Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Choirul Huda

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan selengkapnya

Dampak Negatif Pagelaran Dangdut Pernikahan di Masyarakat

REP | 16 January 2012 | 06:55 Dibaca: 1412   Komentar: 54   5

Tembang Perahu Layar terdengar mengalun kencang dari suara seorang biduan di atas panggung. Sementara itu, di samping penyanyi tersebut berkumpul sekelompok pemuda sedang asyik berjoget dengan tangan kanan menyebarkan uang nominal lima ribur rupiah ke sekitar panggung. Mereka tampak semangat untuk mengeliliingi sang biduan yang jelita, sementara itu bau alkohol merebak di segala penjuru. Di deretan kursi paling depan, terlihat beberapa bocah kecil, baik laki-laki maupun yang perempuan sedang ikut menyanyikan lagu yang tenar pada tahun 2000 lalu.

Itulah gambaran yang saya saksikan saat menghadiri undangan pernikahan seorang kawan, di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Saya yang datang pada malam hari selepas Isya, awalnya melihat acara seperti layaknya hajatan pernikahan biasa. Namun sekitar pukul 21:30 wib, ketika kursi dan meja dirapikan, serta areal depan rumah Kawan saya yang Nikah dikosongkan, untuk menggelar “pesta” yang sesungguhnya dimulai, yaitu Dangdutan.

Saat saya bertanya dengan Kawan yang kebetulan sudah berganti dari pakaian manten dengan pakaian biasa, kalau kata orang di sekitar sana, mengadakan acara pernikahan kurang lengkap tanpa menampilkan hiburan dangdut seperti organ tunggal. Saya yang kurang begitu tahu dengan kebiasaan warga di sana hanya mengangguk sembari izin pamit untuk kembali ke rumah. Tapi karena ada beberapa urusan kerjaan yang tidak bisa ditunda, maka Kawan saya meminta waktu sekitar satu jam untuk menitipkan sesuatu pada beberapa kawan lainnya di tempat kerjaan.

Karena tidak enak menolak Kawan yang sedang punya hajat, maka saya pun menunggunya sambil menyaksikan perhelatan musik dangdut tersebut. Mulanya tampak aman-aman saja, namun ketika memasuki pertengahan tampak suasana semakin ramai dengan berdatangan banyak pemuda dari berbagai kawasan tersebut hingga areal panggung penuh sesak.

Saat melihat sekilas, wajah puluhan orang yang datang itu ada sebagian yang tampak sedang teler, atau (mungkin) habis meminum minuman keras. Dalam hati sempat berpikir, kalau keaadaan seperti ini terus pasti bakalan rusuh, karena kalau orang sudah terpengaruh dengan minuman keras maka bawaannya menjadi panas dan emosian. Ibaratnya adalah senggol dikit bacok.

Dan ternyata benar, tidak lama kemudian saat seorang biduan sedang menyanyikan sebuah lagu dangdut, tampak beberapa pemuda saling dorong di atas panggung. Saling baku hantam pun terjadi diantara mereka, sontak acara yang tadinya aman menjadi ricuh karena aksi mereka.

Bangku menjadi terbalik, gelas dan botol minuman terbang entah kemana. Suasana yang tadinya sakral saat pesta pernikahan berlangsung, berubah menjadi ricuh dan tak terkendali. Semua orang saling menyelamatkan diri, begitu juga dengan para biduan yang sedari tadi asyik menyanyi. Tampak beberapa anak kecil hanya bisa menonton, acara pertunjukkan yang mungkin mereka anggap adalah  seru layaknya tayangan Smackdown.

Untung keributan dapat segera dikendalikan, setelah turun beberapa ormas pemuda dan satuan perangkat warga yang turun langsung untuk mendamaikan suasana. Usut punya usut adalah keributan terjadi karena seorang pemuda tidak ingin biduan pujaan hatinya joget dengan pemuda lain tepat di atas pangung bersama mereka.

Ya ampun…

*   *   *

Sebab tidak enak hati melihat saya menyaksikan semua itu, Kawan saya yang melaksanakan pernikahan meminta maaf karena telah membuat saya kaget akan peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian seperti itu sangatlah jamak terjadi apabila ada suatu keluarga yang mengadakan acara organ tunggal atau dangdutan saat Pernikahan. Justru menurutnya, kalau acara pernikahan tidak mengadakan organ tunggal atau dangdutan, maka yang datang pada sepi.

Saya hanya bisa mengangguk serta mengucapkan terima kasih padanya dan tak lama kemudian segera pamit dari tempat tersebut. Miris juga, kalau kejadian seperti itu terus berlangsung bukan hanya di tempat kawan saya saja, melainkan di berbagai tempat lainnya. Sebab meski yang namanya hiburan, tetap saja harus di antisipasi oleh pihak keamanan mengenai banyaknya warga yang datang untuk menikmati musik dangdut. Karena kalau membebaskan ada beberapa pemuda yang joget sembari mulutnya bau alkohol, bisa menyebabkan terjadinya pertengharan dan menyulut keributan antar warga sekitarnya.

Belum lagi saat saya melihat dengan bebasnya beberapa anak kecil yang asyik menyaksikan goyangan dangdut dari beberapa penyanyi itu. Apa Orang tua mereka tidak khawatir kalau sang anak akan meniru gerakan dari penyanyi dangdut yang diatas panggung sangat sensual dan vulgar. Atau tidak takut apabila terjadi sebuah keributan yang meluas antar warga, maka anaknya yang tidak tahu apa-apa akan menjadi korban?

Semoga saja kejadian ini tidak menimpa kita dan keluarga di rumah…

*   *   *

1326646014321698560

Keributan yang terjadi karena salah paham

*   *   *

1326646093316320008

Beberapa anak kecil beserta Orang tua di sampingnya

*   *   *

13266461682076149219

Ironis, menyaksikan Hiburan bisa menjadi Kericuhan

*   *   *

Djembatan Lima, 16 Januari 2012 (00:50 wib)

- Choirul Huda (CH)

Tags: dangdut freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: