
Ibu dari dua orang putra, ibu rumah tangga biasa yang bangga dengan profesinya sebagai ibu rumah tangga.
Dibaca: 310
Komentar: 24
2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif
Kalo ditanya apa resolusi saya di tahun 2012. Jujur saja saya tidak pernah membuat “target” atau perencanaan yang spesial atau bahasa kerennya no special expectation, tidak mengharap yang muluk-muluk. Karena itulah saya pun tak perlu menuliskan panjang lebar, apa planning saya di tahun baru. Sama halnya ketika ada seorang teman kompasianer kemarin menanyakan hal ini. Apa resolusi saya di tahun naga (katanya lho) ini dan apa refleksi saya setelah hampir setahun ini berkompasiana ria. Saya pun langsung jawab, saya tidak akan refleksi-refleksian (kalo pijat refleksi saya tahu hehehe) dan saya juga tak terlalu peduli dengan resolusi di tahun baru ini. Bagi saya biarlah apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali dan yang akan terjadi pun biarlah terjadi, mengalir secara natural. Bukan karena saya pasrah begitu saja, tetapi lebih pada kesiapan mental saya jika sesuatu hal yang buruk terjadi di kemudian hari. Tahun lalu saya jadikan tahun pembelajaran bagi saya agar tahun depan tidak mengulang kesalahan (kalo ada) yang sama. Simple bukan hehehe.
Saya juga tidak suka menarget sesuatu karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, jika target yang ingin saya rencanakan tidak tercapai, biasanya saya malah menyesal yang berkepanjangan. Saya cenderung menyalahkan diri sendiri, kenapa bisa gagal mencapai target itu. Ujung-ujungnya kepikiran, stress dan ini yang tidak saya inginkan. Masih untung kalo hanya strees, kalo lebih parah dari itu misalnya sampai bunuh diri, apa tidak malah nambah masalah. Mendingan menjalani hidup ini dengan enjoy, santai, tanpa beban. Jika target berhasil kita capai, hatipun akan senang. Dan jika sebaliknya, kegagalan yang kita temui ya tidak terlalu disesalkan. Yang penting sudah berusaha, sudah mencoba dan tidak perlu ngoyo, itulah prinsip saya. Wah sepertinya mudah ya? Lha hidup itu khan sudah susah, tidak perlu dibikin ribet lagi. Anggap saja jika kita gagal mencapai tujuan, ya itu hanyalah ujian atau teguran dari Tuhan agar kita berbuat yang lebih baik lagi. Percayalah Tuhan tidak akan menguji umat-Nya diluar batas kemampuannya. Jadi jika kita menemui jalan buntu, yakinlah pasti ada jalan keluarnya. Itu kalo saya lho.
Setiap orang pasti ingin hidup yang lebih baik. Bohong besar kalo saya pun tidak menginginkannya. Karena itulah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, sudah pasti itu. Tapi semua juga disesuaikan dengan kemampuan. Kalo sekarang mampunya makan satu piring misalnya, ya cukuplah segitu. Tidak perlu dipaksakan untuk menyantap dua piring hanya gara-gara ada promo “buy one, get one free”. Jika itu tetap dilakukan yang ada malah pencernaan kita yang rusak. Dan “ongkos” memperbaiki pencernaan yang rusak itu tidak sebanding dengan pengeluaran untuk membeli seporsi makanan tu. Apa tidak malah rugi bandar namanya. Enak tidak, sakit malah iya.
Jadi menurut saya tidak perlulah kita ngoyo ingin punya rumah yang harganya milyaran atau punya mobil Alpard di tahun depan, sementara orang juga tahu apa pekerjaan kita. Sudah jelas kerja sebagai PNS, itupun masih golongan 3A, lha koq punya rumah milyaran? Sudah bisa dipastikan diperoleh darimana tho semua itu. Syukur kalo dapat dari undian sabun cuci atau menang porkas (masih ada gak sih?), lha kalo dapatnya dari korupsi apa tidak malah jadi selebritis baru kayak Gayus hehehe. Tapi khan usaha tidak ada salahnya? Ya justru usaha itulah yang seharusnya kita lakukan, tapi usaha yang bagaimana dulu. Kalo usahanya harus melanggar pasal sekian-sekian atau malah harus pakai dimintai keterangan oleh KPK, ya nanti-nanti dulu. Usaha itu ya yang sewajarnya, syukur-syukur lurus-lurus saja, jika harus jalannya “ngronjal” atau tidak rata ya nikmati saja. Misalnya buka usaha warung makan bebek goreng kremes atau jualan brownies kukus, disamping kerja sebagai PNS golongan 3A tadi. Itu baru mantap. Jatuh bangun dipermulaan usaha itu wajar. Asal kita yakin dan tekun, insya Allah berhasil koq. Kayaknya gampang ya? Ya memang gampang, wong tinggal omdo alias omong doang hahaha.
Terus-terang saya penginnya begitu, menikmati setiap proses yang harus saya lewati dalam kehidupan saya. Makin ke depan, makin membaik. Tidak perlu muluk-muluk. Tidak perlu masang target yang tinggi-tinggi, pengin ini pengin itu. Tidak perlu saya tulis berderet-deret target saya ini, itu di tahun baru. Bagus sih untuk mengingatkan, tapi ya seperti yang saya bilang tadi. Saya paling tidak suka “matok” target. Biarlah target itu saya terapkan di kepala saya, biar fleksibel sifatnya. Siapa tahu nanti di pertengahan bulan tiba-tiba muncul ide brilian yang menguntungkan dan jalannya pun halal, why not? Khan bisa langsung saya laksanakan. Mosok gara-gara tidak sesuai dengan “target” yang sudah ditulis panjang lebar sebagai resolusi tahun baru, ada “sesuatu” yang lebih okey malah ditinggalkan. Daripada nulis planning macam-macam dan akhirnya di penghujung tahun planning ini tidak ada yang tercapai, akhirnya bikin status di FB “resolusi tahun 2012 saya adalah melaksanakan resolusi saya di tahun 2008, 2009, dan 2010 yang belum tercapai” What, jadi selama ini ngapain aja?
Yang penting bagi saya yang orang Jawa ini, semua saya jalani dengan alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal tercapai). Slowly but sure, be yourself, make a better and do the best…halah lengkap banget ya hehehe. Biarlah semua berproses, mengalir seperti air dan akhirnya sampai di muara hehehe. Sedikit curhat ya (lho itu tadi yang diatas bukan curhat ya? Bukan, cuman ngigau di tahun baru hehehe), tahun ini sebenarnya saya ingin mencoba keluar dari “zona aman” saya. Bagaimana tidak “aman” kalo tulisan saya biasanya hanya curhat-curhatan saja ala emak-emak (makanya saya masukkan ke opini). Namanya juga opini, suka-suka saya mau ngomong apa. Nah diawal tahun ini saya mencoba peruntungan “nasib” saya di dunia “khayal” hehehe. Apa itu, ya biar saya saja yang tahu. Yang jelas sebenarnya saya takut jika tidak mampu. Tapi daripada saya tidak mencoba, khan saya tidak tahu juga sampai dimana batas kemampuan saya itu. Hitung-hitung sekalian uji nyali, makanya saya nekad mencobanya. Saya percaya koq orang yang berada di zona “ketakutan” ini biasanya justru akan mampu berbuat yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Saya analogikan begini saja, misalnya kita takut sama pocong. Terus pas ketemu pocong beneran, apa yang kita lakukan? Lari, sudah pasti dan pasti larinya lebih kencang daripada kita lari karena jogging. Itulah yang saya maksud dengan kalimat ketika orang berada di zona ketakutan, biasanya cenderung berbuat lebih baik dari sebelumnya. Itulah yang tengah saya lakukan di tahun baru ini. Lho, apa namanya ini bukan resolusi, bukan planning? Iya sih, tapi tidak ngoyo. Kalo berhasil ya syukur, kalo tidak berhasil ya nggak masalah. Yang penting sudah berusaha, sudah mencoba. Daripada dibilang looser, mendingan bertarung dulu. Itu kalo saya lho. Berhasil atau tidaknya, pasrah saja sama yang Maha Kuasa. Pokoknya do the best and make a better.
Nah sebagai akhir dari curhat saya dia awal tahun ini, ijinkan saya (tak ijinkan Mbak Edi hehehe) mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012 untuk semua teman-teman kompasianer. Mudah-mudahan kesuksesan menyertai anda semua, amin yra. Mengutip kalimat indah dari seorang guru besar AS sana ya “Anda tak akan menginspirasi orang lain bila anda tak punya inspirasi” (Robert Reich).
NB : #inibukanresolusi, #inibukaninspirasi, #inicumancurhat