Artikel

Catatan

Anazkia

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Berbagi buku, menebar ilmu dalam program blogger hibah sejuta buku. #HibahBuku #Blogger #TKW di Malaysia #KoplakYoBand #MiringUnite · http://www.anazkia.com

Tak Pernah Bercita-cita Menjadi Pembantu Rumah Tangga di Malaysia


REP | 13 December 2011 | 23:12 Dibaca: 926   Komentar: 135   14 dari 16 Kompasianer menilai inspiratif

“Makanya, jangan jadi pembantu di Malaysia”

Saya tergelitik dengan salah satu komentar kompasianer pada salah satu tulisan saya di kompasiana tengah hari tadi. Saya tersenyum ketika membaca komentar tersebut dan ringan saya membalas komentarnya,

“Ahahaha.. senangnya berkata demikian. Nggak punya saudara yang kerja di Malaysia, yah? Sayangnya yang menulis ini adalah seorang pembantu di Malaysia.”

Pembantu, kata-kata itu sudah lekat dengan saya ketika saya berusia tiga belas tahun. Yah, seawal tiga belas tahun saya sudah mulai menyusuri jalan demi jalan dan berdiam dari satu rumah ke rumah lainnya. Kadang kalau inget lucu apa, sih, yang bisa dilakukan oleh anak usia tiga belas tahun? Menyapu saja saya masih kagok saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu alhamdulilah saya mampu menjalaninya, bahkan dari kerja sebagai pembantu juga saya dipertemukan dengan majikan yang baik yang akhirnya menyekolahkan saya sampai jenjang Aliyah (SMU)

Nah, saat di bangku Aliyah kelas tiga, saya dan teman-teman pernah berbincang tentang masa depan. Sebetulnya, sih kami sedang berbincang “Ke mana setelah kami lulus?”

Untuk ukuran remis (remaja miskin) seperti saya, saya memang tidak mengukir mimpi untuk meneruskan kuliah. Di benak saya, hanya bagaimana setelah lulus nanti tak menganggur, termasuk teman-teman lainnya tentu saja.

Berbagai cadangan dan rancangan kami ucapkan.  Juga, tentang pekerjaan apa dan bagaimana yang tidak mungkin mereka (teman-teman saya) lakukan. Salah seorang teman berujar kalau dia nggak akan rela jadi TKW apalagi, sebagai seorang pembantu rumah tangga. Katanya lagi, di rumah sendiri aja sudah males, apalagi kerja di rumah orang.

Saya yang berada di tempat tersebut  termenung. Dalam hati, saya juga mengaminkan “ngapain jauh-jauh ke luar negeri, kalau mau jadi TKW apalagi, cuma sebagai pembantu?” Karena saya beranggapan profesi pembantu sudah melekat dan mendarah daging. Semenjak lulus SD sampai saya ke bangku sekolah menengah, masih itu-itu saja profesiku. Jadi, saya tidak ingin memilih perofesi PRT lagi apalagi, hanya sebagai TKW.

Lain di mulut, lain di hati, lain pula dalam kehidupan nyata. Tanpa dinyana, saya justru tersasar dan tersesat di negeri jiran, Malaysia. Sungguh tak ada niat, tak ada keinginan kalau saya akan ke Malaysia menjadi TKW dan lagi-lagi bekerja di sector rumah tangga. Ah, lagi-lagi pembantu.

Bukan perkara mudah ketika saya akan berangkat ke Malaysia. Seribu daya, seribu dalih dan bermacam-macam alasan saya utarakan ke ibu saya. Di mana ibu saya begitu keberatan dengan keinginan saya. Keberatan ibu saya tentu saja beralasan, banyaknya kejadian-kejadian buruk yang menimpa TKW dari Malaysia membuat ibu saya enggan melepas saya. Sampai akhirnya, izin itu saya dapatkan dari ibu saya. Ah, leganya…

Ada kalimat yang sehingga kini masih saya ingat sebelum berangkat, “Bu, ketika saya pulang nanti tinggal nama, mohon ikhlaskan saya.” Kalimat tersebut saya ucapkan sambil mencium tangan ibu saya, entah apa rasa hati ibu saya ketika itu. Betapa phobianya saya dengan Negara Malaysia ketika itu

Jum’at, 4 januari 2006 akhirnya saya menjejakan kaki di Malaysia. Mendarat di KLIA (Kuala Lumpur Air Port) Hiruk pikuk manusia berlalu lalang, sungguh petualangan baru buat saya saat itu. Saya kira, saya dapat dengan mudah keluar dari Bandara tersebut, nyatanya kesulitan-kesulitan awal mulai saya temui. Saya harus menunggu majikan untuk keluar dari situ. Mulai hari itu bertemulah saya dengan nama diskriminasi, orang-orang yang berteriak lantang, memandang kami seolah tak berarti. Yah, kami dikumpulkan di ruangan yang khusus penjemputan untuk tenaga kerja. Kami terdiri dari berbagai Negara, ada Indonesia, Filipina, Bangladesh, Pakistan dan beberapa lainnya.

Tapi saya beruntung, karena majikan saya menjelang maghrib sudah menjemput. Ada sebagian dari kami yang katanya sudah tiga hari berada di bandara tersebut tapi belum diambil oleh agen atau majikannya L

Akhirnya, sampailah di rumah majikan saya…

Besoknya, saya baru berbincang dengan majikan saya, tentang apa saja pekerjaan yang harus saya lakukan dan hal-hal yang tak boleh dilakukan juga tentang kesepakatan gaji. Sejak awal, majikan saya membebaskan saya memegang hape. Selain itu, majikan saya memberikan instruksi kalau saya tak boleh banyak bertandang ke jiran-jiran, saya juga tak dibolehkan keluar rumah seorang diri. Sebagai orang baru, tentu saja saya manut dan nurut. Lah wong mau keluar juga ke mana? Temen aja nggak punya? Tapi majikan saya kerap membawa saya ke mana-mana ketika pergi.

Setahun pertama, saya melewati masa-masa percobaan yang tak begitu sulit meskipun saya tak mempunyai  teman. Beruntungnya, sejak awal sebelum saya berangkat ke Malaysia saya sudah prepare diri kalau harus menguasai internet. Alasan itu sederhana saja, saya berpikir dunia internet cepat menghubungkan ke mana saja. Selain dunia internet saya juga mengantongi beberapa nomor telpon teman-teman saya yang bekerja di media. Lagi-lagi, saya masih belum terlepas dari phobia dengan Negara bernama, Malaysia.

Beruntungnya, ketika di rumah majikan saya boleh menggunakan akses internet yang ada. Bahkan, anak bungsu majikan saya kerap mengajari saya. Dialah yang pertama kali mengenalkan dunia maya lebih luas kepada saya.

Sampai menjelang tahun 2007, saya belum pernah keluar seorang diri dari rumah. Sampai akhirnya, 11 februari 2007 saya mulai keluar seorang diri meski masih diantar sampai stasiun kereta api dan kerap kali Ibu majikan saya selalu menelpon. Saat itu, passport juga belum saya pegang. Lambat laun, majikan memberikan kebebasan buat saya, membolehkan saya keluar seorang diri juga memegang passport. Anehnya, ketika majikan saya melakukan itu semua dengan tulus ikhlas, ada saja teman-temannya yang meragukan kepercayaan yang majikan berikan kepada saya. Dengan pesan, “hati-hati lho, sama PRTnya, jangan terlalu diberikan kebebasan,”

Atau terkadang ada kalimat-kalimat miring lainnya yang melibatkan personal dan identitas saya, “Si Anaz dibolehkan keluar karena memakai kerudung,” Ah, betapa piciknya kadang pemikiran manusia. Tentu saja bukan karena itu semua majikan memberikan kepercayaan kepada saya.

Tinggal dan bekerja di Malaysia, tentu saja menjadi istimewa, istimewa karena banyak hal-hal yang tidak saya duga sebelumnya. Phobia saya kepada Malaysia tentu saja meluntur dengan sendirinya, bukan berarti saya tak respect dengan kenyataan yang ada. Berita-berita yang selama ini saya lihat di TV tentang penganiayaan dan macam-macamnya kepada para pembantu rumah tangga membuka mata saya tentang hubungan pembantu dan majikan. Bahwa tak semua majikan yang ada itu jahat adanya, tak juga pembantu yang bekerja juga baik begitu saja.

Kini, sudah enam tahun saya bekerja dengan majikan saya. Ah, bertahun lalu, saya tentu saja tak pernah bercita-cita ke Malaysia apalagi hanya sebagai seorang pembantu rumah tangga. Tapi nasib membawa saya ke sini, tinggal dan mengenal Malaysia dengan segala keunikannya. Jadi teringat ibu saya ketika saya pamit mencium tangannya…

“Bu, berkat do’amu saya kini masih ada, tak juga nama, tapi juga nyawa saya.”

Tinggal di Negara orang, tak lagi  membawa nama orang tua, tak juga mencantumkan nama desa tak pula nama kota asal saya, tapi saya membawa nama bangsa, bangsa Indonesia. Di sinilah saya berperan sebagai diplomat atas nama anak bangsa, bukan sebagai diplomat wakil Negara. Kalau salah laku saya, kalau tersilap tindak saya, maka bangsa sayalah yang terkena imbasnya.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: