Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Paulus Londo

Aku bukan siapa-siapa

Asmara Gelap Di Tempat Kerja (1) Suamiku Terjebak Pelukan Atasanku

REP | 06 January 2012 | 07:22 Dibaca: 1791   Komentar: 0   0

Asmara Gelap Di Tempat Kerja (1)

Suamiku Terjebak Pelukan Atasanku

Sungguh aku tak menduga, kebahagiaan yang aku nikmati selama 23 tahun berkeluarga, nyaris hancur berantakan, justru oleh perbuatan seorang sahabat yang juga rekan sekantorku. Aku memang agak lengah, karena pikirku, keharmonisan rumah tanggaku, dengan anak-anak yang sudah besar-besar, otomatis akan terus terbebas dari godaan perselingkuhan.

O.. ya.. namaku Astiyanti, biasa dipanggil Asti. Aku menikah dengan Burhan, seniorku sesama satu fakultas yang aku kenal sejak masih dibangku kuliah. Pernikahan kami berlangsung tak lama setelah aku di wisuda. Saat menikah, Burhan yang sudah lebih dulu menyelesaikan studi, telah bekerja di salah satu BUMN.

Sejak kuliahm aku juga punya seorang sahabat, sebut saja namanya “Imelda” biasa dipanggil Imel. Dengan bantuan suamiku, aku dan Imelda akhirnya diterima kerja di BUMN yang sama. Imelda juga telah berkeluarga, suaminya seorang dokter di salah satu rumah sakit terkenal di kawasan Jakarta Barat. Anak-anaknya juga sudah besar-besar

Mungkin karena pandai mengambil hati pimpinan, perjalanan karir Imelda justru lebih cepat menanjak. Pada hal kemampuannya pas-pasan. Hingga pada satu ketika, Imelda dipercaya menjadi pimpinan pada divisi kami, dan dengan sendirinya ia jadi atasan kami berdua (aku dan suamiku). Sebagai sahabat karib, tentu kami berdua (aku dan suami) sangat mendukung promosi ini. Kami juga selalu membantu, bila ia menemui kesulitan dalam pekerjaannya. Hubungan kami bertiga selama ini baik-baik saja.

Tapi, segalanya berubah, ketika dari kantor pusat menugaskan pada divisi kami menangani sebuah proyek yang cukup prestius. Ini tentu menjadi tanggung jawab Imelda sebagai pimpinan. Karena aku yakin ia tidak mampu, maka aku menyarankan agar ia menunjuk suamiku sebagai pendamping dalam pengerjaan proyek ini. Konsekuensinya suami akan banyak berada bersamanya berdua-duaan. Dan itu memang tejadi.

Tepat 3 bulan proyek selesai, selama itu pula aku tidak curiga bila mereka berlama-lama di kamar kerja Imelda dengan pintu terkunci, ataupun pergi berdua. Hingga suatu hari, suami Imelda menemuiku dan bercerita bahwa selama ini istrinya berselingkuh dengan suamiku. Tentu, aku sangat terpukul, dunia serasa kiamat, meski aku sempat tak percaya mendengar ceriteranya. Tapi, berkali-kali suami Imelda meyakinkanku bahwa yang ia ceriterakan bukanlah gosip, tapi kenyataan. Ia dengan serius meminta aku menyadarkan suami agar menjauhi istrinya. Menurut ia, isterinya (Imelda) yang memang lebih agresif menggoda suamiku.

Aku sebisa mungkin bersikap tenang, dan seakan tanpa ekspresi aku tanyakan hal itu kepada suami. Awalnya, ia memang marah, dan dengan berbagai argumentasi ia menyangkal. Tapi setelah saya ceritakan apa yang disampaikan oleh suami Imelda, ia akhirnya mengaku bahwa ia yang terus-menerus “diserang” oleh Imelda, pimpinan kami, bahkan pada suatu ketika pertahanannya bobol, dan terjadilah apa yang seharusnya hanya dilakukan oleh suami – isteri.

Dengan menangis penuh penyesalan, suamiku mohon ampun kepada ku. Ia juga menyerahkan kepadaku apa yang harus dilakukan agar putus hubungannya dengan Imelda.

Karena kebetulan proyek sudah selesai, aku minta agar suamiku tak akan meladeni permintaan Imelda, –meski ia atasan—khususnya yang menyebabkan mereka bisa berdua-duaan. Sejak itu, suamiku hanya mengerjakan apa yang jadi tugas pokoknya, dan selalu menghindar dari Imelda. Ia selalu langsung pulang begitu pekerjaan selesai. Suatu hari, Imelda memanggil aku dan menanyakan kenapa suamiku sudah berubah, tak bisa kerjasama lagi. Tidak sepertu dulu selalu bersedia membantunya.

Aku katakan, suamik tak mau tergelincir untuk kedua kali. Imelda sangat kaget mendengar penuturanku. Tapi, dasar pintar bersilah lidah, ia berkelit. Menurut Imelda, itu fitnah dari orang-orang yang iri padanya. Bahkan ia menyarankan aga aku tak percaya 100 persen pada suamiku.

Tapi kujawab, yang mengatakan semua itu justru suaminya sendiri. Imelda tak dapat berkelit. Tapi lagi-lagi, dengan kelicikan ia justru membelokkan pembicaraan. Ia curhat padaku, minta dukungan mengatasi masalah suaminya yang dianggapnya “memble” lemah dan tak berwibawa sehingga ia tak cinta lagi.

Terus terang, aku justru dibuat kalang kabut oleh Imelda. Sejak itu, pikiran dan perasaanku menjadi tak karuan, campur aduk, antara marah dan benci tetapi sayang pada suami. Aku kasihan pada suami tapi ingin rasanya menyakiti hatinya untuk balas dendam. Rasanya, aku ingin berhenti kerja, tapi masih butuh uang. Lagi pula, sayang karir yang telah kurintis puluhan tahun.

Aku heran, kok ia bisa merendahkan suami sendiri di depan orang lain pada hal yang berselingkuh justru ia sendiri. Lain waktu, ia mengatakan bahwa suamiku suami sebenarnya yang berinisiatif dan ia cuma merespons, sehingga aku semakin tidak hormat padanya. Sudah tak becus kerja, tak mampu menjaga martabat sebagai perempuan, masih menjelekkan suami sendiri lagi.

Celakanya, aku juga sulit percaya 100 persen pada suamiku. Selalu ada kecemasan bila suami berangkat ke kantor, meski aku yakin suamiku sedang berjuang keras memperbaiki kesalahannya. Aku yakin, karena belakangan suamiku makin sayang dan peduli padaku dan anak-anak.

Sebenarnya, aku berharap suamiku bisa dimutasi. Bila perlu ke luar daerah atau ke luar negeri. Tapi, kapan ?

Dari hari ke hari, selalu ada pertanyaan menghantui pikiranku. Seberapa jauh hubungan asmara antara mereka berdua? Apakah mereka selalu berhubungan badan bila berdua-duaan?

Celakanya, belakangan Imelda semakin sering ngobrol dengan rekan-rekan kerja yang lain. Aku kuatir –karena “mulut ember bocornya” – yang juga membeberkan aib yang terjadi dengan suamiku kepada rekan-rekan kerjaku. Hingga saat ini, aku bingung melihat ulah Imelda, sahabat karibku sejak di bangku kuliah, rekan dan atas ditempat kerja yang selalu kedukung, tapi justru menjadi racun bagi keutuhan rumah tanggaku. (PL)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

B29: Medan Ekstrim Intip Keindahan Bromo …

Teguh Hariawan | | 01 August 2014 | 08:09

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 13 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 14 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: