Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ella Zulaeha

Owner www.bursatasbranded.com

Menitipkan Orang Tua di Panti Jompo, Habis Manis Sepah Dibuang?

OPINI | 13 January 2012 | 06:27 Dibaca: 2048   Komentar: 46   4

13264352342048084870

Ilustrasi: Google Image

Saat menuju kantor, saya selalu melalui Jalan Cinere. Di wilayah itu terdapat sebuah panti jompo yang memiliki tempat cukup nyaman dan asri. Lokasinya yang berada mirip di lereng bukit itu memang sangat nyaman. Areanya cukup luas. Cocok sekali bagi mereka yang ingin menikmati udara segar karena terletak di perbukitan dan banyak pohon besar di lokasi itu.

Beberapa kali melintasi tempat itu, saya seringkali melihat perempuan tua berdiri di sana. Tatapan matanya kosong. Menerawang jauh. Hampa dan sunyi. Entah mengapa, hati saya sedih sekali menyaksikan pemandangan itu. Tak tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan renta itu. Mungkinkah ia sedang merindukan anak cucunya?

Terbayang wajah ibu saya. Bagaimana jika perempuan tua itu adalah ibu saya? Betapa tak berperasaannya saya yang tega menitipkan ibu saya di tempat itu. Sekalipun panti itu memiliki tempat yang nyaman dengan fasilitas lengkapi serta perawatan yang maksimal, namun tetap saja ia akan merasa asing berada di tempat itu.

Tak sedikitpun terpikirkan di benak saya menitipkan orang tua (ibu kandung) di panti jompo. Bagi saya, ibu adalah sosok yang harus saya rawat hingga akhir hayatnya. Bukankah dahulu saat saya kecil, ibu tak pernah menitipkan saya kepada orang lain? Saat ini ibu saya tinggal bersama kakak saya dan Alhamdulillah kondisi fisik dan psikisnya sangat baik.

Terbayang jerih payah ibu dalam membesarkan 4 orang anaknya dengan keringat dan airmata seorang diri Tak pernah sekalipun terucap kata lelah, jenuh atau bosan dalam mengasuh dan membesarkan kami. Setelah kami dewasa, hidup mandiri dan mapan secara ekonomi, pantaskah bila kemudian kami menitipkan sosok tua itu di panti jompo? Ya Tuhan, sungguh kejamnya kami. Semoga kami masih diberi kesempatan membahagiakan ibu di sisa hidupnya.

Panti jompo, bagi sebagian orang menitipkan orang tua mereka di tempat itu adalah hal biasa. Mungkin mereka berpendapat bahwa berada di panti jompo adalah justru kemauan dan kehendak orangtua mereka sendiri. Alasan utamanya adalah karena orang tua itu merasa kesepian saat ditinggal anak-anak yang sibuk bekerja. Kesepian? Helooo…. Kemanakah cucu-cucunya? Tak adakah seorang cucu pun yang mau menemani kakek dan nenek mereka? Bila mereka mapan secara materi, mengapa tidak menggunakan jasa suster untuk merawat orang tua mereka?

Apalagi bila kita melihat gaya hidup orang-orang Barat. Di Eropa dan Amerika, menitipkan orang tua di panti jompo justru menjadi bukti bahwa mereka menyayangi orangtua mereka. Mereka beranggapan di panti jompo, orang tua mereka akan terawat dengan baik, memiliki jaminan kesehatan yang maksimal dan memiliki banyak teman yang senasib. Karena itu bagi mereka bisa memperpanjang usia mereka karena dianggap berarti satu sama lain.

Namun ternyata tidak semua orang Barat berpendapat demikian seperti dugaan kita. Saya memiliki seorang klien. Sebut saja namanya Ayu. Ayu memiliki suami berkewarganegaraan Amerika Serikat. Mereka tinggal di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Saat saya berkunjung ke rumah Ayu untuk meminta tandatangan dokumen yang harus dilegalisasi. Di sana saya menyaksikan sendiri seorang perempuan tua tengah didampingi 2 orang suster. Perempuan tua itu adalah ibu mertua Ayu. Usia perempuan tua itu 94 tahun. Dalam hati saya sangat kagum atas pengertian Ayu yang mengizinkan ibu mertuanya tinggal bersama mereka di rumahnya. Ibu kandung Ayu juga tinggal bersama mereka dan dirawat oleh 1 orang suster.

Sekalipun bukan Ayu sendiri yang mengurusi semua keperluan sang mertua, namun perhatian dan kasih sayang Ayu terhadap ibu mertuanya patut diacungi jempol. Ayu dan suaminya tidak mau jika kedua perempuan tua itu dititipkan di panti jompo. Perempuan tua itu dirawat oleh 2 orang suster karena kondisinya yang sudah sangat kepayahan bila berjalan. Apalagi saat ke kamar mandi. Harus dipapah dan ditemani oleh 2 orang suster.

Menurut Ayu, kapan lagi ia bisa membalas budi ibu kandungnya di sisa hidupnya. Selain itu Ayu juga ingin menunjukan kasih sayang dan rasa hormatnya kepada ibu mertuanya. Sekalipun suami Ayu karena kesibukannya bekerja dan harus bolak-balik Jakarta - Newyork, namun prinsip hidup mereka yang tak ingin menitipkan ibu mereka di panti jompo patut menjadi teladan. Kita yang hidup dalam budaya ketimuran, seharusnya ingat bahwa kasih sayang ibu sepanjang jalan, haruskah kita membalasnya dengan menitipkan sosok renta itu di panti jompo?

Mungkin kisah mengharukan berikut ini pernah anda dengar. Konon di Jepang, pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya, sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Suatu hari seorang pemuda berniat membuang ibunya ke hutan. Ibunya lumpuh dan pikun. Ia menggendong ibunya menyusuri hutan. Sang ibu yang tidak berdaya semampunya berusaha menggapai ranting pohon kemudian mematahkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampainya mereka di hutan, pemuda itu menurunkan ibunya dan mengucapkan kata perpisahan. Sesungguhnya ia berusaha menahan sedih, namun ia tega melakukan perbuatan itu. Sang Ibu dengan tegar berkata “Anakku, ibu sangat menyayangimu sejak kau kecil hingga dewasa. Bahkan hingga saat ini rasa sayang ibu terhadapmu tak berkurang sedikitpun. Sekarang pergilah, ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat di jalan. Ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.”

Mendengar pesan sang ibu, si pemuda menangis histeris dan kemudian memeluk ibunya dengan erat. Ia  kembali menggendongnya dan membawanya pulang. Pemuda itu akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya hingga  ibunya meninggal dunia.

Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita, betapa cinta seorang ibu tak pernah terputus kepada buah hatinya hingga ajal menjemputnya. Tulisan ini semata-mata agar bisa menjadi renungan kita. Ingatlah bahwa kasih sayang orang tua kita kepada kita takkan pernah bisa kita balas dengan limpahan materi sekalipun. Kasih sayang tulus itu murni karena cinta dan kasih sayangnya kepada kita. Seorang ibu yang dengan sabar membesarkan janin dalam kandungannya selama 9 bulan. Mengurus dan merawat kita tak kenal waktu dan tanpa kenal lelah. Serta perjuangan ayah mencari nafkah demi bisa membiayai anak dan istrinya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pak Angin, Derita Pengamen Sepuh Jalanan dan …

Agung Soni | | 19 August 2014 | 23:04

Ada Apa di Papua? …

Petrus Pit Supardi ... | | 20 August 2014 | 06:12

Foto Payudara Jupe Dipegang Diego Michel, …

Ifani | | 20 August 2014 | 07:44

Situasi Keamanan Berwisata di Mesir: Rute …

Andre Jayaprana | | 19 August 2014 | 23:19

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 4 jam lalu

Sadarkah Anda Telah Mem-bully Anak Anda …

Seneng Utami | 4 jam lalu

Memprediksi Kepemimpinan Berdasarkan …

Rahman T. Hakim | 5 jam lalu

Analisis Kroco: Jelang Putusan PHPU oleh MK …

Sicillia Leiwakabes... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: