Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Sandro Wangak

menulis bukan sekedar

Kami Orang Ile Ape, Bergigi Kuning

HL | 05 January 2012 | 20:52 Dibaca: 1532   Komentar: 29   2

————————————————–

Tanggal 3 Januari 2012 lalu saya membaca berita di Kompas.com, tentang status Gunugn Ile Lewotolok (Gunung Ile Ape-red) dengan judul Api Diam Terlihat di Puncak Gunung Ile Lewotolok menurut pengumuman Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status Gunung Ile Lewotolo ke level III atau siaga.

1325749356160648861

-kenangan bersama nenek Gabriela Koli (85thn) di desa Jontona, tahun lalu-sumber/doc pribadi.Sandro-

Berdasarkan pengumuman itu, masayarakat tiga desa di kaki gunung Ile Ape, mengungsi ke Lewoleba, Ibukota kabupaten Lembata. Masyarakat Tiga desa itu adalah, Desa Lamawolo, Desa Tokojaeng, Desa Napasabok, Desa Bao Laliduli dan Atawatung. Sementara Jontona dan Todanara masayarakatnya tak mau mengungsi. Nah..Jontona inilah desa kelahiran saya.

itu orang Ile Ape

————————–

Kita tinggalkan sejenak soal berita status gunung ile ape dan sedikit masuk ke chiri khas orang Ile Ape. Bahwa, tidak dapat dipungkiri kami orang Ile Ape memiliki chiri khas, gigi kuning. Gigi Kuningnnya orang Ile Ape, bukan karena malas untuk sikat gigi, bukan pula karena tidak memiliki pasta gigi semisal, Pepsodent, dan pasta gigi lainnya. Tetapi gigi kuningnya orang Ile Ape, karena dipengaruhi oleh kadar belerang yang ada di dalam air yang di minum oleh orang Ile Ape.

Kadar belerang itu berasal dari Gunung Ile Ape. Tak heran, kami yang lahir dan besar di kaki Gunung Ile Ape, pasti bergigi kuning. tidak semua gigi berwarna kuning-hanya gigi depan saja yang berwarna kuning. Secara logika, saat minum air, gigi depan itu secara otomatis menjadi filter atau penyaring, sebelum masuk ke mulut dan ditelan-sehingga gigi kuningnya orang Ile Ape, hanya di bagian depan saja.

Bila anda mempunyai teman atau sahabat, kenalan orang Flores. Coba tanya, asalnya dari mana. Bila dia bilang dari Flores-Lembata, dan kelihatan giginya kuning didepan maka tidak perlu tanya lagi, cukup bilang “kamu orang Ile Ape ya.?..kok tau..?..karena gigimu yang didepan itu berwarna kuning.

Selain mengandung belerang, air di Ile Ape juga mengandung kapur. Bila airnya dinanak sampai mendidih maka kapurnya akan kelihatan mengendap sampai ke dasar periuk. Ada juga orang ile ape yang tak bergigi kuning. itu disebabkan karena di rumahnya ada bak penampung air hujan.

1325749479564361681

-jalan masuk menuju desa Jontona-sumber.foc.pribadi/sandro-

Orang Ile Ape, baru menikmati Air PDAM (air Leding-sebutan orang Ile Ape) pada pada awal tahun 2000-an. Sebelum tahun itu, orang Ile Ape, mengkonsumsi air sumur yang mengandung kadar belerang dan kapur lalu menghasilkan orang ile ape yang bergigi kuning. Warga di dua kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur hampir sebagian besar masih mengkonsumsi air dari sumur yang mengandunf belerang. Air tersebut terasa pahit dan Asin. Rasa pahit karena mengandung belerang dari Gunung Ile Ape dan Asin karena letak sumur ini hanya puluhan meter dari pantai.

1325749900589529642

-pemandangan teluk desa jontona-foto diambil dari lereng heremura-doc.pribadi/sandro-

Saya sebagai orang Ile Ape, sudah sering mengkonsumsi air macam ini. Dan gigi saya juga sedikit berkuning. Saya dan semua orang Ile Ape mengaku meski airnya terasa pahit namun harus dikonsumsi. Adalah sebuah kebanggan sendiri, Air payau dan asin itulah yang menjadikan Daniel Hurek Making (Asal Desa Napasabok-Ebak) menjadi Wakil Walikota Kupang, juga Thomas Ola Langoday yang menjadi salah satu ahli Ekonomi tingkat Nasional, atau sebut saja Viktor Mado Watun yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Lembata, Ande Manuk, Mantan Bupati Lembata, Anton Buga Langoday Mantan Bupati Flores Timur, ada juga Kornelis Boli Balawangak, Kepala Program KPA Propinsi Batam, Laurens Lusi Hurek, wartawan Nasional di Surabaya masih banyak lagi orang Ile Ape bergigi kuning yang sudah menjadi ‘Orang’. Ketika ditanya mereka pasti bilang kami orang Ile Ape.

Pernahkah merasakan secangkir kopi diseduh dengan air asin …? cukup nikmat. Rasa nano-nano.manis asin-asin. Karena mengandung belerang dan kapur, maka ketika mandipun tak ada busa sabun. Ini benar…! ini nyata..!

13257495591950221374

-gunung ile ape dilihat dari lapangan sepak bola desa Jontona-doc.sandro-

——————————-
Ile Ape-secara harafia-dapat di mengerti sebagai gunung berapi, karena memang Ile Ape itu gunung berapi-ile berarti Gunung, Ape berarti Api. Ile Ape= Gunung Api. Di kaki Gunung Ile Ape, ada Desa Muruona, Laranwutun, Kolontobo, Petuntawa, Dulitukan, Tanjung Bahagia, Waowala, Amakaka, Bungamuda, Atawatung, Ebak, Mawa, Bao Laliduli, Lamatokan, Jontona, Todanara, Watodiri. Ile Ape saat ini di bagi menjadi dua kecamatan yakni Kecamatan Ile Ape dengan ibukotanya di Laranwutun dan kecamatan Ile Ape, dengan Ibukotanya di Lamatokan. Gunung Ile Ape, memiliki ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut.

13257496602124638915

-puncak gunung ile ape-gambar di ambil dari lereng bukit wolorebeng, desa jontona.doc.sandro

Menurut catatan, gunung Ile Ape sudah meletus sebanyak delapan kali sejak tahun 1660. Lalu meletus lagi tahun 1819, dua tahun kemudian yakni 1921 kembali meletus. Kemaudian pada tahun 1864, 1889 dan terakhir pada tahun 1920. Awal tahun 2012, aktivitas gunung Ile Ape, meningkat dari biasanya. Saya menyebut meningkat dari biasanya, karena sejak tahun 1920 sampai dengan tanggal 30 Desember 2012, Gunung Ile Ape melaksanakan tugas rutinitasnya seperti biasany. Biasanya ada lahar dingin yang meluap hampir setiap tahun dan menghasilkan galian C di Desa Jontona. Soal lahar dingin ini, bukan baru sekali atau dua kali, sudah berulang kali Gunung Ile Ape, memuntahkan lahar dinginnya melalui pinggiran desa Jontona [wangalarang-jalan banjir].

Membaca berita di Kompas.com, dengan judul Api Diam Terlihat di Gunung Ile Lewotolok, saya langsung share ke Facebook.com. Setelah share berita tersebut, saya lalu menelpon ayah saya Daniel Dasing dan mama Sasilia Suling melalui adik saya Basilisa Belojo Wangak, menanyakan kabar terkait status gunung Ile Ape tersebut. Berbincang sejenak lalu saya sengaja bertanya ke bapa, Kenapa tidak mengungsi..?

“ili mereti ili titeng. noke ata bete hala. Kalau noke bete pun, aku-aku hala. Ili, no tilu no mata, no iku no kote. Kame pari hala. Kame ie ori paere. Kai kiwa be bali.” Jawab ayah saya, Daniel Dasing yang diterjemahannya-gunung ile ape ini, nenek moyang kita. Dia tidak mungkin meletus lagi. Kalau memang dia meletus, dia tidak mungkin memakan korban. Kita lahir dari perutnya. Dia memiliki mata dan telinga. Jadi kami tidak mengungsi. kami masih di rumah dan saya baru pulang dari kebun (di lereng gung ile ape)..

13257497351675865757

-pemandangan pantai desa jontona dan Jontodanara, difoto dari lereng bukit ili lolon/doc.pribadi.sandro-

Memang masayarakat Ile Ape itu masayarakat adat, yang percaya dengan leluhur. Percaya dengan Lera Wulan, Tana Ekan. Percaya adat. Dan di masayarakat Adat Lewohala, ada clan khusus yang ditugas untuk menjaga alam, bukit dan gunung-gemunung, yang disebut Belen raya Ili wokak-Pembesar/raja gunung yakni suku/clan Lemaking woka lolong. Suku/clan Matarau di tugaskan untuk menjaga pantai agar air laut jangan sampai mengamuk/tsunami. Dan suku/clan adat lain juga memiliki tugas masing-masing.

Ile Ape di kenal kering dan kerontang. Musim hujan tak tentu. Beberapa tahun lalu, saat hujan tidak turun, tua-tua adat di bawa pimpinan suku Lemakin Woka Lolon sebagai belen raya ili woka, pergi ke gungung, melakukan ratapan, menangis dengan sungguh di pangkuan gunung Ile Ape meminta hujan. Dan terjadilah hujan. Hujan turun dari langit. Ini bukan dongeng..! ini adalah fakta. Fakta tentang kepercayaan adat.

Sungguh informasi ini membuat banyak orang takut. Tetapi tidak dengan orang Jontona dan Todanara. Hari ini, (5/1/2012), tetua adat di Desa Jontona, mendaki ke gunung untuk membuat Ritual adat di pangkuan mesbah Gunung Ile Ape. Sampai dengan saat ini, sudah disiapkan dua posko untuk menampung pengungsi dari Ile Ape ke Lewoleba. Posko pertama di Posko pertama di aula Damian dan posko 2 di aula kopdit angkara. Saat ini, masayarakat di desa Lamatokan, Ebak, Mawa, Atawatung, Bao Laliduli sudah mengungsi ke Lewoleba. Diperkirakan masyarakat 10 desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur diminta untuk waspada dan mengungsi.

“Kami sudah keluarkan imbauan kepada warga di sekitar gunung itu untuk waspada,” kata Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun

Dia mengaku pemerintah daerah sudah menerima surat resmi dari PVMBG terkait naiknya status gunung tersebut. Namun gunung itu masih terpantau aman dan tidak dirasakan adanya aktivitas kegempaan serta tidak tampak api di kawah gunung. “Tidak ada tanda-tanda aktivitas gunung yang luar biasa, masih tampak aman,” katanya.

Kepala PVMBG Dr Surono sebelumnya mengatakan pihaknya telah menaikkan status Gunung Ile Lewotolo dari aktif normal ke level III atau siaga. Kenaikan status itu setelah aktivitasnya meningkat sejak 31 Desember 2011 lalu. Menurut dia, terpantau api diam di puncak gunung tersebut dan gempa tremor terus meningkat. Karena itu, warga dilarang mendekati radius 2 kilometer dari puncak gunung itu. “Terhitung mulai 2 Januari 2012, pukul 23.30 WITA (atau 22.30 WIB),” menurut Surono.

Mengakhiri catatan ini, sebagai anak Ile Ape, saya bergumam dalam hati, Lewotana mo tilu, mo mata. Mo molu me wie rie koi, pure me keloa ere ruo wati- Lewotana tulu tede kame-[gunungku, gunung Ile Ape, Ile Ape ibuku, kuyakin Engkau memiliki mata dan telinga. Bila engkau ingin meletus, meletuslah sudah kemarin-kemarin, bila engkau ingin meletus, meletuslah besok-besok. Ile Ape, ibuku Lindungilah kami]…wasalam.!

13257498251680115724

-pemandangan pantai desa Jontona-doc.pribadi.sandro/-

——————————–

Denpasar, 5 januari 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 9 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: