Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Eggy Armand

Mahasiswa Penuh Cita-Cita

Menuju Tanah Haram

OPINI | 03 January 2012 | 17:40 Dibaca: 56   Komentar: 1   0

Muslim mana yang tak ingin berkunjung ke Tanah Haram? belasan hingga puluhan juta pun akan dipenuhi demi menggapai harapan yang muncul dari hati terdalam. Kekuatan iman ini bisa membuat dunia seperti berhimpitan, jarak ribuan kilo ini dapat ditempuh dengan hanya tekad kuat. Ya, tekad yang sangat kuat. Orang yang oleh pemerintah dimasukan kategori miskin pun sudah banyak yang telah mencium Hajar Aswad di Masjidil haram. Lalu mengapa AKU tidak???

Sebagai seorang mahasiswa yang masih harus terseok-seok berusaha membiayai kuliah dan hidup sehari-hari, antara bisa makan esok hari dan bisa menabung untuk keperluan menyelesaikan studi, kenapa tidak mempunyai tekad kuat. Setidaknya ini harus AKU mulai sedari kini, menabung bekalku setelah mati. Menabung untuk keberangkatanku ke Tanah Haram.

Sebagai lulusan program IPA di madrasah aliyah, kekuatan hitungan perencanaan itu sudah kukonsep matang, dengan menyisihkan hanya Rp 100.000 saja dalam satu bulan, aku bisa mengumpulkan Rp 1.200.000 dalam waktu satu tahun. Jika untuk naik haji dibutuhkan biaya Rp 35.000.000 maka rencana naik haji akan kulaksanakan dalam kurun waktu sekitar 30 tahun. Cukup lama memang, namun setidaknya jika umurku kini 21 tahun, insya Allah AKU akan naik haji di usia 51 tahun, masih cukup kuat pikirku, semoga Allah masih mengizinkan aku hidup.

Atau bila kita punya rencana jangka pendek, dengan menunaikan Umrah 9 hari dengan kisaran biaya Rp 15.000.000 aku dapat menunaikan umrah dalam kurun waktu 12 tahun ke depan. itu berarti saat aku berusia 33 tahun, umur yang masih cukup dibilang muda.

Alangkah panjangnya penantian hamba mu ini ya Allah. Tapi seberapa lamapun hamba tak akan bosan berharap. Tapi tunggu dulu, ini belum termasuk resiko aku sedang tak mempunyai uang untuk menabung karena keuanganan pribadiku defisif, mungkin bisa lebih lama lagi, setidaknya sebelum AKU bertemu Malaikat Izrail tak apalah pikirku. Tapi hitunganku juga memasukan kemungkinan saat aku mempunyai rizki lebih banyak, mungkin aku bisa menabung Rp 200.000 atau bahkan Rp 500.000, alangkah senangnya diriku dapat memangkas waktu tunggu.

Kini dalam kurun waktu 6 bulan saja, alhamdulillah aku telah berhasil mengumpulkan Rp 1.200.000, berarti tinggal Rp 13.800.000 untuk umrah atau Rp 33.800.000 untuk haji. Semakin dekat dengan Tanah Haram satu jengkal setiap hari membuat mata ini cukup basah menahan haru.

Namun, jika melihat diriku ini, dengan potensi muda juga, alangkah bijak bila dapat mengantarkan orang lain terlebih dahulu untuk menuju Bandara Soekarno-Hatta, yakni kedua orang tuaku. setidaknya aku masih dapat menunggu giliran setelah mereka berdua. Tak apa menahan sedikti lebih lama, jikalau mereka dapat menuju ke sana lebih dulu, toh akupun akan merasa sudah mengunjungi Tanah Haram, karena doaku selalu bersama mereka berdua. Ya kini kuniatkan, memberangkatkan mereka berdua terlebih dahulu.

Rasanya butuh 4 kali lipat kerja keras lagiuntuk mewujudkannya sesuai dengan rencana, karena AKU tak ingin menunggu 3 kali lebih lama lagi.

Labaik Allahumma Labaik…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 14 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 21 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 22 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 22 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: