Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

K Arg

Riang, Gembira dan Ramah adalah sama pentingnya seperti Bernafas.

Jangan Pernah Melihat ke Belakang Lagi (Revisi)

OPINI | 19 January 2012 | 23:26 Dibaca: 371   Komentar: 0   0

Cukup adalah cukup rekanku! Bila semua akan mati kenapa harus menginginkan sesuatu yang

tidak akan pernah jadi milik kita.

Tahu dari mana sesuatu itu tidak akan menjadi milik kita? Sederhana, kita sudah pernah mencobanya, mencoba sampai titik penghabisan, mati-matian mempersiapkan diri kita dan

kita tetap gagal.

Percayai intuisimu sendiri karena itu lebih memuaskan daripada sekedar mengikuti jalan yang

orang lain tempuh.

Bila dihadapkan pada banyak pilihan, ambil tiga pilihan yang paling sesuai dengan keinginanmu. Pertimbangkan semua untung rugi, tujuan, dan jangan pernah mempertimbangkan masalah yang mungkin akan dihadapi. Pertimbangkan semua sampai pusing untuk mencapai tujuan, pilihlah yang paling memberikan kepuasan tersendiri dari yang terbaik (setelah dipertimbangkan matang-matang), kerjakan dengan tenang termasuk mengatasi masalah untuk

mengekspresikan diri.

Jangan pernah melihat ke belakang karena masa depan adalah sesuatu yang “real”, terjamah

dan masa lalu cuma dongeng. MAsa lalu cuma untuk menunjukkan cara begini pernah salah,

mungkin sebaiknya pakai cara begitu atau bila ingin memakai cara begini ada perubahan yang

perlu dilakukan.

MIND SETTING itu intinya. Ambil satu keinginanmu atau tujuan terbesar yang ingin dicapai dalam hidup. Runutkan ke belakang. Bagi semuanya dalam pikiran alam sadar dan bawah sadar.

Jangan melihat ke belakang karena masa lalu tidak memberikan hasil apa-apa. Starting from ZERO. Apa yang kita dapat sekarang memang adalah hasil perbuatan kita di masa lalu, tapi, maaf, itu tidak diperhitungkan lagi. Jangan pernah menjadi manusia masa lalu karena kita mati di masa depan.

Teruskan, pikirkan ke dalam alam bawah sadarmu. Pikiran alam sadarmu itu harus berupa metode yang dapat dilaksanakan.

Contoh, dalam skala kecil ialah menghadapi ujian. Tujuan akhir adalah nilai A dan semua tahu kalau orang pintar berhak dapat nilai A. Maka, jadikan pintar sebagai pikiran alam bawah sadar yang terus-menerus dipikirkan. Lalu, runutkan ke belakang bagaiamana caranya agar menjadi pintar? Belajar! Lalu, susunlah jadwal belajar yang bisa memberikanmu kesempatan untuk mengekspresikan diri.

Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Daripada susah-susah berusaha

mengubah kelemahan lebih baik kita terus meningkatkan kelebihan kita. Fokus saja pada kelebihan kita. Jangan berperang di medan perang yang kita pasti kalah. Berperang di medan

perang yang kita mungkin menang. Bila punya semangat, maka kita mungkin menang.

Semangat itu adalah panggilan hati.

Ternyata, aku harus mendeskripsikan ulang hidupku lagi.

-KARG-

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Tukang Ojek yang Membawa Perdamaian di Kota …

Uwais Azufri | | 27 August 2014 | 14:30

Artis Cantik Penginjak Bendera ISIS …

Den Hard | | 27 August 2014 | 12:26

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 10 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: