Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

K Arg

Riang, Gembira dan Ramah adalah sama pentingnya seperti Bernafas.

Jangan Pernah Melihat ke Belakang Lagi (Revisi)

OPINI | 19 January 2012 | 23:26 Dibaca: 355   Komentar: 0   0

Cukup adalah cukup rekanku! Bila semua akan mati kenapa harus menginginkan sesuatu yang

tidak akan pernah jadi milik kita.

Tahu dari mana sesuatu itu tidak akan menjadi milik kita? Sederhana, kita sudah pernah mencobanya, mencoba sampai titik penghabisan, mati-matian mempersiapkan diri kita dan

kita tetap gagal.

Percayai intuisimu sendiri karena itu lebih memuaskan daripada sekedar mengikuti jalan yang

orang lain tempuh.

Bila dihadapkan pada banyak pilihan, ambil tiga pilihan yang paling sesuai dengan keinginanmu. Pertimbangkan semua untung rugi, tujuan, dan jangan pernah mempertimbangkan masalah yang mungkin akan dihadapi. Pertimbangkan semua sampai pusing untuk mencapai tujuan, pilihlah yang paling memberikan kepuasan tersendiri dari yang terbaik (setelah dipertimbangkan matang-matang), kerjakan dengan tenang termasuk mengatasi masalah untuk

mengekspresikan diri.

Jangan pernah melihat ke belakang karena masa depan adalah sesuatu yang “real”, terjamah

dan masa lalu cuma dongeng. MAsa lalu cuma untuk menunjukkan cara begini pernah salah,

mungkin sebaiknya pakai cara begitu atau bila ingin memakai cara begini ada perubahan yang

perlu dilakukan.

MIND SETTING itu intinya. Ambil satu keinginanmu atau tujuan terbesar yang ingin dicapai dalam hidup. Runutkan ke belakang. Bagi semuanya dalam pikiran alam sadar dan bawah sadar.

Jangan melihat ke belakang karena masa lalu tidak memberikan hasil apa-apa. Starting from ZERO. Apa yang kita dapat sekarang memang adalah hasil perbuatan kita di masa lalu, tapi, maaf, itu tidak diperhitungkan lagi. Jangan pernah menjadi manusia masa lalu karena kita mati di masa depan.

Teruskan, pikirkan ke dalam alam bawah sadarmu. Pikiran alam sadarmu itu harus berupa metode yang dapat dilaksanakan.

Contoh, dalam skala kecil ialah menghadapi ujian. Tujuan akhir adalah nilai A dan semua tahu kalau orang pintar berhak dapat nilai A. Maka, jadikan pintar sebagai pikiran alam bawah sadar yang terus-menerus dipikirkan. Lalu, runutkan ke belakang bagaiamana caranya agar menjadi pintar? Belajar! Lalu, susunlah jadwal belajar yang bisa memberikanmu kesempatan untuk mengekspresikan diri.

Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Daripada susah-susah berusaha

mengubah kelemahan lebih baik kita terus meningkatkan kelebihan kita. Fokus saja pada kelebihan kita. Jangan berperang di medan perang yang kita pasti kalah. Berperang di medan

perang yang kita mungkin menang. Bila punya semangat, maka kita mungkin menang.

Semangat itu adalah panggilan hati.

Ternyata, aku harus mendeskripsikan ulang hidupku lagi.

-KARG-

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 10 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 11 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 12 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: