orang itu berbeda. Maksud terdalam itu menunjukkan bahwa manusia itu egois, karena manusia membawa maksud-maksud lain selain memuji dan memohon. Kalau dipikir-pikir hampir tidak ada orang yang berdoa dengan sikap tulus. Tulus disini dalam arti dia tidak terlalu mengharapkan bahwa secepatnya Tuhan akan mengabulkan doanya. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing apakah kita sudah berdoa dengan tulus pada Tuhan. Keegoisan manusia nampak pula dalam cara doa menggunakan kata-kata yang panjang dan puitis, seolah memaksa Tuhan untuk segera mengabulkan permohonannya. Mungki manusia berpikir “ah Tuhan kan maha mendengar, ya kita ngomong aja, pasti IA mendengarkan”.

Kembali pada pengertian doa yang adalah komunikasi antara manusia dan Tuhan. Jika kita berkomunikasi dengan orang lain, maka kita tidak hanya menjadikan teman bicara kita itu seorang pendengar yang setia. Setidaknya beri ia kesempatan untuk berbicara juga. Jika tidak maka anda akan dikatakan sebagai orang yang cerewet dan memonopoli pembicaraan. Apakah anda mau dikatakan demikian ? Komunikasi kita dengan Tuhan pun seharusnya demikian. Kita tidak hanya asyik merangkai kata yang panjang dan memonopoli pembicaraan tetapi, mari kita juga mendengarkan apa yang ingin Tuhan sampaikan pada kita. Memonopoli pembicaraan membuat manusia itu egois dihadapan Tuhan. Tetapi, Tuhan itu maha kasih. Ia tetap mau mendengarkan keluh kesah umatnya.

Manusia seharusnya rendah hati mau mendengarkan apa yang Tuhan inginkan. Manusia seharusnya mampu mendengarkan karena Tuhan telah memberikan dua telinga untuk mendengar, lebih banyak dari mulut yang hanya berjumlah satu. Yang terjadi dalam doa sebenanrnya terjadi juga dalam hidup manusia dan sesamanya. Banyak manusia lebih banyak berbicara daripada mendengar. Padahal dengan berbicara sebenarnya kita melempar keluar apa yang kita punya, sedangkan mendengar berarti kita memungut dan memasukkan apa yang belum kita miliki. Nah, mana yang lebih baik “melempar keluar atau memungut dan memasukkan sesuatu sehingga sesuatu itu menjadi bagian dari diri kita ? Setiap orang berkembang bukan karena ia melempar keluar apa yang ia miliki tetapi ia memungut dan memasukkan apa yang belum ia miliki kedalam dirinya. Mendengarkan berarti belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang guru yang berasal dari perancis “ menyadari diri tidak tahu adalah awal dari pengetahuan sekaligus keagungan.

Banyak orang besar dan bijaksana menjadi besar karena ia mau belajar mendengarkan. Dengan mendengar manusia menyatu dengan samudra pengertian yang maha luas. Berbicara mengahasilkan konflik tetapi mendengarkan menghasilkan harmonisasi.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Unik Menyeberangkan Mobil ke Pulau …

Cahayahati (acjp) | | 16 September 2014 | 14:16

Korupsi Politik Luthfi Hasan Ishaaq …

Hendra Budiman | | 16 September 2014 | 13:19

Kenapa Narrative Text Disajikan di SMA? …

Ahmad Imam Satriya | | 16 September 2014 | 16:13

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | | 16 September 2014 | 05:54

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 10 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Golkar Butuh Pemimpin Sekelas AL …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Ikan Mas Koki Dioperasi Untuk Angkat Tumor …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 8 jam lalu

Bukan Bagi-bagi Kursi, Tapi Bagi-bagi …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Pengacara Seribu Rupiah …

Mini Praise | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: