Artikel

Catatan

Kusuma Wardhani

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

writing is my passion.... don't hesitate to see my blog at: http://amiekusuma.wordpress.com Keep moving forward!!

Pohon Mangga Tidak Selalu Berbuah Mangga


OPINI | 29 December 2011 | 08:02 Dibaca: 121   Komentar: 4   Nihil

Judul di atas tentunya hanya sebuah metafora dari cerita yang akan saya sampaikan di bawah ini tentang karir, cita-cita dan takdir.

Sejak kecil saya percaya bahwa saya berperan dalam menentukan seperti apa takdir saya kelak. Kecuali jodoh dan kematian, saya yakin bahwa Tuhan selalu memberi pilihan-pilihan buat saya, dan saya harus bertanggungjawab pada setiap pilihan yang saya buat.

Pada penghujung SMA saya dihadapkan pada pilihan berat terkait pilihan jurusan di PTN. Waktu itu saya sangat gandrung dengan yang namanya tulis-menulis khususnya jurnalistik, saya sempat jadi wartawan cilik untuk kolom remaja di salah satu koran lokal. Saya yakin bahwa potensi saya ada di sana, saya suka berpetualang. Bahkan saya pernah membayangkan saya sedang berada di Aceh untuk meliput kontak senjata antara GAM dan TNI. Untuk mewujudkannya saya harus masuk jurusan komunikasi atau paling tidak jurusan bidang ilmu sosial padahal waktu itu jurusan saya di SMA adalah IPA dan tidak sedikit menyumbangkan medali olimpiade fisika buat sekolah (somse dikit lah ya…). Pada kenyataannya saya harus berbenturan dengan pendapat orang tua bahwa pekerjaan sebagai jurnalis atau wartawan atau apa lah namanya sangat tidak prospektif, tidak menjanjikan, tidak cerah dan lain sebagainya. Sebagai first born child, perempuan pula,  Ayah saya yang mengatakan bahwa untuk jadi wartawan tidak perlu harus masuk ke jurusan sosial, orang teknik pun bisa jadi wartawan. Sounds interesting… Saya pun menuruti apa kata Ayah saya. Saya pun diterima di jurusan teknik sipil sebuah PTN bergengsi di Jogja. Dan, mau tahu sekarang saya jadi apa? Saya jadi guru!!!

Menggeluti profesi guru sama sekali tidak pernah saya bayangkan. Lalu Pertanyaannya adalah kok bisa? Hmm…. ternyata teori ayah saya di atas tidak semudah yang dibayangkan, mengingat jadwal kuliah,tugas dan praktikum saya sangat ketat, maka aktifitas kejurnalistikan saya hanya berakhir di blog pribadi. Saya tidak sempat bergabung dalam pers mahasiswa, sesekali memang ikut training jurnalistik untuk media kampus tingkat jurusan, tapis saya merasa tidak punya ruang formal untuk mengaktualisasikan kegiatan tulis menulis saya. Sehingga, mau tidak mau, cita-cita saya untuk menjadi jurnalis terpasung di tengah jalan. Karena merasa sudah tidak bisa berkarir dan berkarya di dunia jurnalistik, saya banting stir mengejar karir di perusahaan tambang. Pasti sangat menantang. Saat itu saya sudah bekerja di sebuah konsultan kecil untuk bangunan air di Jogja. Mimpi bisa berkarir di dunia tambang pun sudah di depan mata ketika saya berhasil lolos dalam tahapan seleksi yang cukup ketat oleh perusahaan kontraktor minyak asing yang terkenal dengan warna birunya. Ketika wawancara sang HRD terlihat impressed dengan jawaban-jawaban saya, hanya saja di akhir wawancara beliau mengatakan bahwa “You know, we do not looking for the best but we looking for someone who are suitable to work with the company.” Saya cukup mengerti bahwa mungkin saya tidak cukup cocok untuk bekerja di sana karena saya terlihat sangat feminin. Hfth…. sejak saat itu saya tes dari satu company ke company lain….sampai-sampai saya hafal dengan jenis tes dan soalnya. Well, saya merasa ada yang salah dengan langkah saya.

Mencoba merenungi 22 tahun perjalanan hidup saya, ada satu benang merah yang saya dapatkan; bahwa saya tidak cocok bekerja secara formal, saya suka dengan hal yang tidak rutin dan tidak bosan, tapi saya harus tetap bisa menjaga prinsip saya terutama dalam hal pakaian. Saya mulai melihat ada secercah kesempatan untuk bisa kembali berkarya, tidak sekedar berkarir; Indonesia Mengajar. Saya sudah daftar online, tinggal menyiapkan surat rekomendasi, namun langkah saya harus terhenti karena kepergian Ayah saya. Mengingat saya adalah anak pertama dan adek saya masih kuliah, maka mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus tinggal di rumah untuk menemani Ibu, paling tidak selama 4 bulan 10 hari sesuai dengan aturan masa ‘iddah (masa menunggu bagi seorang istri yang suaminya meninggal) dalam agama saya. Sayangnya, saya tidak bisa diam, saya harus melakukan sesuatu, dan…Aha, di dekat rumah saya ada SMP swasta yang baru bukan dan butuh tenaga pengajar. Melihat peluang yang ada di sana saya tidak sungkan untuk mengambilnya. Inilah saat saya bisa menjadi diri saya sendiri. SMP swasta ini berbeda dengan kebanyakan SMP yang sudah ada, rata-rata pengajar di SMP tersebut adalah pengajar muda dan kurikulum yang dianut juga bukanlah kurikulum yang hanya berbasis pada mengajar dan diajar. Akhirnya saya merasa tertantang, awalnya pihak yayasan agak sedikit kaget melihat saya yang lulusan S1 melamar di SMP swasta baru, yang status akreditasi aja belum ada. Dan yang paling penting saya bisa menabung ‘amal’ untuk saya dan keluarga teruata ayah yang sudah tiada. Dari sini saya sangat bersyukur karena saya tidak diterima di perusahaan manapun, karena saya tahu bahwa niatan saya yang dulu sudah salah. Hanya untuk materi, sedangkan Allah lebih tahu bahwa yang kita butuhkan bukanlah materi tapi sebuah kebahagiaan yang sederhana. Kepuasan karena merasa tertantang, keluar dari zona nyaman, dan apabila sudah berhasil rasanya lega. Saya tidak peduli orang lain di sekitar saya mau berkata apa, lulusan S1,PTN terkenal,jauh-jauh ke Jogja eh ujung-ujungnya ngajar di SMP yang nggak jelas. No, bagi saya ini sebuah kejelasan. Ibu saya masih bilang “Cuma sementara lho ya, nanti kalau ada panggilan ya dicoba lagi”. Saya hanya mengiyakan, tapi dalam hati rasanya tidak ingin niat itu berubah lagi.

Pohon mangga memang tidak selalu berbuah mangga. Ikuti kata hatimu, apabila sudah terlanjur, jangan segan untuk melakukan perubahan.Sekarang juga!!!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: