Artikel

Catatan

Ouda Saija

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Telunjuk membimbing mata kepada rembulan, seperti kata-kata membimbing jiwa pada kebenaran. Tetapi telunjuk bukanlah rembulan dan kata-kata bukanlah kebenaran. Hidup adalah menyusun aksara menjadi makna.

Pada Ibu dan Kampungku


OPINI | 21 December 2011 | 10:38 Dibaca: 164   Komentar: 61   9 dari 10 Kompasianer menilai inspiratif


Pada selinang air mata doa, aku hanyutkan sebaris syukur dan maaf pada dinding perahu kertas. Berhanyutlah pulang pada ibuku dan kampungku.

Pada bibirnya yang tipis, Bunda lukiskan baris-baris mantra mengelus dahi dan alis bocah laki-laki kecil. Hanya kepada sang Bunda dia berpasrah. Hanya kepada sang Bunda dia berserah, mohon didoa-restui supaya tidurnya lelap bak orang mati.

Pada dengung marah sarang lebah si kecil bengal telah lemparkan batu. Hatinya bergetar gelepar dalam kejaran puluhan marah lebah yang memburu deru. Dan hujaman sengat-sengat dosa melepuhkan seluruh tubuh jiwanya. Hanya kepada sang Bunda dia berpasrah. Hanya kepada sang Bunda dia berserah, mohon didoa-restui supaya tidurnya lelap bak orang mati.

Dan jika sampai pada naasnya yang ke tujuh kali tujuh kali tujuh, dia akan sungkurkan jiwanya yang berpeluh pada kaki Bunda. Hanya kepada sang Bunda dia berpasrah. Hanya kepada sang Bunda dia berserah, mohon didoa-restui supaya tidurnya lelap bak orang mati.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: