Artikel

Catatan

Linda

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.

Kenangan Sedih dan Menyeramkan pada 1 Januari


REP | 01 January 2012 | 20:58 Dibaca: 1278   Komentar: 36   5 dari 5 Kompasianer menilai inspiratif


Saya melongo. Mata saya kucek ke kiri ke kanan. Seakan tidak percaya pada penglihatan yang saya tangkap dari telefon genggam itu. Gila!  Pacaran putus lewat SMS. Sekian lama, begitu saja akhirnya? Gengsi saya sampai ke ubun-ubun, membuat saya rasanya tidak sudi menghubunginya langsung. Pilu saya sampai ke mata kaki. Lemas rasanya berdiri tegap. Saya bayangkan dia,  seorang duda tanpa anak yang tidak menetap di Jakarta.

Apa yang bisa menghibur saya?  Saya toh siang itu harus ke toko buku untuk kebutuhan besok memberi kado kepada seorang teman, yang sudah saya janjikan.  Saya tetap harus pergi ke Gramedia Pondok Indah Mal. Dalam suasana gundah gulana begini? Duh…!

Di mobil, saya sibuk menghapus air mata.  Sopir menanyakan berkali-kali, “Ke PIM kan bu?”   Saya hanya mengangguk tanpa kata. Tentu ia tidak melihat anggukan kepala saya, sehingga bertanya lagi, dan bertanya lagi.  Rasanya ingin saya tabok saja si sopir bawel yang sudah ikut saya tujuh tahun itu.  Ah, tapi itu kan bukan salah dia!

Buru-buru saya menghubungi sahabat saya, Dessy, yang tinggal tidak jauh dari Pondok Indah Mal.  “Cepaaaaaat…. susul saya ke PIM ya Des. Buruan…huaaaaaaaaa.. hiiiiks..,” jerit saya di telefon. Di PIM,  saya termangu di kasir. Air mata menetes satu persatu. Gila! Untungnya pengunjung tidak sebanyak seperti biasa, masih asyik tidur setelah tahunbaruan barangkali. Sialaaaaan…. sialaaaaan… teganya…teganya orang itu…!

Begitu Dessy datang, ia geleng-geleng kepala melihat mata saya yang sembab.  Lalu kami pergi ke salah satu restoran di luar PIM.  Kotak tisu saya sambar dari mobil, sebagai tampungan air mata saya.  Di restoran saya cuma menangis dan menangis.  Sengaja saya pergi ke lantai atas, dengan harapan agar tidak banyak orang dan tempat lebih sepi dari lantai dasar. Duh, ternyata di dekat meja saya ada Addie MS dan istrinya Memes dan kedua putranya yang saat itu masih kecil-kecil. Saya hanya menyapa mereka sekenanya saja, sambil buru-buru duduk dan tidak berminat menyalaminya. Malu, ketahuan lagi nangis !

Saat makanan dipesan,  di lantai bawah terdengar suara lelaki berteriak. Lalu pecahan kaca terdengar seru hasil bantingan.  Saya semula masih tak begitu perduli karena sibuk dengan luka dan urusan patah hati.  Lalu terdengar ribut-ribut lagi di bawah. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki gegap gempita.  Di ujung tangga adalah meja saya, dan  posisi  duduk saya betul-betul menghadap ke anak tangga.  Seseorang muncul. Tubuhnya tegap, pakai sepatu laars, membawa benda semacam pistol. Mampus!!  Saya tengok meja Addie MS,  tinggal dia sendiri. Rupanya Memes sudah duluan lari membawa kedua anaknya masuk ke kamar mandi di balik tembok. Hiiiiii…..!!!

Saya, yang memang sudah lemas, menjadi lebih lemas. Diam-diam tas yang berisi uang segepok yang baru saya ambil dari ATM saya luncurkan ke bawah kaki di kolong meja. Saya menganggap orang itu adalah perampok yang akan menjarah tamu. Dan si lelaki paruh baya itu kembali berteriak. Matanya melotot nanar ke arah kami, dan kembali membentak-bentak para pelayan yang berada di atas.  Botol minuman soda digebuk satu persatu dari rak. Saya tertunduk diam dan seluruh tubuh dingin gemetar. Bila ia menyerang, tentu sayalah duluan yang kena sasaran karena meja saya berhadapan persis dari tempat berdirinya.

Ya Allah…., saya bayangkan anak saya yang sedang kuliah di Australia, yang bertumpu biaya hidupnya dari saya. Bagaimana nasibnya bila ibunya celaka ditembak di tempat oleh orang gila itu?  Zikir saya tak lepas. Dessy sudah pucat pasi dan ingin menangis.  Seketika, hilang sama sekali kesedihan saya ditinggal pacar beberapa jam lalu. Yang saya pikirkan hanyalah anak saya, anak saya, anak saya! Ya Tuhan,  betapa cengengnya saya, kehilangan lelaki yang saya cintai bisa membuat saya lemah, padahal marabahaya sedang di depan mata. Bila terjadi apa-apa pada diri saya, bagaimana  nasib anak saya?

Saat itu betul-betul hitungan menit rasanya. Tiba-tiba lelaki yang mengamuk itu melemah, menurunkan senjatanya. Lalu matanya yang melotot ke arah saya ia alihkan ke bawah tangga, tubuhnya pun berbalik, dan…. ia turun lagi ke bawah.  Di bawah, rupanya ia sudah ditenangkan sekuriti lain, dan ke luar restoran. MasyaAllah…. betapa seramnya saat itu, dan betapa leganya saya dan Dessy, juga Addie, Memes dan anak-anaknya!

Rupanya orang itu konon adalah sekuriti yang stres dan tengah mabok,  yang mungkin ‘setengah eror’ dan bermasalah pada dirinya, dan tuntutannya kepada majikan di kawasan itu tidak dipenuhi. Air mata saya sudah kering, berganti dengan keringat berbutir-butir jatuh ke pipi.  Detik itu, saat itu,  hilang benar-benar musnah kepedihan saya putus cinta.  Apalah artinya seorang pria hilang, ketimbang nyawa saya melayang saat itu dan urusannya bisa menjadi panjang, anak saya bisa tidak meneruskan sekolah, dan sebagainya yang serba buruk.

Tuhan dengan segera memberikan jawaban bagi saya! Cinta abadi hanyalah cinta NYA, Kekasih terhebat bagi kehidupan, yaitu Allah semata-mata.  Mau musibah yang tiba-tiba muncul di depan mata dari orang yang mengamuk di restoran tadi, atau mau kehilangan pacar saja?  Ya tentunya mending kehilangan pacar doooooong….!

Dari kawasan Pondok Indah, saya menuju rumah. Tak ada lagi air mata. Tak ada kepedihan. Yang tersisa hanyalah mensyukuri perlindungan Tuhan yang segera datang dalam keadaan genting. Berhamdallah berkali-kali, sujud syukur, sambil sesegera mungkin saya mencoba menghubungi anak saya yang sedang dalam perantauan.

Si lelaki mantan pacar itu sampai kini ternyata sering heran, mengapa saya tidak sedikit pun tampak berduka setelah ‘diputusin’  olehnya. Malah akhirnya dialah yang panik dan jumpalitan. Hahahaaa….!!!  Kami masih sering saling menyapa dengan SMS. Sebagai abang adik yang pernah senang-senang bertukar pikiran dan kadang kami malu sendiri bercerita tentang ‘noraknya’  jatuh cinta kala itu. Tuhan memberikan hikmah besar dari peristiwa yang menyeramkan,  pada saat saya sedang berada pada situasi hati yang gamang sekalipun.  DIA telah memberikan pilihan secara segera !  Ibaratnya, mau klenger karena putus cinta, atau mau klenger karena ditembak orang mabok? (http://lindadjalil.com)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: